Dinamika Pendidikan

Setiap insan manusia sangat sulit menerima kenyataan. Padahal hakekat dari sebuah kenyataaan sudah diilhami oleh salah satu cabang ilmu filsafat yang dikenal dengan ”metafisika” berhubungan dengan alam semesta (kosmologi). Berhubungan dengan manusia (antropologi) dan berhubungan dengan ke Tuhanan (teologi). Untuk bisa menerima kenyataan tentunya harus ditunjang dengan hakekat sebuah pengetahuan yang dikenal dengan istilah epistimologi dalam sebuah struktur, cabang ilmu, metode dengan batasan dari sebuah sumber yang terpercaya baik ”rowi, matan maupun sanadnya”. Agar mempunyai value added sebagai sistem nilai (aksiologi) dalam sebuah hakekat kebaikan (etika). Ada sebuah keindah dalam estetika yang logis pada kehidupan bersama.

            Paham idealisme menyatakan bahwa manusia hanya bisa menghasilkan sesuatu tidak sempurna. Sedangkan yang ideal hanya ciptaan Allah SWT. Mengacu pada pemikiran besar yang rasional masa lalu. Dengan prinsip standar perilaku yang telah pasti. Tuntutan moral dibuktikan masa lalu. Serta keindahan abadi pada standar masa lalu. Lain halnya dengan paham realisme bahwa manusi terbatas hanya kekurangan menemukan hukum universal. Dari fakta, data  referensi ilmiah yang dibuktikan hukum alam. Untuk mencari kemajuan iptek baru melalui inkuiri ilmiah. Di definisikan secara tetap walaupun bervariasi sesuai kemajuan iptek. Atas tuntutan moral didasarkan tuntutan ilmiah. Dengan keindahan hubungan antara alam dan ilmiah. Melalu penelitian ilmiah.

            Manusia hidup dalam hubungan dengan lingkungan memunculkan kebutuhan sosial. Dengan kerjasama memperbaiki kualitas hidup didasarkan kehidupan sosial. Mencari kemaslahatan kedupan melalui proses analitik dan pemikiran empatetik – afektif sesuai kebutuhan hidup. Dan tuntutan moral pada kemanfaatan sosial. Bahkan keindahan disesuaikan dengan tuntutan kondisi tekanan sosial. Dengan menerapkan prinsip coba-coba dari konsep humanistik.

            Namun kalau eksistensialisme berpandangan pribadi manusia tak sempurna. Dapat diperbaiki melalui penyadaran diri. Menerapkan prinsip standar pengembangan kepribadian. Individu mempunyai kebebasan memilih. Mencari pemahaman internal melalui analisis introspeksi diri. Bebas memilih dan dipilih tanpa menyakiti orang lain. Keindahan ditentukan secara individual. Mencari kesempurnaan diri melalui pemilihan standar bebas oleh setiap individu. Untuk itu supaya mampu menerima kenyataan diperlukan pemahaman tentang teori pendidikan yang berkembang sesuai dengan zamannya.

            Dalam teori pendidikan klasik dikenal dua pemahaman antara perenialisme yang berorientasi pada manusia dan esensialisme yang berorientiasi pada sain.  Sedangkan teori pendidikan pribadi mengenal pendidikan progresif dan pendidikan romantik. Sedangkan dalam teknologi pendidikan dikenal sistem instruksional. Yang kini sedang dikembangkan adalah pendidikan interaksional. Untuk itu para pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan diharapkan memahami ragam model kurikulum. Seperti halnya dalam menerapkan teori pendidikan klasik dikenal model kurikulum subyek akademik. Dalam menerapkan teori pendidikan pribadi dikenal model kurikulum humanistik. Dalam menerpakan teori tekonologi pendidikan dikenal model kurikulum kompetensi. Sedangkan dalam menerapkan teori pendidikan interaksional dikenal model kurikulum rekonstruksi sosial.

            Bila dicermati secara mendalam bahwa di Indonesia sering mengenal teori campur sari yang tidak siap dengan konsekwensi dari sebuah penerapan teori. Sehingga terjadi ambivalen dan ambigu pada kompetensi lulusan. Bahkan sering terjadi loncat pagar. Dalam artian tidak linier ketika berhadapan dengan kompetensi dasar yang mesti dicapai. Sehingga banyak tahu tapi sedikit daripada tahu sedikit yang mendalam. Akhirnya disaat berkarir lebih banyak mengejar jabatan struktural dibandingkan dengan menikmati jabatan fungsional. Makanya sulit menemukan orang yang akhli. Bahkan banyak  diketemukan orang ”pinter kabalinger” mempertontonkan diskusi ketimbang menyuguhkan keakhlian yang dimilikinya. Apabila dilihat dari tujuan demokratisasi cukup berhasil Namun dari penggarapan program kucar kacir. Karena dibatasi oleh kurun waktu kekuasaan yang diembannya.

            Sebagai ilustrasi dalam dunia pendidikan yang loncar pagar misalnya S1 teknologi mengambil S2 Manajemen atau S1 Hukum mengambil S2 Manajemen atau S1 ilmu pemerintahan mengambil S2 Teknologi. S1 Pertanina mengambil S2 Ilmu Politik. Makanya pemikiran mereka tidak utuh dan keakhliannya ambivalen sehingga output dan outcome dari pemikiran globalnya menjadi kabur dan tidak konsisten. Yang lebih dikedepankan adalah improvisasi layaknya permainan musik dan drama ludruk yang penuh guyonan mengocok perut orang malas Bahkan dirinya tidak sadar sedang menanti kehancuran dalam pola hidup dan kehidupannya. Lebih parahnya lagi banyak orang yang berkiprah di dunia pendidikan karena eksiden kehidupan dan masa depan yang tidak jelas. Sehingga pendidikan tidak dijadikan labolarium pengembangan ilmu teknologi, terapan atau profesinalisme. Melainkan hanya sebuah mata pencaharian yang instan. Tanpa mempertimbangkan pembentukan karakter sejak dini.

            Sebaiknya orang yang tertarik dalam sebuah dunia pendidikan diharapkan mampu berpikir sistemik dari mulai filososi pendidikan, teori pendidikan, kurikulum pendidikan, tujuan pendidikan, proses pendidikan, saran prasaran pendidikan, evaluasi pendidikan. Misalnya karakter pendidikan klasik berorientasi pada masa lalu, iptek dan nilai budaya telah tersusun sejak dulu. Sehingga fungsi pendidikan dianggap untuk mengawetkan dan mewariskan pada generasi berikutnya. Untuk mengembangkan intelektual dari teori dan praktek yang mengandalkan kehalian guru. Dijadikan sebuah model pembelajaran.  Makanya kurikulum pendidikan klasik mengandalkan pada isi materi yang bersumber dari disiplin ilmu. Mesti dikuasi guru sebagi penyampai iptek. Sedangkan siswa selaku penerima materi harus bekerja keras melalui prose pemberlajaran ekplorasi.

            Pada abad dua puluh ini di Indonesi sedang berkembang bilingual school sebagai implementasi dari pendidikan pribadi. Dengan orientasi masa kini terhadap kemampuan intelektual siswa dari aspek sosial, afektif, fisik motorik, yang mampu berkembang sendiri dari potensi dan kepribadian siswa. Dimotivasi oleh pendidik untuk belajar sambil berbuat. Makanya kurikulum bertumpu pada siswa  dengan bahan ajar disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang tidak distandarisasi tapi mencari dan mengembangkan diskaveri pemecahan masalah.

            Lain halnya dengan pendidikan teknologi berorientasi masa kini dan masa datang bersifat ilmiah tidak membedakan manusia dengan binatang. Hanya manusia lebih komplek dan tinggi untuk mentransmisi iptek dalam bentuk kompetensi dengan menggantikan peran guru oleh teknologi. Posisi guru sebagai pengelolan belajar. Makanya kurikulum yang dikembangkan adalah kompetensi kecakapan dan keterampilan yang bisa diamati dan diukur secara sistemik. Dengan bahan ajar media cetek, elektonik dan individual.  Satuan pelajaran disusun oleh tim khusus.

            Ditengah-tengah permasalahaan global diupayakan pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan interaksional yang berorientasi masa kini dan masa akan datang. Lebih mengedepankan manusia sebagai makhluk sosial.  Hidup bersama kerja sama. Untuk memperbaiki kedidupan ke arah yang lebih baik.  Sekolah dianggap pintu gerbang memasuki kehidupan di masyarakat luas.  Makanya pendidikan harus mampu bersama masyarakat untuk menyiapkan warga masyarakat yang aktif, produktiv dan dinamis. Dalam hal ini kurikulum yang dikembangkan adalah memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Dengan melibatkan siswa tentang masalah yang hangat untuk dipecakah secara berkelompok dan kooperarif. Guru dan siswa belajar bersama dari berbagai sumber untuk menilai proses dan hasil belajar.

            Bagaimana sesungguhnya teori belajar yang dikenal dalam proses pendidikan? Tentunya ada tiga besaran teori belajar diantaranya teori disiplin mental, teori behaviorisme dan teori Kognitif gestal.  Siapkah para pembaca mengadopsi salah satu teori belar. Dan siapkah menerima konsekwensi dari pengambilan sebuah teori. Karena dari setiap teori itu ada baiknya dan dan ada pula resiko mesti dilalui. Seperti halnya teori belajar disiplin mental  mengenal daya mental, humanistik, aktualisasi diri dan apersepsi. Makanya dalam perilakunya dikenal psikologi daya, psikologi humanistik, psikologi naturalisme romantik serta strukturalisme. Dengan pembelajarannya latihan daya mental. Pengembangan mental. Pendidikan permisisf afektir. Tambahan ide baru.

            Di dalam rumpun teori belajar behaviorisme dikenal adanya stimulus respon. Pengkondisian dan Penguatan. Sehingga psikologi yang dikembangkannya koneksionisme, Behaviorisme penguatan. Dengan pembelajarannya latihan hubungan stimulus respon, bentuk respon dan perkuatan respon. Sedangkan dalam teori belajar kognitif gestal mengenal, pemahaman tujuan dan kognitif medan. Bagaimana supaya para pembaca tidak termasuk katagori orang yang sedang menanti kehancuran?.

            Tentunya harus respek terhadap fenomena alam yang dinamis sejalan dengan derasnya perubahan. Namun tetap memperhatikan aspek manusia sebagai mahluk hidup yang selalu berevolusi mengikuti perkembangan zaman sambil tetap berpegang teguh pada teori ketuhanan (teologi). Sehingga insan manusia dengan serba keterbatasannya harus mampu beradaptasi dan siap mengikuti seleksi alam sambil berusaha berkembang biak secara alamiah dan terencana dalam gelombang kehidupan yang sangat dahsyat tapi sanggup mengarungi bahtera kehidupan dalam sebuah teori blue ocean. Tentunya dengan kesabaran, ketawakalan tak mengenal menyerah demi mengemban amanah sebagai kholifah dimuka bumi dalam kontek Ibadah kepada Allah SWT.

            Dengan harapan tumbuh kesadaran diri untuk memberdayakan dirinya dan masyarakat sekitar sesuai dengan dinamikan sosial yang sedang tumbuh dan berkembang di era demokratisasi. Tentunya mengedepankan pola belajar interaksional melalui kemampuan merekontruksi kehidupan sosial yang beradab dengan tetap memegang teguh keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Walaupun di dunia ini tidak ada yang edeal tapi jangan sampai menggadaikan idealisme hanya untuk mencapai kehidupan peodalisme dan hedonisme yang instan.

Sanggupkah kita bersaing dengan bangsa lain

Atau hanya sanggup bersaing dengan bangsa sendiri

Sehingga dengan bangsa lain bisa berdamai

Dengan bangsa sendiri saling cakar, saling hujat saling bunuh

Dimanakah nilai budaya bangsa Indonesia !

Relakah Jasa pejuang kemerdekaan dinodai

Dicederai untuk kepentingan sesaat

Ya Allah selamatkan kami dari kedholiman orang yang rakus.

Tentang alkautsarbandung

Sekolah Islam Alkautsar Bandung
Pos ini dipublikasikan di pendidkan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s