Sekolah Bukan Satu-satunya Membuat Orang Jadi Berhasil

Mengapa banyak orang yang gusar dan gundah gulanah menanggapi fenomena sekolah ataupun Perguruan Tinggi di Indonesia yang kini dipengaruhi oleh tantangan globalisasi, otonomi daerah, desentralisasi serta membludaknya pengangguran intelek yang cenderung mencari jati dirinya melalui berbagai ekpresi di jalanan, di parlemen, di lembaga sosial kemasyarakatan bahkan pada titik kulminasinya bermunculan berbagai nama partai politik. Disisi lain yang menjadi incaran serta ukuran keberhasilan manusia dewasa ini adalah HDI/IPM.  Dengan indikator yang tebatas dari sisi pendidikan, kesehatan dan daya beli. Namun sayang ukuran keberhasilan pencapaian pendidikan hanya diukur dari APK/APM dan RLS. Benarkah itu! tentunya perlu ada pengkajian yang mendalam.

Walaupun sudah ada berbagai kajian tentang perbandingan system pendidikan di beberapa Negara. Namun belum mampu menggugah hati nurani seluruh anak bangsa bahwa segala sesuatu keberhasilan sangat didominasi oleh akhlak dan karakter patriotik, nasionalis serta berperikemanusiaan. Namun dikarenakan berbeda antara behavior, attitude dengan eskpertise. Sehingga tidak tulus antara pengakuan hati dengan ucapan dan perbuatan yang nampak dipermukaan. Kendatipun semua tahu dan paham bahwa orang yang demikian termasuk orang munafik. Sedangkan orang munafik adalah akan menjadi bahan bakar neraka yang paling dalam.

Banyak orang berpandangan bahwa pendidikan itu penting bahkan di katakan Wajib. Tapi tidak sedikit orang yang tidak menghargai pendidikan. Yang sangat mengenaskan banyak suatu daerah yang mengedepankan visinya mengenai pendidikan. Namun ketika orang ingin mengikuti pendidikan malah dipersulit dengan berbagai rambu-rambu aturan yang menyesatkan. Bahkan tidak sedikit orang yang mengajukan izin belajar malah tidak diproses izinnya. Dengan dalih boleh diberi izin tapi tidak mengganggu tugas sehari-hari yang diemban seorang pegawai. Tetapi di sisi lain diakuinya bahwa keberhasilan program tergantung pada SDM. Tapi tidak sedikit orang yang sekolahnya tinggi dan sederet gelar di sandangnya. Tapi tidak diakui keberadaanya untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan Pembangunan.

Jadi disadari ataupun tidak , bahwa sekolah itu tidak satu-satunya media untuk menghantarkan orang bisa berhasil di Indonesia. Silahkan para pembaca merenungi dan kalau ada kesempatan atau ada sponsornya silahkan melakukan penelitian baik di Pemerintah, di Swasta, di Partai Politik, di Lembaga Kemasyarakatan, keagamaan ataupun di dunia bisnis dan hukum. Tidak sedikit orang yang sekolahnya tinggi tapi dipinggirkan. Paling banter menjadi staf ahli tapi keahlinnya tidak pernah diakui untuk dijadikan rujukan dalam pengambilan keputuasn atau dalam implementasi pemecahan masalah, apakah dibidang ekonomi, bisnis bahkan dibidang diplomatik. Yang ada adalah jadi nara sumber tontonan perdebatan yang tak melahirkan sebuah solusi yang jitu untuk memperbaiki behavior, atidude ataupun eskpertise. Para pakar di undang untuk debat kusir yang tidak membuka diri untuk perbaikan bersama.

Dari pemikiran penulis seperti itu mungkin saja banyak orang tersinggung dan membantahnya terhadap hipotesis tersebut. Namun sebagai kaum intelektual dan agamis perlu merenungi secara mendalam bahwa sekolah bukan satu-satunya membuat orang jadi baik akhlaqnya. Tidak sedikit orang bersekolah tinggi, tapi jadi buruan polisi, tidak sedikit orang bersekolah di luar negeri, tapi pemikirannya tidak mampu memecahkan persoalan bangsa, tidak sedikit orang bergelar tapi sehariannya hanya bertengkar dan beradu argumentasi untuk ditonton di media massa.

Dengan demikian harus mampu membedakan antara sekolah, pendidikan dan ilmu. Walaupun ada saling keterkaitan, namun semuanya bisa dibedakan.  Kalau sekolah itu hanya merupakan media untuk orang bisa mengikuti pendidikan formal. Pendidikan hanya merupakan sebuah media untuk orang mendapatkan ilmu. Untuk itu manakah yang lebih utama? Sekolah, pendidikan atau ilmu?. Dan mana yang paling agamis dan paling religi. Tentunya bagi orang Islam akan memilih ilmu karena banyak dijelaskan oleh alim ulama. “ man aroda dunya bil ilmi, man aroda akhiroh, man aroda huma faalaiha bil ilmi”. Jika menginginkan dunia yang gemerlapan ini harus dengan ilmu, jika ingin akhirat masuk surga tentunya dengan ilmu dan barang siapa menginginkan keduanya harus dengan ilmu.

Tentunya ilmu itu bisa diperoleh melalui pendidikan dan bisa pula diperoleh melalui pengalaman. Tergantung pada situasi apa yang mendominasinya. Sehingga bisa saja menemukan orang yang tidak mengikuti pendididkan formal, tapi mempunyai ilmu bahkan dikenal pula dengan istilah ilmu “ladunni”. Bagi orang sunda sering menemukan istilah Ilmu itu “bisa tinu daluang, bisa ti papada urang tapi moal mungkin tina bincurang” Mari merenungkan dan memelihara nilai-nilai lama dengan berupaya mengembangkan nilai-nilai baru.

Sayangnya istilah pendidikan dikenal dihadapan publik, hanya pada sekolah formal. Dan dianggap oleh pemerintah bahwa pendidikan formal, informal dan non formal hanya otoritas Departeman Pendidikan dan kini menjadi primadona Kementrian Pendidikan Nasional. Sehingga undang-undang Pendidikan nomor 20 tahun 2003 tentang sisdiknas diartikannya bahwa anggaran untuk Kementrian Pendidikan atau di daerah untuk Dinas Pendidikan harus 20%. Sehingga OPD lain yang menjalankan fungsi pendidikan tidak mendapatkan prioritas anggaran. Sedangkan dimanapun anggaran itu selalu terbatas. Anehnya bila ingin melakukan penelitan tentang biaya pendidikan selalu menadapatkan jalan buntu. Seolah-olah biaya pendidikan itu sudah merupakan kebijakan yang tidak bisa dijamah olah publik. Di sisi lain justru masyarakat mengejad bahwa sektor pendidikan merupakan OPD superbodi yang banyak mengelola uang. Sehingga pendidikan dianggapnya mahal.

Masyarakat sudah terobsesi bahwa pendidikan itu harus selalu di formalkan. Sehingga yang tadinya pendidikan nonformal jadi diformalkan. Yang tadinya pendidikan informal digiring menjadi pendidikan non formal.  Pemangku kepentingan menganggapnya bahwa PUS itu hanya untuk membiayai pendidikan formal nonformal yang dikelola Kementrian Pendidikan atau Dinas Pendidikan. Padahal bila dibuka secara mendalam justru yang paling berat itu adalah pendidikan nonformal dan pendidikan informal yang tumbuh dan berkembang titengah-tengah masyarakat atau di OPD selain Dinas Pendidikan. Namun seolah-olah pendidikan nonformal ataupun formal di luar Kementrian Pendidikan. Terutama yang dikelola masyarakat, dianggap tidak memerlukan biaya besar dan pendidikan informal tidak memerlukan biaya. Jadi wajar bila ada ketimpangan dalam pembentukan akhlaq dan pembentukan karakter. Yang lebih aneh lagi justru pendidikan yang diselenggarakan oleh swasta seolah-olah tidak boleh mengenyam subsidi dari pemerintah, tidak boleh merasakan pembangunan yang setara dengan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Akibatnya justru yang menikmati subsidi dan bantuan pemerintah itu bukannya orang miskin tapi orang-orang kaya yang mempunyai kesempatan mengikuti pendidikan di sekolah negeri ataupun di Perguruan Tinggi Negeri. Jadi wajar kalau ada fenomena yang kaya makin-kaya dan yang miskin makin miskin. Yang kaya semakin berkualitas dan yang miskin semakin terpuruk. Kalau sudah terlalu banyak yang terpuruknya ya wajar bila imbasnya menjadi beban pemerintah. Kalau sudah menjadi beban pemerintah ya wajar bila banyak orang yang tidak terdidik. Kalau sudah tidak terdidik mungkin jadi pembidik dan dibidik oleh dunia global menjadi budak belian yang istilahnya dikemas dengan nama TKW atau TKL. Justru dari TKW dan TKL itu menghasilkan devisa sehingga mereka dijadikan Pahlawan Devisa. Ya wajar kalau pahlawan itu berkorban dan dikorbankan.

Bila semua rakyat miskin bersatu dan berteriak membidik Pemerintah. Maka akibatnya pemerintah tidak akan mempunyai kepercayaan untuk memperbaiki sector ekonomi ataupun sektor kesehatan. Kalau ekonomi sudah tidak berkemampuan dan kalau fisiknya sudah tidak sehat maka berfikirnya bukan dengan ilmu tapi pasti dengan emosi dan dengan otot. Bila semuanya sudah menggunakan emosi pasti jadi bangsa cengeng. Kalau semuanya sudah berfikir dengan otot pasti selamanya jadi kuli dan preman. Kalau sudah semunya jadi kuli dan preman pasti tidak bisa berinvestasi karena dianggap bukan pemilik dan bukan pemengang saham Negara. Jadi nilai ukur dari HDI/IPM dirusak sendiri.

Dengan demikian coba dirubah bahwa nilai ukur keberhasilan suatu bangsa dan suatu daerah itu jangan HDI/IPM tapi harus dinilai dari akhlaq. Pendidikan penting tapi tidak harus dipaksakan diperoleh di sekolah atau di Perguruan Tinggi. Kesehatan itu penting tapi jangan terlalu dipaksakan bahwa sehat itu hanya harus dilakukan oleh medis/para medis. Daya beli itu penting tapi jangan hanya diukur dari laju pertumbuhan ekonomi tapi harus dari sikap konaah” saeutik mahi, loba nyesa”. Berjuang itu penting tapi jangan hanya untuk mengejar jadi borjuis untuk memperoleh hedonism. Yang harus dirubah itu adalah sikap malas dan berleha-leha membuang waktu hanya untuk berdebat. Tapi tidak mau melangkahkan kaki pertama. Padahal tidak mungkin orang itu bisa keliling dunia bila melangkahkan kaki saja enggan. Tidak mungkin orang itu berilmu kalau belajar itu tidak mau. Belajar itu tidak harus selalu di pendidikan formal atau di Perguruan Tinggi. Tapi bisa pula dari lingkungan sekitar kita.

Kalau selamanya orang berfikir formalistik dengan hanya bermodalkan selembar kertas berupa izasah tanpa diikuti dengan keterampilan dan sikap mental untuk menunjukkan akhlaq baik. Jangan harap akan merasa sejahtera. Pasti dirinya hanya mempersoalkan alat, bukan meraih tujuan dan cita-cita. Alat itu hanya sebuah media. Jadi kalau LPE di kejar, tanpa setiap orang merasa sejahtera dengan kemampuan dirinya maka akan terjadi ekonomi penggelembungan. Uang bukan lagi dijadikan alat tukar malah akan dijadikan sebagai komoditi. Jika gelar itu hanya untuk gengsi formalistik tanpa diimbangi dengan ilmu yang harus selalu di update maka tidak akan memberi manfaat. Baik untuk dirinya maupun untuk orang di sekelilingnya.

Penulis mengajak pada diri sendiri dan kepada  para pembaca “ perolehlah ilmu dengan belajar tanpa batas waktu sambil mengimplementasikan akhlaqul karimah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sebagai anugrah dari Allah SWT. Serahkan harta kepada Allah melalui zakat, infaq shodaqoh ataupun wakaf secara ikhlas berdasarkan ilmu dan kemampuan yang telah dimiliki. Melangkahkan kaki menuangkan pemikiran dan mengeluarkan harta hanya dengan mencari ridho Allah SWT. Maka hanya Allah yang akan membalasnya”. Jika hanya mengharap balasan dari orang yang pernah dibantu maka sampai kapan pun tidak akan pernah datang pembalasan. Yakini bahwa apa yang kita tanam pasti  itu yang akan kita petik. Hindari menyalahkan orang lain dan menyalahkan diri sendiri. Karena semuanya telah diatur Allah SWT bahwa dunia ini untuk dinikmati dan dipertanggungjawabkan diakhirat kelak.

Dipublikasi di pendidikan | Tag | Meninggalkan komentar

Pembinaan Karakter Sejak Dini

Perlu dipahami bahwa manusia lahir ke alam dunia ini tidak tahu apa-apa “ wallahu ahrojakum mimbutunikum ummahatikum lata’lamuna syaia”. Berarti peran orang tua sangat menentukan masa depan anaknya. Apakah mau jadi baik ataupun mau menjadi orang bandel, nakal bahkan menjadi penjahat sangat ditentukan oleh stimulus yang diterima secara evolusi dalam kehidupan sehariannya. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh KH.Mahmud Mudrikah Hanafi saat memberikan ceramah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Mesjid Agung Kota Sukabumi tanggal 21 Februari 2011 bahwa kehidupan manusia bertahap berdasarkan fase-fase.

Untuk itu orang tua harus memahami betul tentang fase-fase tumbuh kembang anak. Dari mulai mengidam, hamil, melahirkan, masa bayi, anak-anak, remaja, dewasa, berumah tangga dan terus berkembang menjadi sosok lansia. Sebagaiman siklus yang mesti dijalani dan dibina dalam bentuk family planning. Jadi sangat tepat bagi orang tua balita diberdayakan dalam komunitas Bina Keluarga Balita (BKB). Sebagai salah satu upaya membentuk karakter sejak dini. Tentunya mesti dilakukan secara berjamaah karena manusia itu mempunyai keterbatasan kemampuan. Bila tidak dilakukan pembinaan karakter sejak dini jangan bermimpi mempunyai anak sholeh. Apalagi manusia bisa tumbuh dan berkembang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial budaya, dimana ia hidup dan dibesarkannya. “kullu mauludin yuladu alal fitroh” sejak dilahirkan bahwa manusia itu adalah suci bersih sebagaimana teori tabularasa dari John Lock. Untuk itu para orang tua jangan salah melilih metoda mendidik para putranya dan jangan pernah berpikir dan bermimpi mempunyai anak sholeh bila cara memberikan stimulus terhadap anak tidak agamis.

Tentunya dengan memberi contoh ahlaq mulia kepada anak sejak usia dini. Karena dambaan setiap orang tua menghendaki anaknya sholeh, cerdas, terampil serta bisa hidup mandiri disaat menginjak dewasa. Bahkan tidak menjadi anak nakal disaat remaja. Maka setiap orang tua harus mencermati potensi bawaan yang dimiliki anaknya untuk dikembangkan pada pertumbuhan dan perkembangan sejak usia dini melalui akhlaq mulia. Karena tidak ada warisan yang paling baik. Kecuali memberikan ahlaq baik yang bisa dicontoh oleh anak cucunya. Untuk membina karakter anak sejak usia dini bisa dilakukan sendiri dengan memahami modul bina keluarga balita. Apabila kondisinya sibuk karena menjadi wanita karir maka bisa dilakukan melalui kelompok bermain, Taman Kanak-kanak. Ataupun Roudhotul atfal. Bahkan sejak kesepakatan Jomte dan Dakar telah menjamur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai jawaban education for all. Diharapkan PAUD dan BKB bisa dilakukan secara sinergis dan berkesinambungan. Sehingga pembinaan karakter anak sejak usia dini bermanfaat ganda. Di satu sisi para orang tua balita akan memahami tumbuh kembang anak balita. Di sisi lain para anak balita tidak merasa kebingungan karena antara pendidikan yang diberikan di sekolah dengan pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya sama-sama diarahkan pada pembentukan ahalaq mulia.

Kalaulah himbauan Kantor Kementrian Agama Kota Sukabumi untuk memanfaatkan waktu yang efektif antara jeda sholat magrib dan isa dengan bentuk pengajian bagi anak balita dan anak usia SD, anak usia SMP, anak usia SMA secara rutin insya Allah pembentukan karakter sejak dini akan membuahkan hasil. Jadi gerakan mematikan TV mulai jam 18 s.d jam 20 akan memberikan dampak positif terhadap pola pendidikan keagamaan. Melakukan sinergitas pelaksanaan PAUD dengan BKB berarti memberikan kontribusi konkrit terhadap entri point perkembangan penduduk dan pembangunan keluarga sebagaimana diamanahkan dalam Bab X pasal 58 Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009.

Mengapa penduduk itu perlu dikembangkan? Dan mengapa harus dilakukan pembangunan keluarga? Tentunya pertambahan penduduk dari sisi petumbuhan secara alamiah harus diimbangi dengan pengembangan kemampuan serta kreativitas dalam bentuk kejamaah. Sebab bila tidak dikembangkan secara berjamaah, mungkin akan menjadi tantangan dan ancaman sebagaimana yang terjadi dewasa ini di Tunisia, di Mesir, Libya yang berdampak pada revolusi sosial. Begitu pula pertambahan keluarga dari pasangan yang baru menikah perlu dilakukan pembangunan keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Karena karakteristik penduduk pada umumnya terjelma dari kebiasan setiap keluarga yang berada dalam suatu wilayah. Bila setiap keluarga mengembangkan sikap individualism maka akan berkembang pada sikap borjuis dan hedonism.

Sehingga persaingan yang tajam antara individu bisa berdampak pada sikap mengendurnya kejamaahan. Supaya sikap kejamaah tetap terpelihara, maka diperlukan keberadaan mesjid menjadi sentral pengembangan budaya yang berlandaskan pada pembentukan karakter sejak dini. Tentunya budhi pekerti dikembangkan melalui pendekatan agama. Sehingga kunci sukses dalam kehidupan keluarga menurut KH. Abdulah Muchtar (26/2/2011) diantaranya ada empat hal; (1) mempunyai rumah besar (2) mempunyai penerangan yang cukup (3) mempunyai pakaian yang bagus (4) mempunyai kendaraan yang cepat. Maknanya bahwa setiap anak sejak dini harus didik mempunyai sikap lapang dada (jembar hate). Berikan penerangan dengan ilmu sejak dini oleh Ibu dan Bapaknya (Bina Keluarga Balita.BKB), biasakan mempunyai akhlaq baik, tentunya diimbangi dengan amal sholeh. Membina karakter sejak dini berarti mensinergikan antara iman, ilmu, amal, ikhlas, dan shabar kepada anak. Jadi kelapangan dada serta percaya diri itu akan terbentuk bila iman kepada Allah kuat tertanam dihati, logika berpikir didasari ilmu keagamaan dan teknologi, merealisasikan antara ‘tekad ucap lampah’ sebagaimana akhlaq Rosulullah SAW. Tentunya ikhlas dikala mendapatkan kebahagiaan dengan implementasi rasa syukur.Tapi juga harus rela menerima cobaan dan musibah dengan tetap berihtiar sekuat tenaga mengharap pertolongan Allah SWT.

Dipublikasi di pendidkan | Tag | Meninggalkan komentar

Pemberdayaan Kader Masyarakat

Setiap gerakan pembangunan ujung-ujungnya pasti diarahkan pada kesejahteraan masyarakat. Namun caranya  sangat beraneka ragam. Ada yang melalui parpol, ada yang melalui ormas, ada yang melalui lembaga sosial kemasyarakatan, ada yang melalui agama ada yang melalui yayasan. Ada pula yang melalui perkumpulan ataupun paguyuban. Semuanya tergantung pada cara pandang dan latar belakang yang mengilhaminya. Orang  sejahtera adalah orang yang mampu memenuhi kebutuhan dasar. Bagaimana caranya memampukan setiap orang supaya berdaya!. Seperti apa pemberdayaan yang bisa dilakukan? Jawabannya pasti relative dan tidak terbatas.

            Dengan tidak terbatasnya kemauan manusia. Maka setiap orang berupaya bernaung dalam sebuah komunitas. Apakah yang sejenis ataupun yang heterogen. Tentunya dalam setiap kerumunan orang atau sekumpulan orang akan muncul kader sebagai calon pemimpin yang siap berdiri di depan untuk menyuarakan kepentingan kelompoknya. Setiap kelompok lama kelamaan akan membentuk struktur hubungan komunkasi terpola menjadi tatanan kehidupan bermasyarakat.

            Masyarakat modern akan terus mengupdate setiap perkembangan dunia tanpa batas. Dikenal dengan arus globalisasi. Sehingga istilah kader di tengah-tengah masyarakat terus tumbuh dan berkembang. Seperti halnya Kader PKK, Kader Posyandu, Kader Pembangunan Masyarakat Desa dan Keluarahan,  Kader Ormas, Kader Parpol, Kader Pemuda, bahkan di dalam program family planning muncul Kader BKB, Kader BKR, Kader Dasa Wisma, Kader BKL, Kader BLK. Kader Pos KB. Tentunya dengan berbagai aktivitas yang dilakukannya.

            Apa yang mesti dilakukan dalam Manajemen Pemberdayaan Kader Masyarakat? Paling tidak mesti  dilakukan  perencanaan kebutuhan kader, rekrutment kader, pembinaan kompetensi kader, pembinaan kinerja kader, pengukuran keberhasilan program, pengembangan program terintegrasi, analisis hambatan dan alternative  solusi mengatasi masalah. Itu semua diperlukan penelitian ilmiah dan pengembangan pengalaman lapangan yang disumbangkan oleh setiap Kader. Sehingga mampu memotret yang tepat keberadaan kader masyarakat dan ditemukan tehnik pemberdayaan kader masyarakat sesuai dengan dinamika perkembangan sosial budaya masyarakat yang semakin kritis menuntut keterbukaan, akuntabel, dan  berdaya saing.

Landasan Berpijak

            Pepatah orang tua sering mengungkapkan bahwa setiap melakukan pekerjaan  harus jelas landasan hukum yang memayunginya. Untuk itu pijakan utama dari Pemberdayaan masyarakat di Kota Sukabumi diatur di dalam Perda Nomor  7 tahun 2008 pada halaman 10 mengamanahkan untuk “mengoptimalkan partisipasi masyarakat”. Hal itu untuk mencapai “Terwujudnya Kota Sukabumi sebagai Pusat Pelayanan berkualitas dibidang Pendidikan, Kesehatan dan Perdagangan di Jawa Barat berdasarkan Iman dan Taqwa”.

            Dari mana mulai melangkah untuk mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Tentunya perlu memahami betul kondisi eksisting data tahun 2001 tentang penduduk miskin berjumlah 9.386 KK atau berjumlah 37.544 jiwa. Bahkan pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin di Kota Sukabumi berjumlah 12.346 KK atau sebanyak 49.384 jiwa. Peningkatan jumlah penduduk miskin tersebut  berarti menunjukkan kurang berdaya diakibatkan berbagai situasi dan kebijakan yang digulirkan secara makro. Baik internasional, nasional, regional. Sehingga berdampak pada kondisi masyarakat Kota Sukabumi.

            Catatan yang termuat di dalam RPJPD menunjukkan bahwa pada tahun 2007 penduduk Kota Sukabumi berjumlah 280.143. hal ini sejalan dengan hasil pendataan keluarga pada bulan Desember 2007 sebanyak 280.887 jiwa. Perbedaan data penduduk tersebut tidak perlu dipermasalahkan karena berbeda waktu pencatatan dan pengambilannya. Namun yang perlu diperhatikan pada halaman 13 RPJPD adalah laju pertumbuhan penduduk alami tahun 2004 adalah sebesar 2,19% dan pada tahun 2006 mencapai 1,84%. Berarti menunjukkan ada kemajuan kesungguhan penanganan program Keluarga Berencana. Bahkan di dalam RPJPD halaman 14 dijelaskan bahwa “Migrasi masuk ke Kota Sukabumi tahun 2004 mencpai 1,53% dan pada tahun 2006 mencapai 0,60%.

            Ketika memasuki RPJMD II ( periode 2008-2013 ) masuk dimana program pemberdayaan masyarakat. Tentunya di halaman 53 masuk pada misi 1. Yaitu “mewujudkan sumber daya manusia yang beriman, bertaqwa dan berbudaya”. Dengan pendekatan kalimat yang terkandung di dalam surat annisa ayat 9. Berbunyi “ Walyahsyalladzina lau taroqu minkholfihim durriyyatan diafa”. Hendaklah kamu takut karena Allah dikala meninggalkan anak keturunan dalam keadaan lemah. Berarti sejalan dengan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sehat dan Sejahteran ( NKKBS program Keluarga Berencana ).

            Lebih konkrit lagi dihalaman 57 RPJPD mengamanahkan untuk “memperkuat peran serta masyarakat” bahkan di halaman 58 dijelaskan untuk “meningkatkan partisipasi masyarakat dan peran aktif masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan di Kota Sukabumi. Konkritnya di halaman 62 di jelaskan “ pertumbuhan penduduk yang seimbang serta memberikan kesempatan kepada masyarakat miskin untuk dapat meningkatkan kualitas dirinya”.

            Untuk mengintegrasikan program pembinaan kader BKB dalam peningkatan human investment melalui peningkatan pendidikan dimulai sejak usia dini sampai ke jenjang pendidikan perguruan tinggi agar terbentuk anak remaja dan masyarakat Kota Sukabumi yang unggul dan berwawasan luas dengan penguasaan teknologi infomasi dan bahasa asing serta pemanfaatan dan pengembangan iptek di berbagai bidang menuju masyarakat yang berbudaya produktif seperti yang tercantum di dalam RPJPD halaman 63. Maka dilakukan tri bina ( Bina Kader BKB, Bina Kader BKR, Bina Kader BKL ).

            Secara rinci RPJMD I (2005-2008 ) meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan tercantum di halaman 80 RPJPD. Priaoritas RPJMD II (2008-2013) mewujudkan sumberdaya manusia yang beriman, bertaqwa dan berbudaya. Sedangkan untuk angka laju pertumbuhan pendduuknya diharapkan secara bertahap dapat ditekan. Ada pada halaman 81 RPJPD. Prioritas RPJMD III ( 2013-2018 ). Meningkatkan akses penduduk miskin ke palayanan kesehatan dasar dan rujukan dengan menggunakan jaminan/asuransi kesehatan masyarakat miskin dengan contact rate nya mencpaai 1 kali setiap tahunnya, tercantum di halaman 85 RPJPD. Bahkan masih pada prioritas RPJMD III (2013-2018) pemenuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung bagi seluruh masyarakat terus meningkat karena didukung oleh system pembiayaan perumahan jangka panjang dan berkelanjutan, efesien dan akuntabel. Kondisi itu semakin mendorong terwujudnya Kota tanpa pemukiman kumuh.

            Prioritas RPJMD IV ( 2018-2023 ) tentang status gizi masyarakat meningkat, tumbuh kembang balita optimal, kesejahteraan meningkat, terwujudnya kesertaan gender dan terkendalinya pertumbuhan penduduk alami. Hal tersebut ditegaskan di halaman 88 RPJPD. Adapun untuk prioritas RPJMD V ( 2023-2025 ) terpenuhinya kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung bagi seluruh masyarakat yang didukung oleh system pembiayaan perumahan jangka panjang dan berkelanjutan, efesien dan akuntabel sehingga terwujud Kota tanpa pemukiman kumuh, selain itu kualitas lingkungan yang semakin meningkat dan pemenuhan ruang terbuka hijau kota mencapai 30% Kota baru tumbuh berkembang dengan pengendalian dan pemanfaatan ruang yang semakin baik.

Poyeksi Penduduk Kota Sukabumi

            Prioritas RPJMD I sampai dengan prioritas RPJMD V ( 2005-2025 ) tentunya untuk melayani penduduk Kota Sukabumi (257.274 – 404.374 jiwa. Untuk itu dipelukan adanya kegiatan Revitaslisasi Program Keluarga Berencana. Dengan gambaran Proyeksi Penduduk sebagai berikut.

Tahun Proyeksi Pendataan KK dari BPMPKB Proyeksi  dari sensus BPS bila LPP 2,57% Proyeksi dari Sensus bila LPP 1,74% Proyeksi dari coklit KK di Casip Proyeksi dari hasil rekap pendataan dari Kecamatan.
2005 257.274        
2006 262.036        
2007 280.887        
2008 281.125        
           
2009 283.990        
2010 288.224 299.247 299.247   287.443
2011 291.250 306.936 304.453    
2012 294.249 317.638 309.750    
2013 297.250 325.801 315.139    
           
2014 304.889 334.174 320.622    
2015 312.724 342.762 326.208    
2016 320.761 351.570 331.883    
2017 329.004 360.605 337.657    
2018 337.459 369.872 343.532    
           
2019 346.131 379.377 349.509    
2020 355.026 389.127 355.590    
2021 364.150 399.127 361.777    
2022 373.506 409.384 368.071    
2023 383.105 419.905 374.475    
           
2024 392.950 430.696 380.990    
2025 403.046 441.764 387.619    
Proyeksi yang tertuang di dalam RPJPD pada Perda 7 tahun 2008 BAB II hal. 8 404.374 404.374 404.374 404.374  

 

            Mengapa proyeksi penduduk itu harus diperhitungkan sejak menyusun perencanaan pembangunan kemasyarakatan, baik jangka panjang maupun periodisasi rencana pembangunan jangka menengah ataupun perkiraan pertambahan penduduk setiap tahunnya. Hal ini untuk memastikan pemenuhan kebutuhan dasar dan menurunkan angka ketergantungan. Mengapa demikian? Karena sebesar apapun LPE di genjot bila gini rasionya terdapat kesenjangan yang sangat curam. Bahkan angka ketergantungannya sangat tinggi maka akan terjadi kesenjangan. Dari kesenjangan itulah akan muncul fenomena sosial.

            Bagaimana fenomena sosial itu di kelola dengan baik. Tentunya pendekatannya melalui kader yang ada di tengah-tengah masyarakat. Karena merekalah yang paling tahu kebutuhan, paling tahu keluh kesah masyarakat, paling tahu riak-riak yang terjadi di masyarakat. Jika RPJPD memperkirakan tahun 2025 penduduk Kota Sukabumi 404.374 berarti pengalaman periode RPJMD I (2005-2008) laju pertumbuhan penduduk dari hasil pendataan keluarga sebanyak 2,57% diperhitungkan secara cermat untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk secara alamiah. Maka pada RPJMD II (2008-2013) LPP alamiah mesti ditekan ( tahun 2009 harus 1,12%, tahun 2010 jadi 1,09%, tahun 2011 mestinya 1,05% tahun 2012 ditekan pada angka 1,03 dan pada tahun 2013 menjadi 1,02%. Walaupun pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2025 angka pertumbuhannya 2,57% berarti prediksi jumlah penduduk masih bisa ditekan pada tahun 2025 menjadi 403.046 jiwa. Lain halnya hasil Sensus Penduduk tahun 2010 sejumlah 299.247 bila laju pertumbuhan penduduknya bisa ditekan menjadi 1,74% berarti perkiraan jumlah penduduk tahun 2025 akan berjumlah387.619 jiwa.

            Namun demikian bila mingrasi masuk tidak ada yang mengendalikan bisa terjadi dari angka sensus penduduk 299.247 di tahun 2010 dengan pengalaman pertumbuhan penduduk di RPJMD I (2005-2008) mencapai 2,57% . maka penduduk di tahun 2025 akan mencapai 441.764 jiwa. Tentunya variable-variabel lain dianggap konstan. Namun bila variable pertambahan perumahan baru sampai dengan tahun 2010 ada 32 terus dihuni oleh pemiliknya dari luar kota. Maka beban pengendalian penduduk dari lahir, mati, datang dan pergi akan semakin kompleks.

            Disini para pemangku kepentingan harus pekka terhadap program Keluarga Berencana. Kalau tidak bisa dihitung melalui teori Cost Benefet Analisis. Berapa kebutuhan sarana dan prasarana untuk mengayomi penduduk 404.374 jiwa. Kalau dari jumlah penduduk 288.224 jiwa saja diperlukan Anggaran pemerintah sebesar Rp 576.630.173.000.  Pilihan kebijakannya apakah akan meningkatkan LPE atau akan mengendalikan LPP. Baik dari mingrasi masuk ataupun dari LPP alamiah melalui program KB! Tinggal dihitung mana yang paling menguntungkan? Apakah menggenjot PAD atau mengeluarkan dana untuk program KB. Atau berbarengan antara menggenjot PAD dengan menggencarkan progam KB dengan berbagai konsekwensinya.

            Apabila teori yang akan digunakan untuk menggenjot PAD! Berarti kebijakan untuk mengeluarkan anggaran pembuatan Perda yang pengaturan pungutan kepada masyarakat sudah benar. Tentunya harus diperhitungkan  pula dampaknya pada fenomena sosial dari kenaikan pungutan itu. Jadi tidak masalah bila pendanaan untuk program Pemberdayaan masyarakat perempuan dan keluarga berencana dikurangi. Dengan catatan konsekwensi penambahan penduduk dari ibu yang melahirkan harus diterima oleh berbagai pihak. Namun bila pendekatannya pada pemberdayaan masyarakat maka konsekwensi kebutuhan untuk mengelola kader masyarakat yang akan mampu mengendalikan fenomena sosial mesti rasional. Jangan sampai rasionalisasi malah menggiring pada pemikiran yang irasional.

            Walaupun pemberdayaan kader masyarakat itu bersifat kualitatif. Namun sangat rasional bila pendekatan proyeksi pertambahan penduduk dijadikan suatu dasar perhitungan pembiayaan pembuatan  program. Jika kesejahteran masyarakat itu kualitatif bukan berarti tidak bisa dihitung dengan pendekatan matematik dan teori statistic. Apalagi bila dihitung dari proyeksi pertambahan penduduk. Dikarenakan setiap tahun PUS meningkat. Lulusan pendidikan tidak semuanya bisa diserap di lapangan kerja mungkin saja konsekwensinya pada jalan pintas melalui perkawinan yang dipaksakan.

            Apa pengertian dari perkawinan yang dipaksakan. Yaitu ada periode yang di bypass. Ketika remaja itu mulai menyenangi lawan jenisnya bukan berpikir mendewasakan diri mencari pekerjaan yang bisa menghidupi dirinya dan keluarganya kelak. Malah melakukan akad nikah di bawah umur dikarenakan ketergantungannya sangat tinggi. Atau melakukan hubungan perkawinan diluar nikah. Jika siklus kehidupan tersebut ada yang putus maka produktifitasnya rendah. Sehingga tidak setara antara jumlah KK dengan jumlah bangunan rumah. Maka terjadilah satu rumah dihuni oleh beberapa Kepala Keluarga yang menurut penelitian BPS disebutnya Rumah Tangga Sasaran (RTS). Jika pendekatannya rumah tangga sasaran maka akan semakin tinggi angka ketergantungannya. Akibatnya data kemiskinan dipersalahkan. Sebab tidak mampu menjawab persoalan fenomena sosial.  Belum lagi ekses dari kawin diluar nikah, maka terjadi kelahiran diluar PUS. Dan itu akan menjadi fenomena sosial dimasa mendatang.

            Dari hasil pendataan Keluarga tahun 2010 terdapat 75.551 kepala Keluarga dengan jumlah Pra KS alasan ekonomi 3.059 KK dan KS1 alasan ekonomi 11.644 dan jumlahnya jika dianalogikan sebagai orang miskin maka jumlahnya 14.703 KK. Sedangkan di tahun 2005 jumlah KK masih berjumlah 64.788 KK. Namun bila mengambil data kemiskinan dari Jamkesmas  46.530 dan jamkesda 25.384 maka menajdi 71.914 Jiwa berti jumlah orang miskin bisa mendekati seluruh Kepala Keluarga yang ada di Kota Sukabumi. Padahal jumlah Kepala Keluarga itu ada yang termasuk Pra KS, KS1, KS2, KS3 dan KS3 Plus. Jika angka tersebut diadopsi untuk menangani kemiskinan di berbagai sector. Berarti beban APBD akan semakin berat.

            Bila dicermati lebih mendalam ternyata orang yang tidak mampu membayar biaya berobat bukan hanya masyarakat yang termasuk katagori criteria miskin. Melainkan orang KS2 dan KS3 saja ketika berobat akan merasa tidak mampu membayar. Sehingga harus ditanggung oleh Jamkesda dan jamkesmas. Atau meminta bantuan sosial dalam bentuk lain. Itulah fenomena sosial yang terjadi. Begitu pula orang yang tidak mampu membayar biaya sekolah bukan hanya yang termasuk orang miskin semata. Sehingga BOS tidak bisa otomatis dipersepsikan untuk menangani orang miskin. Karena baik orang miskin maupun orang kaya jadi di subsidi oleh pemerintah terutama di SD dan di SMP. Bahkan bila dicermati lebih mendalam bahwa dana BOS itu tidak ansih dinikmati oleh orang Kota sebab penanganan pendidikan tidak mengenal batas wilayah status kependudukan.

            Makanya khusus untuk masalah pendidikan harus ada data terpilah antara penduduk kota dengan penduduk luar kota. Supaya perhitungan APK dan APM tepat. Bila jumlah seluruh murid usia sekolah yang ada di sekolah se Kota Sukabumi dibagi dengan jumlah penduduk usia sekolah se Kota Sukabumi. Maka biasnya sangat besar. Karena anak sekolah yang ada di sekolah se Kota Sukabumi belum tentu seluruhnya penduduk Kota Sukabumi. Apalagi sekolah-sekolah paporit sudah bisa dipastikan banyak diminati oleh penduduk luar Kota Sukabumi. Jadi rumus menghitung APK dan APM sudah tepat tapi dalam tatanan implementasi perhitungannya ada yang kurang tepat. Sehingga bila dikros cek dengan program lain bisa terjadi perbedaan data.

            Sedangkan untuk masalah kesehatan harus ada data terpilah antara data orang miskin ansih orang kota dengan data orang miskin rujukan dari luar kota dan rujukan dari surat keterangan tidak mampu. Biasanya beda antara data basis jamkesda dengan masyarakat yang diberikan SKTM. Karena SKTM itu adalah penanganan instan untuk meredam gejolak sosial. Tapi berdampak pula pada perbedaan data orang miskin dikala dikros cek dengan data basis dan criteria yang ditentukan oleh BPS yang mempunyai kewenangan mengeluarkan data. Solusinya untuk menyamakan proyeksi penduduk Kota Sukabumi harus dihimpun dari TKPK baik yang menyangkut program bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan ekonomi maupun bantuan sosial lainnya.

            Pendekatan yang dianggap  paling tepat bisa dilakukan melalui entri data KK dari Casip dikolaborasi dengan hasil pendataan KK oleh Kader Pos KB. Kemudian dibuat suatu metric data basis KK di sebar pada semua SKPD yang mempunyai program penanggulangan kemiskinan. Kemudian  program Mutasi Data Keluarga ( MDK ) yang dikembangkan oleh BKKBN di adopsi untuk mengupdate setiap bulan, tiga bulan, semester dan tahunan serta sepuluh tahunan. Seluruhnya dimasukan dalam server besar lalu disimpan di website yang bisa diakses oleh publik. Tentunya dengan admin yang kompeten sehingga tidak disalah gunakan, atau dirubah semena-mena. Apalagi bila dikembangkan dengan system informasi administrasi kependudukan.

Perbandingan Data BPS Dengan BPMPKB

Untuk menyikapi perbedaan Proyeksi Penduduk hasil Pendataan KK oleh BPMPKB dengan hasil Sensus Penduduk dari BPS maka perlu disandingkan, yaitu angka 299.247 dengan 288.224. hal ini penting untuk dijadikan titik awal intervensi program. Karena perbedaannya sangat tinggi yaitu 11.023 jiwa. Angka sebesar itu perlu ditelusuri apakah dari menonjaknya angka kelahiran. Apakah dari angka migrasi in. Apakahan karena bertambahnya anak jalanan dari luar kota? Apakah dari orang-orang yang numpang usaha di Kota? Apakah dari angka anak sekolah asal luar kota? Apakah dari angka penduduk yang ada di asrama? Apakah dari hunian baru komplek perumahan yang jumlahnya sampai dengan bulan April 2011 sebanyak 32 komplek perumahan baru. Hal ini penting untuk menghitung Laju Pertumbuhan Penduduk. Kalau perbedaan itu dari jumlah bayi yang baru dilahirkan. Berarti harus segera menambah posyandu sebanyak 110 buah. Harus menyiapkan vaksin untuk imunisasi, Bahkan berbagai kebutuhan dasar yang mesti disiapkan oleh pemerintah daerah dari data penduduk itu mesti diantisipasi.

Ketika mendalami jumlah perbedaan penduduk dari BPS dengan pendataan keluarga dari BPMPKB. Ternyata untuk Kecamatanan Baros BPS lebih rendah 286 jiwa. Lembursitu ternyata BPS lebih tinggi 513 jiwa. Cibeuruem ternyata BPS lebih tinggi 3.234 jiwa. Citamiang ternyata BPS lebih tinggi 2.431 jiwa . Warudoyong ternyata BPS lebih tinggi 3.146. Gunung puyuh ternyata BPS lebih tinggi 1.494 jiwa dan Cikole ternyata BPS lebih tinggi 491 jiwa.

Hal lainnya yang perlu dicermati adalah pengelompokan umur. Jika dalam pendataan keluarga usia dikelompokan 0-1 tahun, 1-5 tahun, 5-6 tahun, 7-12 tahun, 13-15 tahun, 16-21 tahun dan seterusnya. Sedangkan pengelompokan di BPS 0-4 tahun, 5-9 tahun, 10-14 tahun, 15-19 tahun, 20-24 tahun. Dan setersusnya. Tentunya filosofi dari pengelompokan usia saja jika didalami pasti ada tujuan tertentu. Yang semuanya ada konsekwensi terhadap perencanaan dan evaluasi capaian program. Namun jika dari masing-masih hasil pendataan itu diabaikan dan tidak dijadikan rujukan. Bisa dipastikan perencanaan yang disepakati hanya merupakan angan-angan saja. Karena capaian kinerja diperhitungkan dari data. Sedangkan ketersedian dana tidak didasarkan pada standar biaya per jiwa. Melainkan berdasarkan kemampuan anggaran yang tersedia. Padahal kompleksitas permasalahan sudah semakin jelimet dan terus berkembang seperti spiral dinamik. Namun sumber kauangan semakin sulit dan mengundang protes dari masyarakat. Dilain pihak masyarakat semakin tinggi tuntutannya untuk serba digratiskan.

Disinilah diperlukan manajemen pemberdayaan kader masyarakat. Dengan harapan bisa mendekatkan dua kutub yang berbeda antara keinginan masyarakat dengan kemampuan keuangan pemerintah. Bahkan dibayang-bayangi dengan ratifikasi hukum internasional yang belum bisa sepenuhnya cocok untuk diterapkan di Negara Republik Indonesia Tercinta ini. Jadi standar Sensus Penduduk yang diadopsi oleh BPS dari standar Internasional. Sedangkan pendataan keluarga diilhami oleh kondisi sosial masyarakat dengan pentahapan Keluarga Pra KS, KS1, KS2, KS3 dan KS3 Plus. Bahkan Pra KS diurai kembali dengan Pra KS alas an ekonomi, Pra KS bukan alasan ekonomi. Dengan KS1 alasan ekonomi dan KS1 bukan alasan ekonomi. Sedangkan untuk ukuran data kemiskinan dari MDGs dari pendapatan minimal 1 dolar setiap hari.  

Namun bila diartikannya pendatpatan 1$ untuk satu KK dengan minimal setiap keluarga mempunyai anak 2 dan satu istri berarti di dalam KK itu ada empat yang harus dihidupi. Maka jika 1$ bagi 4 ornag berarti setiap orang menikmati 0,25$, jika krus rupiah satu dolar Rp 8.800 berari setiap orang adalah Rp.2.200. Ketika di tengok di pasar maka makanan apa yang bisa dibeli dengan harga Rp 2.200. Apakah singkong, apakah pisang apakah terigu, apakah gandung apakah jagung? Kemudian berfikir apa dengan Rp 2.200 akan memenuhi standar gizi?

Maka setiap orang jelas harus diberdayakan. Sedangkan pengertian berdaya menurut Kepala BKKBN Provinsi Jawa Barat (Drs. Rukman Heryana ) adalah (1) boga Kanyaho, (2) boga kahayang (3) boga kabisa ( 4) boga kadaek (5) Kaboga. Jika diterjemahakan dalam bahasa Indonesia adalah pengetahuan, kemauan, kemampuan, kinerja dan kesejahteraan. Makanya penulis menyisipkan satu pendapa bahwa sbelum orang itu boga kabisa harus didahului oleh karesep. Makanya dalam memberdayakan setiap kader itu harus memenuhi criteria atau syarat dengan cirri Knoledge, vision, hobby, expert, entrepreneur dan rich. ( pengetahuan, kemauan, kesenangan/hobi, keahlian, reativitas dan kesejahteraan/kekayaan.

Kesemuanya harus direncanakan dengan baik, dilaksanakan dengan professional, bergerak dengan kebersamaan dan semuanya dipertanggungjawabkan lahir dan bathin. Karena berdaya itu bukan hanya kuasa dan mampu. Melainkan harus tumbuh dari kesadaran sendiri dengan tetap mengadopsi perkembangan yang terjadi dalam komunitas temapat tumbuh dan berkembang hidup dan kehidupan. Sejak bertemunya sel telur dengan sprema, dibesarkan dalam rahim Ibu, dilahirkan, dibesarkan di lingkungan keluarga, bersekolah, bekerja, menikah, bermasyarakat menjadi sosok orang dewasa dan menjadi orang tua yang arif. Siap menghadap kepada sang maha Pencipta ke Alam baq. Itulah makna dari outcome yang ingin diperoleh dari sebuah aktivitas “Manajemen Pemberdayaan Kader BKB dalam Peningkatan Tumbuh Kembang Anak Usia Dini” maka wajar bila Penulis melakukan penelitian dalam sebuah disertasi.

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di paud | Tag | Meninggalkan komentar

Sembilan Tahun Al-Kautsar Bandung Berdiri

Merubah suatu pemahaman masyarakat memerlukan proses yang panjang. Apalagi dari hari kehari semakin sulit untuk memilah dan memilih mana informasi yang bersifat membangun dan mana informasi yang bersifat mempropokasi. Namun tidak perlu putus asa. Karena Negara maju saja memerlukan proses ratusan tahun apalagi Yayasan Al-Kautsar Bandung yang baru berdiri sembilan tahun, tentu belum berarti apa-apa untuk merubah kultur masyarakat. Apalagi masih ada yang mengembangkan “sirik-pidik-hiri-dengki-jail kaniaya”. Mereka menelan informasi negatif  bulat-bulat. Tidak difilter apakah ada manfaatnya atau banyak madhorotnya.

Kalaulah Sembilan tahun yang lalu belum ada orang yang peduli terhadap anak yatim dan jompo di Kp Panggilingan Desa Sindanglaya Kabupaten Bandung Propinsi Jawa Barat. Wajar saja karena jangankan memikirkan yatim dan jompo. Untuk memenuhi kebutuhan dirinya saja masih kocar-kacir. Namun demikian, Alhamdulillah dengan kebiasaan setiap kenaikan kelas SMP Al-Kautsar Bandung diupayakan untuk menyantuni Anak yatim dan Jompo. Ternyata mampu mengetuk hati nurani para dermawan untuk  menyisihkan sebagian rejekinya bagi para yatim dan jompo. Walaupun pemberian yang diberikan baru dibidang pendidikan untuk yatim dan pemberian santuan untuk konsumsi jompo.

Tantangan lain yang dirasakan oleh pihak yayasan ketika berusaha membentengi anak-anaknya berkeliaran keluar masuk Warnet. Maka pihak sekolah menyediakan Warnet supaya mereka terawasi, apakah dalam membuka situs ataupun penyimpangan perilaku lainnya. Tapi karena warnet Al-Kautsar bukan satu-satunya warnet yang ada di Kp. Panggilingan Desa Sindanglaya Kecamatan Cimenyan. Maka ketika ada efek negatif yang dirasakan dan dipersangkakan oleh masyarakat. Berpengaruh pula pada keberadaan Warnet Al-Kautsar. Ya wajar saja karena pemuka masyarakat yang masih menggunakan paradigma tradisional memukul rata  bahwa keberadaan warnet adalah negatif.

Untuk menjawab tudingan negatif masyarakat  terhadap keberadaan warnet Al-Kautsar. Maka Ketua yayasan selaku dai’yah memeberikan penjelasan ketika berda’wah di Mesjid As-Soleh Kp. Dangdeur RW IV Desa Sindanglaya Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung Jawa Barat.” Arus globalisasi dengan menggunakan teknologi tidak mungkin bisa dibendung. Karena setiap orang sudah mampu membuka situs di HP. Jadi tidak bisa menyalahkan kepada warnet bila ada penyimpangan perilaku”. Justru orang yang tabu terhadap kemajuan teknologi dan informasi global akan semakin tersudut dan semakin mundur. Hanya tinggal memilih dan memilah mana yang positif dan mana yang negatif.  Jangankan berbicara masalah warnet berrbicara masalah nasi saja bila makannya dicampur narkoba pasti akan memabukan. Jadi tergantung siapa yang menggunakan dan untuk apa digunakan caranya seperti apa menggunakan suatu media itu.

Supaya lebih jelas tentang keberadaan dan manfaat warnet Al-Kautsar maka disaat dilangsungkan acara pesta kenaikan kelas dilakukan penjelasan kepada orang tua siswa Al-Kautsar dan hadirin yang ada pada saat itu bahwa warnet itu penting. Namaun jangan sampai disalah gunakan membuka situs yang tidak memberikan manfaat. Dan jangana sampai masuk ke warnet hanya untuk berdusta dan hanya untuk berselingkuh memadu janji yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Apalagi hanya untuk curhatan pada lawan jenis yang bukan muhrimnya. Tapi bila warnet digunakan untuk perpustakaan elektronik demi menyelesaikan tugas pendidikan maka manfaatnya sangat besar. Karena informasi apapun kumplit ada di internet.

Dari penjelasan yang sangat gamblang itu nampaknya para orang tua dan hadirin memaklumi keberadaan warnet Al-Kautsar. Disediakan Sekolah untuk mempermudah tugas yang harus diselesaikan oleh siswa. Bukti konkrit bahwa anak Al-Kautsar sejak berdiri Alhamdulillah diridoi oleh Allah SWT. Setiap tahun lulus semua bahkan hampir 80% melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi apakah ke SMA, MA, SMK. Baik negeri maupun swasta. Bahkan yang menggembirakan lulusan Al-Kautsar sudah banyak yang hidup mandiri bekerja di berbagai perusahaan yang menggunakan teknologi dan otomotif.

Wajar bila Ketua Osis Al-Kautsar memberikan hadiah kepada para  guru yang berprestasi, terfavorit, terajin, terbaik, tersetia, teranggun,  terkocak di saat melakukan ulangtahun Al-Kautsar yang ke IX. Apalagi dipandu oleh Al-Toni dan Henti selaku pembawa acara ala Olaga dan Raffi. Sehinga suasana menjadi hangat dan melupakan tudingan oknum masyarakat yang menyududkan keberadaan warnet Al-Kautsar sebagai biang kerok penyimpangan perilaku dan menggoyahkan ketahanan keluarga bagi pasangan keluarga muda yang cengengesan” leumpeuh yuni”.

Perlu disadari bahwa kreasi anak itu penuh ekpresi bila diberi kesempatan dan diarahkan. Sehingga muncul ide gagasan untuk mengaktualisasikan dirinya. Apalagi diwarnai dengan kebiasaan menyantuni kepada yatim dan jompo seperti halnya ; Ayu nur endah, Faya cinta, Gina Sonia, Sinta Quraesin, Ade sandi, Rianti, wa Titi juli, mak Iti, mak Ayum, mak Emon, mak Alne, mak Ami, mak Ukai, Suhendi, mak Seminar, mak Onasih, mak Eneng, pak Aji, mak Yati dan Siti yuliansyah, dan Iin. Semua santunan itu diperoleh dari titipan Warga Perum Baros Kemcana Kota Sukabumi. Maka dalam kesempatan ulang tahun Al-Kautsar Bandung yang ke IX tahun 2011 mendoakan kepada para penyumbang supaya ditambah rijkinya diterima amal kesolehannya dan diampuni segala dosanya, dibebaskan dari musibah serta dikabulkan segala maskud dan cita-citanya. Baik yang terucap maupun yang tersimpan dalam hati. Terutama kepada Pak Enda Ruswenda, Keluarga Pak Erwan, Keluarga Mamah Neta, Mamah Ega dan penyumbang lainnya yang tidak mau disebut namanya di sini.

Ada satu makna yang bisa diambil dalam ulang tahun Al-Kautsar IX tahun 2011 tanggal 10 Juni 2011. Yaitu ada hubungan yang sinergi. Di satu sisi ada yang harus disantuni dan di lain pihak ada orang yang terketuk hatinya untuk menyantuni. Untuk memotivasi itu semua maka pendiri Yayasan Al-Kautsar membagi pengalaman bahwa di Tunisia kenapa strata ekonominya menengah ke atas. Sebab sangat menghargai Guru dan Negara memperhatikan Guru. Bahkan di sisi lain menyadari arti pentingya KB dengan harapan beban keluarga jangan terlalu banyak, usaha jalan, kehendak terpenuhi, anak berkreasi masa depan cemerlan.

Pengalaman lain yang disampaikan oleh pendiri yayasan bahwa di Italia termasuk Negara nomor 7 terkaya di Eropa. Karena Itali tidak malu untuk berutang bila untuk investasi termasuk investasi di dunia pendidikan. Sehingga anak-anak Indonesia yang berada di wisma duta Italia Nampak ceria dan cekatan karena yang diutamakan adalah mengikuti pendidikan internasional. Hal ini tidak menghambat perkembangan dunia anak dan tidak menghambat kreatifitas karena bisa berkolaborasi secara global.

Mengungkap pengalaman di Tunisia dan Italia disandingkan dengan KP Panggilingan bukan tanpa makna, tapi bagaimana?. Memotivasi masyarakat yang masih diskotik (Disisi Kota Saeutik) bisa setara dengan perkembangan dunia modern tanpa apriori menyudutkan kemajuan teknologi tapi juga tidak melupakan nilai-nilai luhur yang sudah lama tumbuh dan berkembang di Kp Panggilingan Desa Sindang Laya sejak binaan K.H. Syafei, K.H. Muchtar dan Bapak H.E. Sutisna Iskandar yang kesemuanya mengembangkan pendidikan di zamannya. Dan kini dilanjutkan oleh cucu-dan cicitnya yang bergabung di Yayasan Al-Kautsar yang mencoba memanfaatkan tanah Warisan peninggalan Bapak E. Sutisna Iskandar dan Siti Rohati. Mudah-mudahan pahalanya sampai kepada para pemilik tanah yang dipergunakan untuk perguruan Al-Kautsar. Dan mudah-mudahan tetangga bisa mendapat manfaat dari keramaian berkumpulnya komunitas pendidik dan tentaga kependidikan serta siswa. Sehingga lingkungan sekitar kini berdiri berbagai toko, warung dan penjaja makanan cemilan.

Harapan pendiri yayasan Al-Kautsar kiranya KP Panggilingan mampu beradaptasi dengan kemajuan global tapi tidak melupakan nilai-nilai luhur yang Islami. Sehingga orang-orang  Islam tetap eksis bisa hidup dalam berbagai situasi, tempat dan waktu. Tidak terseret oleh badai yang dihembuskan globalisasi, Maju itu penting tapi kemajuannya harus Islami. Yakin bahwa Islam itu harus uptodate. Diterima oleh berbagai segmen apakah oleh orang kampung ataupun oleh orang kota bahkan bisa mendunia melalui tampilan diinternet. Sehingga ketika pendiri yayasan berada di Paris, berada di Belanda, berada di Brusel, Berada di Jerman, berada di Athena berada di Irtalia, berada di Swis bahkan berada di London tetap bisa berkomuniasi via internet dan bisa menulis di blog al-Kautsar.

Bagi para pencinta Islam yang mengembangkan pendidikan terintegrasi antara kehidupan tradisional dengan kehidupan modern yang agamis wabil khusus agama Islam. Silahkan masuk ke google, kemudian ketik “Sekolah Al-Kautsar Bandung”. Pasti akan menemukan berbagai kreasi dan informasi yang berhubungan dengan perkembangan dan dinamika Al-Kautsar. Dan insya allah yang akan dikembangkan adalah nilai positif bukan nilai negative. “dirgahayu Al-Kautsar” 10 Juni 2011 bertepatan dengan ulang tahunnya Kepala SMP Al-Kautsar Bandung (Tintin Nurhayati Habibah, S.Fil. I, M.Pd.)

Dipublikasi di pendidikan | Tag | Meninggalkan komentar

Jati Diri Bangsa

Sangatlah arif bila setiap orang mau dan mampu mempertahankan jati diri bangsanya. Hal ini bisa belajar dari orang Jerman yang selalu menggiring setiap orang yang datang ke Jerman untuk mau dan mampu menunjukan jati dirinya lebih membela Jerman dibandingkan dengan Negara asalnya. Seperti orang-orang yang belajar ke Jerman seolah-olah di cuci otaknya untuk cinta pada Jerman dan mengabdikan dirinya untuk kepentingan Jerman. Sehingga salah satu upaya yang dilakukan bagi orang Jerman selalu menggunakan bahasa Jerman dibandingkan dengan menggunakan bahasa lain. Di Jerman jarang orang menggunakan bahasa Inggris. Kendatipun ada hanya di pusat-pusat perbelanjaan besar, di pemerintahan atau di pelayanan Internasional.

Ketika berkunjung ke Jerman terasa sangat rapih memperhatikan pengaturan alat transportasi yang serba teratur antara bis, kereta api ataupun kendaraan pribadi. Bahkan di tempat tempat-tempat selter orang asik menunggu kedatangan bis dan kereta api listrik. Satu hal yang sangat menarik ketika berhenti di selter telah tersedia informasi antara peta, jadwal kedatangan bis, jadwal keberangkatan bis. Sehingga setiap orang bisa memastikan naik apa jam berapa bila akan menuju ke sebuah kota lain. Asalkan bisa membaca peta dan bisa memperkirakan lamanya kendaraan itu di perjalanan. Pasti akan tepat waktu dan tepat sampai di tempat tujuan.

Ketika berada di Jerman mencoba menelusurui berbagai sudut perdagangan. Ternyata harga jual sebuah produk lebih murah jika dibandingkan dengan di Belanda ataupun di Itali dan di Prancis.  Walaupun jika dibandingkan dengan di Indonesia pasti lebih murah di Indonesia karena kalau di Indonesia ukurannya rupiah kalau di jerman adalah euro. Namun orang Indonesia lebih menyenangi tas Merk GUCCI ataupun Prada dan Hermes dibandingkan dengan merk yang ada di Jerman.

Yang sangat menggembirakan ternyata orang Jerman welcome terhadap orang orang Islam, baik yang berasal dari Turki, Afrika ataupun dari belahan Emirat. Sehingga wajar bila berjalan-jaln di Jerman banyak ditemukan orang Islam. Walaupun banyak diperjual belikan berbagai jenis anggur mungkin hanya untuk menghangatkan kondisi tubuh karena cuacanya sangat ektrin. Walaupun kondisinya ada terik mata hari tetap saja udaranya dingin. Pergantian cuaca ketika penulis berkunjung ke Jerman tidak dalam hitungan hari ataupun minggu bahkan bulan tapi dalam hitungan waktu saja cuaca ekstrim terasa sekali.

Dari kondisi yang ektrim mendorong jerman lebih mengedepankan vokasional dan bisnis karena dengan menghasilkan berbagai insutri yang aplikatif dan implementatif serta bisnis yang mapan membuat Jerman bisa menarik imigran untk membangun dan mengembangkannya. Apalagi jerman berada di tengah-tengah benua eropa.

Dipublikasi di motovasi | Tag | Meninggalkan komentar

Imperialisme Sulit Dilupakan

Keserakahan manusia sangat kejam dan sulit dilupakan apalagi  Indonesia sempat di Jajah selama 350 tahun oleh Belanda. Sehingga sikap nasionalisme selalu muncul dikala harkat, martabat dan harga diri bangsa di Injak-injak. Hal ini perti dirasakan sendiri oleh penulis ketika sedang berkunjung ke Belanda dan menelusuri setiap sudut perkotaan ataupun pada saat menaiki Kanal crusi boot. Ada sebuah perlakuan yang tidak menyejukan hati ketika ketua Rombongan kami diusir dari tempat duduk dalam kanal boot.

Awal mulanya kami tidak pernah tahu ada perbedaan kelas dan diskriminasi antara orang kulit sawo matang dengan orang kulit putih. Dikira bahwa HAM itu berlaku untuk semua suku bangsa. Ternyata Negara yang membebaskan semua urusan hanya berlaku untuk bangsanya sendiri. Sikap imperialism sulit dilupakan dan tidak bisa ditinggalkan oleh orang-orang Belanda. Buktinya ketika bangsa Asia berada di negaranya dianggap kelas ploretar walaupun  sanggup membayar dengan biaya tinggi. Tetapi tetap saja perlakukan dan service nya berbeda antara pelayanan kepada orang Indonesia dengan perlakuan yang diberikan pada sesama Belanda.

Walaupun di Negara Belanda mengaku bangsa yang lebih ningrat dari bangsa Indonesi ternyata pengemis masih tetap juga ada. Namun perlakuan orang Belanda kurang menghargai kepada bangsa Indonesia. Hal ini bukan untuk menyut perpecahan dan meretakan hubungan diplomatic. Namun ingin membangkitkan sikap nasionalisme bahwa bangsa Indonesia bukan lagi bangsa jajahan,bangsa Indonesia ini sudah merdeka dan berdaulat. Jadi wajar jika berkunjung ke Negara Belanda dianggap sebagai tamu diplomatic disejajarkan perlakuannya dengan bangsa-bangsa lain. Namun hal itu tidak ditemukan di negeri Belanda. Buktinya seorang Kepala Kanwil BKKBN selaku ketua rombongan di usir-usir oleh hanya seorang pengayuh kanal boot.

Secara materialis bisa diakui bangsa belanda lebih tinggi jika dinilai dari mata uang.yaitu standarnya euro dengan perbandingan satu euro Rp 12.500. namun bukan berarti bangsa Belanda harus menginjak-injak perasaan dan kemerdekaan. Walaupun di akui para petani bangsa Belanda adalah orang kaya, walaupun kemampuan kerja perempuan belanda lebih terampil dan kuat bekerja membuat kelom dari kayu sebagai simbul cendera mata para wisatawan, walaupun pengolahan keju sudah modern, walaupun Belanda  mampu membuat dam sepanjang 30 km, walapun belanda masih mampu melestarikan tradisionalisme dan mengembangkan teknologi modern. Namun bukan untuk  merendahkan harkat dan martabat bangsa Indonesia sebagai Negara bekas jajahananya.

Gelora semangat kebangsaan dan menunjukkan harga diri perlu ditegakan dan ditanamkan pada anak cucu. Jangan sampai manut karena kemajuan ekonomi dan kemajuan teknologi. Tapi moral dan etika serta estetika masih mampu untuk melawan budaya yang bokbrok dari orang Belanda. Janganlah merasa bangga jika ada orang Belanda datang ke Indonesia secara super. Belum tentu mereka yang datang ke Indonesia adalah orang brilian. Mungkin saja mereka adalah seorang tukang bangunan yang dibawa oleh majikannya untuk mencari periuk nasi di Indonesia. Dengan dalih investasi dan tenaga ahli. Untuk disiplin waktu ok! Namun untuk keahlian belum tentu orang Belanda lebih mampu dengan bangsa Indonesia.

Kalaulah di Belanda telah banyak perempuan yang mampu mengolah susu jadi keju secara terampil, mengasuh bayi sambil berjualan dan memproduksi cendra mata ataupun membuat sepatu kayu. Namun banyak juga perempuan belanda yang tak bermoral mampu memperlihatkan tubuhnya dengan bugil untuk ditonton orang. Jangan beranggapan orang Belanda lebih hebat dari bangsa Indonesi. Kalau belum pernah melihat ke negerinya mungkin saja ada anggapan bahwa orang Belanda lebih hebat. Tapi di negerinya sendiri banyak pula yang mencari makan dari bangsa Indonesia  ketika berwisata.

Sebenarnya bangsa Indonesi kaya-kaya. Jika ada orang Belanda yang datang ke Indonesia maka orang Indonesia pun mampu datang ke Belanda jauh lebih banyak. Bisa dibayangkan setiap bulan tidak kurang dari 3000 yang mengantri visa untuk datang ke Belanda. Berarti ada 36.000 orang datang ke Belanda dan jika berkunjung ke Belanda menghabiskan uang Rp.50.000.000( setara dengan 4000 euro)  mungkin 1.800.000.000.000 ( satu trilyun delapan ratus milyar ) setara dengan 144.000.000 euro. Hampir sama dengan  satu periode ( 5 tahun anggaran) sebuah kota. Jadi sebenarnya jika membandingkan kekayaan ternyata bangsa Indonesia lebih kaya. Tapi masih saja di anggap oleh bangsa Belanda masih miskin. Karena selalu menganggap dirinya miskin dan tidak mampu menegakan jati diri di hadapan bangsa Belanda.

Sudah waktunya gelora sengat perjuangan 45 dan semangat Pancasila dan Konstitusi Indonesia di tegakan di hadapan bangsa-bangsa di dunia, jangan mau di injak-injak. Kalaulah Belanda mempunyai kanal cruis boot. Tapi bangsa indonesi mempunyai boot yang lebih canggih di Kalimantan. Dan Kapal feri di berbagai selat. Kalau Belanda mempunyai tempat farming. Bangsa Indonesia banyak memproduksi hasil pertanian dan kualitasnya lebih baik. Bahkan sayuran di Belanda mengandung bakteri ekoli di Indonesia tidak ada sayuran yang membahayakan perut dan tubuh orang. Jadi jangan merasa bangga dengan bangsa lain. Harus bangga dengan bangsa sendiri. Study banding bukan berarti yang pernah dilihat, didengan, dirasa untuk semuanya di adopsi ketika pulang ke Indonesia. Melainkan untuk komparatif bahwa Indonesia “pasti bisa, kudu,bisa, sing bisa sa bisa-bisa”.

Sudah bukan waktunya untuk merengek-rengek, mengemis ISO tapi ukurannya harus mampu membiayai hidup yang diperlukan dalam standarnya masing-masing. Jangan di adopsi semua budaya bangsa Belanda. Bahkan bangsa Indonesi harus mampu menciptakan teori sediri dan diujicobakan sendiri. Karena teori dari orang lain belum tentu cocok untuk bangsa Indonesia. Justru harus memanfaatkan pelung bahwa bangsa belanda akan mencapai titik jenuh dan akan mundur ke belakang. Bahkan harus diwaspadai ketika bangsa belanda menemui titik jenuh jangan diberi kesempatan untuk datang kembali bengeruk kekayaan alam dengan dalih investasi dan kerjasama seperti jaman VOC. Ingat dulu itu bangsa Belanda datang untuk berdagang. Lama kelamaan mereka keenakan dan akhirnya menjajah.  Enyahkan sikap imperialism, tegakan Pancasila dan junjung tinggi UUD 45 berhentilah mengamandemen UUD 45 jika hanya untuk mengadopsi teori orang lain. Dan hentikan meratifikasi hukum Internasional jika hanya untuk memenuhi kepentingan bangasa borjuis, kapitalis, imperialis dan hedonism.

Study banding bukan untuk melecehkan bangsa Indonesia di hadapan orang belanda yang tidak beradab dan tidak bermoral. Tapi study banding untuk membangkitkan semangat bahwa masalah kemiskinan jangan terlalu diekploitasi dan diekplorasi sebuah tawaran politik yang menyesakkan. Sebab masalah angka kemiskinan itu relative. Walaupun hidup pas-pasan bila mensyukuri seluruh karunia dari Allah SWT. Insya Allah hidup akan bahagia dan hidup akan sejahtera, bahagia lahir batin. Jangan membuat standar kemiskinan dibandingkan dengan bangasa Belanda, jangan membandingkan kekayaan dengan sikap arogan dan dunia dugem. Kembali  kepada hitoh yang sebarnya bahwa Islam rahmatan Lilalamin . Yakini bahwa Islam akan tumbuh subur  di berbagai penghujung dunia jika tau, mau dan mampu untuk menegakan jati diri  agama Islam yang kafah. Dan jaga diri masing-masing dari api neraka. Sebagimana khotib mengamanahkan ketika solat berjamaah di Nederland. Yakini Islam itu besar dan Islam itu rahmat bagi seluruh alam semesta. Jalin komuniksi antara sesama pemeluk agama Islam. Hentikan tudingan pada orang-orang yang taat beragama dicurigai akan  mendirikan NII.

 Biarkan Negara berkembang sesuai dengan teori ilmu pemerintahan tapi dalam sikap, budaya dan keputusan harus berlandaskan agama dengan azas Pancasila dan UUD 45. Bila selamanya kemajuan Islam dituding sebagai anggota NII maka akan menyelinap paham orang tak bermoral. Sehingga hasil budaya gotongroyong akan terkikis. Dikala paham gotong terkikis maka sikap imperialis, borjuis, dan ateis akan tumbuh subur dengan mengedepankan hedonism serta kepuasan sesaat. Bangsa Indonesi besar dan bangsa Indonesia kaya, bangsa Indonesi pekerja keras. Bangsa Indonesia toleran dan tegas menegakan kebenaran. Perangi orang yang memusuhi dan kasihani orang yang santun serta berperilaku mencerdaskan bangsa.

Dipublikasi di motovasi, nasionalis | Meninggalkan komentar

Keunikan Manusia

Di dalam patokan pendidikan setidaknya ada tiga. Diantaranya paradoks, perkembangan dan keseluruhan. Jadi wajar bila niat baik belum tentu diterima dengan baik atau mulus diakui sebagai sebuah kebenaran. Karena semuanya memerlukan proses menurut fase-fase yang mengarah pada unsur yang sama, sejenis dan serupa. Begitu pula dalam gerakan Keluarga Berencana walaupun sudah berjalan selama 40 tahun yang lalu. Tapi masih saja dipandang sebelah mata. Baik dari segi pemahaman maupun dari segi ketersedian sarana, prasarana, pembiayaan ataupun personal.

Disanalah letaknya karadoks pemikiran orang. Di satu sisi mengakui pembangunan itu harus pro poor, projob dan pro growth tapi tidak konsen memikirkan pembangunan berorientasi kependudukan. Sehingga ketersediaan lahan dan sumberdaya yang diperlukan dalam kehidupan manusia tidak dihitung secara cermat. Bahkan slogan dua anak lebih baik dianggap tidak ‘nyunah’. Makanya  sebesar apapun pertumbuhan ekonomi bila tidak diimbangi dengan penekanan laju pertumbuhan penduduk. Akan berdampak pada kemunculan orang miskin baru.

Mengapa demikian? Karena jarang terjadi manusia kaya menikah atau besanan dengan orang miskin. Biasanya yang kaya memilih pasangan hidupnya dengan yang kaya lagi. Sedangkan yang miskin walaupun berharap berpasangan atau berkehendak besanan dengan orang kaya. Tetap saja ketemu dengan orang miskin juga. Untung apabila dari kondisi miskin itu ada inspirasi mau merubah nasib menjadi orang kaya. Kalau tidak akan kerjadi orang misin menurun. Bukan berarti dari jumlah orang miskin jadi sedikit. Tapi orang miskin diturunkan lagi kepada anaknya menjadi orang miskin. Bahkan tadinya orang miskin dua orang bisa jadi dua puluh tahun kemudia orang miskinnya jadi empat puluh.

Disinilah diperlukannya data kependudukan yang akurat untuk melakukan intervensi program melalui pamily planning yang diterjemahkan mejadi Kelurga Berencana (KB). Tapi sangat disayangkan program KB bukannya didukung dengan berbagai input. Malah dianggap hanya sebuah pelengkan urusan yang harus dilaksanakan di berbagai daerah. Mengapa demikian. Mungkin saja orang berpikir KB hanya dari segi penggunaan alat kontra sepsi. Sehingga sebelum orang itu mau mendengar tentang KB sudah apriori terhadap efek samping atau masalah kegagalan penggunaan alat kontrasepsi.

Untuk itu pada awal tahun 2011 dilakukan kegiatan jumpa bersama gembira dengan model gerakan memantapkan lini lapangan gawe rancage ( GUMELAR ) berlokasi di Pangandaran Kabupaten Ciamis. Mengapa dilakukan di daerah tersebut. Karena daerah pesisir pantai dan daerah terpencil biasanya kurang mendapat akses informasi yang cepat, tepat akurat dan terpercaya. Namun kenyataannya di Kabupaten Ciamis Gerakan KB didukung penuh oleh Bupati sehingga dalam penetapan APBD mendapat prioritas. Bahkan Kepala PMKB Kabupaten Ciamis mendapat prioritas menjadi Ketua Panitia Anggaran yaitu dilantik menjadi Sekretaris Daerah.  Sehingga wajar bila “GUMELAR” dilakukan di Pangandaran Kabupaten Ciamis. Sambil belajar bagaimana program KB digulirkan dan berdampak pada pengaturan kelahiran, ketahanan keluarga dan peningkatan keluarga sejahtera.

Ilmu yang diperoleh dari Pangandaran Kabupaten Ciamis adalah mengefektifkan KIE kreatif melalui budaya. Sehingga pesan KB bisa dicerna oleh masyarkat melalui sair lagu yang  dilantunkan dalam sebuah pagelaran, diperagakan melalui pelayanan yang terintegrasi antara aparat wilayah, medis dan para medis bersama PLKB. Untuk itu sangatlah tepat bila gerakan KB diasumsikan sebagai strategi untuk mensejahterakan masyarakat melalui analisis data kependudukan yang dikatagorikan dalam penduduk lansia, penduduk single farent, penduduk pasangan usia subur, penduduk usia subur, penduduk potensial, penduduk remaja, penduduk anak balita, dan bayi yang dimuat dalam data mikro pada bentuk R1KS dilengkapi dengan:

Pertama format 1 tentang  dafar posyandu meliputi nomor urut, RW, nomor posyandu, nama posyandu, alamat posyandu, penanggung jawab umum, penanggung jawab operasional, ketua pelaksana, sekretaris. Dengan mengintergrasikan program PAUD, BKB, Kelurahan Siaga. Jumlah kader posyandu aktif ataupun yang tidak aktif. Petugas KB, medis dan para medis, bidan desa dan keterangan.

Kedua format 2 tentang kegiatan posyandu meliputi nomor, bulan pendataan, jumlah ibu hamil, jumlah ibu hamil yang memeriksakan diri di posyandu, jumlah ibu hamil yang diberi tablet FE. Jumlah peserta KB yang mendapat pelayanan ulang melalui kontrasepsi kondom, pil, suntik. Aktivitas lainnya melalui penimbangan balita yang meliputi jumlah balita sarasan(S), yang punya KMS (K), yang ditimbang (D), yang naik, yang dibawah garis merah (BGM). Jumlah BGM laki-laki, jumlah BGM perempuan. Jumlah Balita  yang mendapat Vitamin A, KMS yang keluar yang mendapat Fe 1,2 yang menadapat PMT. Jumlah balita yang diimunisasi hepatitis 0-7 hari, BCG, DPT 1,2,3. Polio 1,2,3,4. Campak. Hepatitis 1,2,3,. TT 1,2. Balita yang menderita diare, yang mendapat oralit serta keterangan.

Ketiga format 3 tentang potensi posyandu meliputi nomor, bulan pendataan. Jumlah Pengunjung bayi 0-12 bulan, balita 13-24 bulan, balita  25-59 bulan. WUS. Ibu PUS, Hamil, Menyusui. Jumlah bayi lahir, meninggal. Jumlah kematian ibu hamil, melahirkan, nifas. Jumlah petugas yang yadir seperti kader PKK, posyandu, PLKB/PKB, medis dan Para medis. Jumlah Ibu nifas yang mendapat FE dan vitamin. Ibu hamil KEK dan anemia serta keterangan.

Keempat format 4 tentang data sarana posyandu meliputi nomor, RW, Nomor Posyandu. Tempat pelayanan, gedung sendiriri, menumpang, mebeleur. Timbangan bayi, balita, ibu. Buku kesehatan ibu dan anak. Formulir SIP. Blanko SKDN, Buku catatan keuangan. Alat peraga penyuluhan serta keterangan.

Selain data tersebut di atas untuk menditeksi sejak dini keberadaan profil posyandu perlu dilakukan SIP yang meliputi lembaran data sebagai berikut:

Pertama f1 berisi tentang catatan ibu hamil, kelahiran, kematian bayi dan kematian ibu hamil, melahirkan/nifas. Di dalam-nya meliputi nama posyandu, kelurahan, kecamatan, kota, bulan dengan rincian nomor, nama Ibu, bapak, nama bayi tanggal lahir tanggal meninggal bayi, ibu serta keterangan.

Kedua f2 berisi tentang register balita (0-1) tahun berisi tentang nama posyandu, kelurahan, kecamatan, kota, bulan. Kemudia setiap bayi ditulis nomor urut, nama bayi, tanggal lahir, berat badan lahir, nama ayah, ibu. Nama kelompok dasa wisma hasil penimbangan (jan-des). Pelayanan yang diberikan sirup besi fe 1bulan, fe 2 bulan, vit A 1 bulan, fit A 2 bulan. Oralit. Pemberian imunisasi BCG, DPT 1,2,3,. Polio 1,2,3,4. Campak. Hepatitis 1,2,3. Tanggal bayi meninggal. Keterangan.

Ketiga f3 berisi register balita (1-5) berisi tentang nama posyandu, kelurahan, kecamatan, kota, bulan. Dituliskan pula tentan nomor nama anak, lahir. Nama ayah, ibu. Kelompok dasa wisma. Hasil penimbangan (jan-des). Pelayanan yang diberikan sirup besi 1,2 bulan. Vitamin A 1,2 bulan. PMT Pemulihan. Oralit. Keterangan.

Ketiga f4 berisi register WUS, PUS tentang nomor, nama wus/pus. Umur, nama suami, tahapan KS. Kelompok dasa wisma. Jumlah anak yang hidup, meninggap pada umur. Pengukuran lila<23,5cm. pemberian kapsul yodium bulan. Imunisasi TT, 1,2 lengkap. Keluarga berencana. Jenis kontrasepsi yang dipakai, penggantian tgl. Jenis kontrasepsi serta keterangan.

Keempat f5 berisi register ibu hamil  berisi tentang nama posyandu, kelurahan, kecamatan, kota, bulan. Makanya dimasukan nomor, nama ibu hamil, umur. Kelompok dasa wisma pendaftaran di posyandu tanggal umur kehamilan. Hamil yang ke. Pil tambah darah kehamilan bks1,2,3. Imunisasi TT 1,2 tanggal berapa. Kapsul yudium. Hasil penimbangan jan-des. Resiko. Mel;ahirkan tgl. Ditolong oleh tenaga kesehatan, dukun.  Bayi hidup<2000 gram, 2000grm-2,5 normal. Meninggal Ibu meninggal Keterangan.

Keenam f6 berisi data pengunjung  maka berisi posyandu, kelurahan, kecamatan, kota. Bulan. Seharus nya diisi nomor. Bulan. Jumlah pengunjung bayi 0-12 bulan, balita 1-5 tahun, wus, ibu PUS, WUS, Menyusui. Jumlah bayi yang lahir, yang meninggal. Jumlah kematian Ibu hamil, melahirkan nifas. Jumlah petugas yang hadir seperti kader PKK, Posyandu, PLKB, Medis dan Para medis. Keterangan.

Ketujuh f7 berisi hasil kegiatan POSYANDU. Mengenai nama posyandu, kelurahan, kecamatan, kota, bulan. Makanya diisikan tentan nomor ibu hamil: bulan, jumlah, jumlah yang memeriksakan diri, jumlah yang dapat FE. Jumlah yang diimunisasi. Jumlah peserta KB ya ng dapat pelayanan kondom, pil, suntik. Penimbangan balita jumlah: semua balita(s) yang punya KMS (K). yang ditimbang (D) yang naik (K) yang BGM. Yang dapat PMT. Jumlah balita yang dapat vit A yang keluar yang dapat Fe1,2. Yang dapt PMT. Jumlah balita yang diimunisasi BCG, DTP1,2,3. POLIO 1,2,3,4. Campak. Hepatitis 1,2,3. Jumlah ibu hamil yang diimunisasi TT 1,2. Balita yang menderita diare. Jumlah balita yang diberi oralit. Serta keterangan.

Kedelapan f8 berisi data tambahan kegiatan posyandu harus diisi mengentai nama posyandu, kelurahan, kecamatan, kota, bulan selanjutnya diisi nomor. Lansia jumlah kelompok lansia (POSBINDU). Jumlah peserta. Bina Keluarga Balita jumlah kader, jumlah kelompok, jumlah APE. Jumlah kelompok simujlasi. PAUD jumlah kelompok, jumlah peserta.

Dari beberapa format tersebut diatas bila dipahami, diisi dan dianalisa dengan cermat. Maka memudahkan melakukan pembuatan program yang akan menjadi sasaran baik yang berkaitan dengan peningkatan kesehatan, pendidikan dan perekonomian. Semuanya mengarah pada peningkatan kesejahteraan. Tapi bila tidak dipahami, tidak diisi tidak dianalisa bahkan bila dijadikan sebuah beban pekerjaan yang merepotkan maka sudah bisa dipastikan tidak akan pernah  ada peningkatan yang signifikan antara katagori posyandu pratama, madia, purnama dan mandiri. Semuanya akan berkisar pada kondisi stagnasi, biasa-biasa aja dan monoton bahkan bisa membosankan. Apalagi bila posyandu hanya buka satu bulan sekali untuk kegiatan penimbangan semata. Bisa dipastikan keberadaan posyandu hanya merupakan ruangan kosong yang penuh alang-alang atau debu dan sarang serangga.

Hendakanya keberadaan format data base posyandu dan SIP itu satu sama lain saling mengisi dan saling melengkapi dengan harapan tidak hanya berada pada paradoks, tapi harus tumbuh dan harus menyeluruh. Untuk memberikan kontribusi pada pencapaian visi dan misi Kota. Bahkan selaras dengan cita-cita untuk meningkatkan kualitas keluarga dalam konsep family planning yang berorientasi pada kependudukan yang tumbuh seimbang. Kendatipun didorong oleh migrasi in tapi akan memberikan kontribusi pada daya tarik sebuah kota yang bisa memberikan kehidupan bagi seluruh masyarakat dengan berbagai aktivitasnya.

Dipublikasi di pendidikan | Tag | Meninggalkan komentar