Nilai Kembalian dari Pendidikan

Sosok Prof. Dr. Achmad Sanusi sangat terkesan yang mendalam dibenak  setiap mahasiswa. Terutama yang pernah menerima kuliahnya. Apalagi dengan ungkapan yang sering dilontarkan sang Profesor itu tentang nilai fisical, teological, ethis, estetika, teleleogika (kegunaan/manfaat). Dalam hal ini penulis terobsesi untuk mengimplemantasikan pemberdayaan masyarakat yang mengedepankan konsep cost effectiveness, rate of return to education, cost benefit analysis. Dengan harapan agar seluruh lapisan masyarakat mampu meningkatkan pengetahun, keterampilan, kecakapan hidup, mengembangkan diri, bekerja dan berusaha mandiri yang mengarah pada ketahanan keluarga.

            Kenapa setiap keluarga itu harus mempunyai daya tahan, karena bila setiap invidu yang menjadi bagian keluarga itu rapuh. Jangan diharap masyarakat akan berdaya, karena masyarakat itu merupakan komunitas dari kepala keluarga yang di dalam-nya ada yang dikatagorikan Pra KS, KS I, KS II, KS III dan KS III Plus. Makanya setiap beban biaya hidup harus efektif dalam memanfaatkannya. Namun pengalaman hidup setiap individu satu dengan yang lainnya pasti berbeda. Ada yang dibesarkan di sekolah, ada yang dibesarkan dilingkungan kerja, bahkan ada pula yang hanya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kurang beruntung.

            Disparitas tahapan keluarga itu harus dimenej menjadi suatu kekuatan yang berdaya, baik melalui pendidikan formal, nonformal ataupun informal. Ternyata sejalan dengan dimulainya gerakan KB Nasional tahun 1970 berbarengan dengan itu secara internasional pendidikan nonformal mulai diterima secara luas. Menurut Prof.Dr. Sutaryat Trisnamansyah dikatakan bahwa “ Kemunculan pendidikan nonformal di dunia pendidikan internasional pada awal tahun 1970-an telah diterima secara luas diberbagai negara di dunia, salah satunya didasarkan atas strateginya yang lebih terintegrasi dengan pendekatan berbasis masyarakat dan berorientasi pembangunan dan pemenuhan kebutuhan dasar kelompok miskin” (Apresiasi Sejawat dan Teman pada Pemiiran Prof. Dr.Achmad Sanusi, 2009 : 80)

            Kalau dicermati lebih mendalam tentang isi pasal 26 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan non formal itu meliputi “ pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempauan, pendidikan keaksaraan, pendidikan ketgerampilan, pendidikan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, pendidikan pengembangan kemampuan peserta didik”. Dengan demikian memperjelas kepada para pembaca bahwa pendidikan nonformal sangat mendukung program pemberdayaan masyarakat, perempuan dan keluarga berencana yang di dalam-nya mengelola tentang : Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Balita Kemas, Bina Keluarga Remaja, Bina Pasangan Usia Subur, Bina Lingkungan Keluarga, Bina Keluarga Lansia. Bahkan bina keluarga sejahera melalui kegiatan UPPKS.

            Kalau dewasa ini sedang digelorakan semangat pembangunan dengan istilah propoor, maka orang miskin menjadi titik sentral yang disoroti oleh berbagai fihak. Bahkan bila boleh mengambil istilah yang sedang populer dewasa ini semua institusi bahkan lembaga masyarakat selalu menjual programnya untuk di biayai APBN dengan berebut istilah demi kesejahteraan rakyat, atau dengan istilah penanggulangan kemiskinan. Dengan obsesi ingin menurunkan angka kemiskinan. Namun secara agregat benarkah angka kemiskinan itu bisa berkurang atau malah bertambah. Jadi yang paling penting itu menurunnya angka kemiskinan atau kemampuan mengimplementasikan cost effectiveness dalam setiap program  pemberdayaan untuk menghadapi kesiapan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Guna meningkatkan rasa percaya diri, disiplin diri, jujur, kreatif, kemampuan berkomunikasi dengan berpikir logis. Sehingga biaya yang dikeluarkan tepat sasaran.

            Dengan tepatnya penggunaan setiap biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan masyarakat miskin menjadi berdaya. Hal itu merupakan peluang diperolehnya sebuah harga kembalian dari proses pendidikan sepanjang hayat. Terutama dalam praktek pendidikan nonformal yang menyentuh seluruh aspek kehidupan. Maka wajar bila pendidikan nonformal menjadi sebuah alternatip yang tepat dalam melengkapi keberhasilan pendidikan formal. Terutama bagi golongan ekonomi menengah ke bawah dengan sebutan yang sedang laku dijual  yaitu istilah“masyarakat miskin”. Karena harga dari sebuah kembalian pendidikan nonformal sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Terutama yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, sikap dan kecakapan hidup untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, berusaha mandiri dan atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagai mana dimaklumi bahwa pendidikan nonformal derajatnya diakui dipersamakan dengan pendidikan nonformal. Seperti halnya (BKB, TPA, KB, PAUD) setara dengan TK atau RA. (SD/MI setetara dengan Kejar Paker A) Paket B setara dengan SMP/MTS ( Paket C setara dengan SMA/MA, SMK).

            Pada dasarnya harga sebuah kembalian pendidikan adalah nilai tambah dari sebuah tahapan pendidikan baik yang bernilai fisikal, teological, ethis, estetika, teleleogika (kegunaan/manfaat). Kalaulah lulusan setiap tahapan pendidikan tidak mempunyai nilai malahan disinyalir memperbanyak angka pengangguran absolut maupun pengangguran tak kentara maka dipelukan kemampuan melakukan cost benefit analysis . Sehingga ada tolok ukur menguji sebuah program apakah tepat dikatakah propoor, tepatkah program itu untuk menangani kemiskinan, tepatkah program itu untuk mengurangi kemiskinan.

            Kenapa konsep cost benefit analysis perlu dipahami dalam melakukan pemberdayaan masyarakat atau pemberdayaan perempuan. Karena ”Pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari strategi dan program pembangunan kesejahteran sosial ( Edi Suharto, 2009 :1). Bahkan dijelaksan lebih lanjut bahwa ”Pemberdayaan sosial merupakan penguatan kapasitas (capacity building) para penerima pelayanan sosial sehingga memiliki kemampuan dan kepercayaan diri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, menjangkau pelayanan sosial, serta berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat secara mandiri ( Edi Suhato, 2009 :22)

            Sebenarnya pemberdayaan itu merupakan suatu cara pengkondisian suasana kebersamaaan untuk berkiprah dalam suatu inovasi dan kreatifitas kemasyarakatan yang membangkitkan kemauan, kemampuan, menumbuhkan  rasa percaya diri serta berpartisipasi dalam suatu komunitas yang menyenangkan, tanpa ada paksaan. Melainkan suatu keterpanggilan mengaktualisasikan potensi yang dimiliki masing-masing pihak dalam menemukan solusi pemecahan masalah kehidupan bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s