Pembinaan Karakter Sejak Dini

Perlu dipahami bahwa manusia lahir ke alam dunia ini  tidak tahu apa-apa “ wallahu ahrojakum mimbutunikum ummahatikum lata’lamuna syaia”. Berarti peran orang tua sangat menentukan masa depan anaknya. Apakah mau jadi baik ataupun mau menjadi orang bandel, nakal bahkan menjadi penjahat sangat ditentukan oleh stimulus yang diterima secara evolusi dalam kehidupan sehariannya.  Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh KH.Mahmud Mudrikah Hanafi saat memberikan ceramah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Mesjid Agung Kota Sukabumi tanggal 21 Februari 2011 bahwa kehidupan manusia bertahap berdasarkan fase-fase.

Untuk itu orang tua harus memahami betul tentang fase-fase tumbuh kembang anak. Dari mulai mengidam, hamil, melahirkan, masa bayi, anak-anak, remaja, dewasa, berumah tangga dan terus berkembang menjadi sosok lansia. Sebagaiman siklus yang mesti dijalani dan dibina dalam bentuk family planning. Jadi sangat tepat bagi orang tua balita diberdayakan dalam komunitas Bina Keluarga Balita (BKB). Sebagai salah satu upaya membentuk karakter sejak dini. Tentunya mesti dilakukan secara berjamaah karena manusia itu mempunyai keterbatasan kemampuan. Bila tidak dilakukan pembinaan karakter sejak dini jangan bermimpi mempunyai anak sholeh.

Apalagi manusia bisa tumbuh dan berkembang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial budaya, dimana  ia hidup dan dibesarkannya. “kullu mauludin yuladu alal fitroh” sejak dilahirkan bahwa manusia itu adalah suci bersih sebagaimana teori tabularasa dari John Lock. Untuk itu para orang tua jangan salah melilih metoda mendidik para putranya dan jangan pernah berpikir dan bermimpi mempunyai anak sholeh bila cara memberikan stimulus terhadap anak tidak agamis. Tentunya dengan memberi contoh ahlaq mulia kepada anak sejak usia dini.

Karena dambaan setiap orang tua menghendaki anaknya sholeh, cerdas, terampil serta bisa hidup mandiri disaat menginjak dewasa. Bahkan tidak menjadi anak nakal disaat remaja. Maka setiap orang tua harus mencermati potensi bawaan yang dimiliki anaknya untuk dikembangkan pada pertumbuhan dan perkembangan sejak usia dini melalui akhlaq mulia. Karena tidak ada warisan yang paling baik. Kecuali memberikan ahlaq baik yang bisa dicontoh oleh anak cucunya. Untuk membina karakter anak sejak usia dini bisa dilakukan sendiri dengan memahami modul bina keluarga balita. Apabila kondisinya sibuk karena menjadi wanita karir maka bisa dilakukan melalui kelompok bermain, Taman Kanak-kanak. Ataupun Roudhotul atfal. Bahkan sejak kesepakatan Jomte dan Dakar telah menjamur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai jawaban education for all.

Diharapkan PAUD dan BKB bisa dilakukan secara sinergis dan berkesinambungan. Sehingga pembinaan karakter anak sejak usia dini bermanfaat ganda. Di satu sisi para orang tua balita akan memahami tumbuh kembang anak balita. Di  sisi lain para anak balita tidak merasa kebingungan karena antara pendidikan yang diberikan di sekolah dengan pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya sama-sama diarahkan pada pembentukan ahalaq mulia. Kalaulah himbauan Kantor Kementrian Agama Kota Sukabumi untuk memanfaatkan waktu yang efektif antara jeda sholat magrib dan isa dengan bentuk pengajian bagi anak balita dan anak  usia SD, anak usia SMP, anak usia SMA secara rutin insya Allah pembentukan karakter sejak dini akan membuahkan hasil. Jadi gerakan mematikan TV mulai jam 18 s.d jam 20 akan memberikan dampak positif terhadap pola pendidikan keagamaan.

Melakukan sinergitas pelaksanaan PAUD dengan BKB berarti memberikan kontribusi konkrit terhadap entri point perkembangan penduduk dan pembangunan keluarga sebagaimana diamanahkan dalam Bab X pasal 58 Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009. Mengapa penduduk itu perlu dikembangkan? Dan mengapa harus dilakukan pembangunan keluarga?

Tentunya pertambahan penduduk dari sisi petumbuhan secara alamiah harus diimbangi dengan pengembangan kemampuan serta kreativitas dalam bentuk kejamaah. Sebab bila tidak dikembangkan secara berjamaah, mungkin akan menjadi tantangan dan ancaman sebagaimana yang terjadi dewasa ini di Tunisia, di Mesir, Libya yang berdampak pada revolusi sosial. Begitu pula pertambahan keluarga dari pasangan yang baru menikah perlu dilakukan pembangunan keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Karena karakteristik penduduk pada umumnya terjelma dari kebiasan setiap keluarga yang berada dalam suatu wilayah. Bila setiap keluarga mengembangkan sikap individualism maka akan berkembang pada sikap borjuis dan hedonism. Sehingga persaingan yang tajam antara individu bisa berdampak pada sikap mengendurnya kejamaahan.

Supaya sikap kejamaah tetap terpelihara, maka diperlukan keberadaan mesjid menjadi sentral pengembangan budaya yang berlandaskan pada pembentukan karakter sejak dini. Tentunya budhi pekerti dikembangkan melalui pendekatan agama. Sehingga kunci sukses dalam kehidupan keluarga menurut KH. Abdulah Muchtar  (26/2/2011) diantaranya ada empat hal; (1) mempunyai rumah besar (2) mempunyai penerangan yang cukup (3) mempunyai pakaian yang bagus (4) mempunyai kendaraan yang cepat. Maknanya bahwa setiap anak sejak dini harus didik mempunyai sikap lapang dada (jembar hate). Berikan penerangan dengan ilmu sejak dini oleh Ibu dan Bapaknya (Bina Keluarga Balita.BKB), biasakan mempunyai akhlaq baik, tentunya diimbangi dengan amal sholeh.

Membina karakter sejak dini berarti mensinergikan antara iman, ilmu, amal, ikhlas, dan shabar kepada anak. Jadi kelapangan dada serta percaya diri itu akan terbentuk bila iman kepada Allah kuat tertanam dihati, logika berpikir didasari ilmu keagamaan dan teknologi, merealisasikan antara ‘tekad ucap lampah’ sebagaimana akhlaq Rosulullah SAW. Tentunya ikhlas dikala mendapatkan kebahagiaan dengan implementasi rasa syukur.Tapi juga harus rela menerima cobaan dan musibah dengan tetap berihtiar sekuat tenaga mengharap pertolongan Allah SWT.

Tentang alkautsarbandung

Sekolah Islam Alkautsar Bandung
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di pendidikan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s