Sekolah Bukan Satu-satunya Membuat Orang Jadi Berhasil

Mengapa banyak orang yang gusar dan gundah gulanah menanggapi fenomena sekolah ataupun Perguruan Tinggi di Indonesia yang kini dipengaruhi oleh tantangan globalisasi, otonomi daerah, desentralisasi serta membludaknya pengangguran intelek yang cenderung mencari jati dirinya melalui berbagai ekpresi di jalanan, di parlemen, di lembaga sosial kemasyarakatan bahkan pada titik kulminasinya bermunculan berbagai nama partai politik. Disisi lain yang menjadi incaran serta ukuran keberhasilan manusia dewasa ini adalah HDI/IPM.  Dengan indikator yang tebatas dari sisi pendidikan, kesehatan dan daya beli. Namun sayang ukuran keberhasilan pencapaian pendidikan hanya diukur dari APK/APM dan RLS. Benarkah itu! tentunya perlu ada pengkajian yang mendalam.

Walaupun sudah ada berbagai kajian tentang perbandingan system pendidikan di beberapa Negara. Namun belum mampu menggugah hati nurani seluruh anak bangsa bahwa segala sesuatu keberhasilan sangat didominasi oleh akhlak dan karakter patriotik, nasionalis serta berperikemanusiaan. Namun dikarenakan berbeda antara behavior, attitude dengan eskpertise. Sehingga tidak tulus antara pengakuan hati dengan ucapan dan perbuatan yang nampak dipermukaan. Kendatipun semua tahu dan paham bahwa orang yang demikian termasuk orang munafik. Sedangkan orang munafik adalah akan menjadi bahan bakar neraka yang paling dalam.

Banyak orang berpandangan bahwa pendidikan itu penting bahkan di katakan Wajib. Tapi tidak sedikit orang yang tidak menghargai pendidikan. Yang sangat mengenaskan banyak suatu daerah yang mengedepankan visinya mengenai pendidikan. Namun ketika orang ingin mengikuti pendidikan malah dipersulit dengan berbagai rambu-rambu aturan yang menyesatkan. Bahkan tidak sedikit orang yang mengajukan izin belajar malah tidak diproses izinnya. Dengan dalih boleh diberi izin tapi tidak mengganggu tugas sehari-hari yang diemban seorang pegawai. Tetapi di sisi lain diakuinya bahwa keberhasilan program tergantung pada SDM. Tapi tidak sedikit orang yang sekolahnya tinggi dan sederet gelar di sandangnya. Tapi tidak diakui keberadaanya untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan Pembangunan.

Jadi disadari ataupun tidak , bahwa sekolah itu tidak satu-satunya media untuk menghantarkan orang bisa berhasil di Indonesia. Silahkan para pembaca merenungi dan kalau ada kesempatan atau ada sponsornya silahkan melakukan penelitian baik di Pemerintah, di Swasta, di Partai Politik, di Lembaga Kemasyarakatan, keagamaan ataupun di dunia bisnis dan hukum. Tidak sedikit orang yang sekolahnya tinggi tapi dipinggirkan. Paling banter menjadi staf ahli tapi keahlinnya tidak pernah diakui untuk dijadikan rujukan dalam pengambilan keputuasn atau dalam implementasi pemecahan masalah, apakah dibidang ekonomi, bisnis bahkan dibidang diplomatik. Yang ada adalah jadi nara sumber tontonan perdebatan yang tak melahirkan sebuah solusi yang jitu untuk memperbaiki behavior, atidude ataupun eskpertise. Para pakar di undang untuk debat kusir yang tidak membuka diri untuk perbaikan bersama.

Dari pemikiran penulis seperti itu mungkin saja banyak orang tersinggung dan membantahnya terhadap hipotesis tersebut. Namun sebagai kaum intelektual dan agamis perlu merenungi secara mendalam bahwa sekolah bukan satu-satunya membuat orang jadi baik akhlaqnya. Tidak sedikit orang bersekolah tinggi, tapi jadi buruan polisi, tidak sedikit orang bersekolah di luar negeri, tapi pemikirannya tidak mampu memecahkan persoalan bangsa, tidak sedikit orang bergelar tapi sehariannya hanya bertengkar dan beradu argumentasi untuk ditonton di media massa.

Dengan demikian harus mampu membedakan antara sekolah, pendidikan dan ilmu. Walaupun ada saling keterkaitan, namun semuanya bisa dibedakan.  Kalau sekolah itu hanya merupakan media untuk orang bisa mengikuti pendidikan formal. Pendidikan hanya merupakan sebuah media untuk orang mendapatkan ilmu. Untuk itu manakah yang lebih utama? Sekolah, pendidikan atau ilmu?. Dan mana yang paling agamis dan paling religi. Tentunya bagi orang Islam akan memilih ilmu karena banyak dijelaskan oleh alim ulama. “ man aroda dunya bil ilmi, man aroda akhiroh, man aroda huma faalaiha bil ilmi”. Jika menginginkan dunia yang gemerlapan ini harus dengan ilmu, jika ingin akhirat masuk surga tentunya dengan ilmu dan barang siapa menginginkan keduanya harus dengan ilmu.

Tentunya ilmu itu bisa diperoleh melalui pendidikan dan bisa pula diperoleh melalui pengalaman. Tergantung pada situasi apa yang mendominasinya. Sehingga bisa saja menemukan orang yang tidak mengikuti pendididkan formal, tapi mempunyai ilmu bahkan dikenal pula dengan istilah ilmu “ladunni”. Bagi orang sunda sering menemukan istilah Ilmu itu “bisa tinu daluang, bisa ti papada urang tapi moal mungkin tina bincurang” Mari merenungkan dan memelihara nilai-nilai lama dengan berupaya mengembangkan nilai-nilai baru.

Sayangnya istilah pendidikan dikenal dihadapan publik, hanya pada sekolah formal. Dan dianggap oleh pemerintah bahwa pendidikan formal, informal dan non formal hanya otoritas Departeman Pendidikan dan kini menjadi primadona Kementrian Pendidikan Nasional. Sehingga undang-undang Pendidikan nomor 20 tahun 2003 tentang sisdiknas diartikannya bahwa anggaran untuk Kementrian Pendidikan atau di daerah untuk Dinas Pendidikan harus 20%. Sehingga OPD lain yang menjalankan fungsi pendidikan tidak mendapatkan prioritas anggaran. Sedangkan dimanapun anggaran itu selalu terbatas. Anehnya bila ingin melakukan penelitan tentang biaya pendidikan selalu menadapatkan jalan buntu. Seolah-olah biaya pendidikan itu sudah merupakan kebijakan yang tidak bisa dijamah olah publik. Di sisi lain justru masyarakat mengejad bahwa sektor pendidikan merupakan OPD superbodi yang banyak mengelola uang. Sehingga pendidikan dianggapnya mahal.

Masyarakat sudah terobsesi bahwa pendidikan itu harus selalu di formalkan. Sehingga yang tadinya pendidikan nonformal jadi diformalkan. Yang tadinya pendidikan informal digiring menjadi pendidikan non formal.  Pemangku kepentingan menganggapnya bahwa PUS itu hanya untuk membiayai pendidikan formal nonformal yang dikelola Kementrian Pendidikan atau Dinas Pendidikan. Padahal bila dibuka secara mendalam justru yang paling berat itu adalah pendidikan nonformal dan pendidikan informal yang tumbuh dan berkembang titengah-tengah masyarakat atau di OPD selain Dinas Pendidikan. Namun seolah-olah pendidikan nonformal ataupun formal di luar Kementrian Pendidikan. Terutama yang dikelola masyarakat, dianggap tidak memerlukan biaya besar dan pendidikan informal tidak memerlukan biaya. Jadi wajar bila ada ketimpangan dalam pembentukan akhlaq dan pembentukan karakter. Yang lebih aneh lagi justru pendidikan yang diselenggarakan oleh swasta seolah-olah tidak boleh mengenyam subsidi dari pemerintah, tidak boleh merasakan pembangunan yang setara dengan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Akibatnya justru yang menikmati subsidi dan bantuan pemerintah itu bukannya orang miskin tapi orang-orang kaya yang mempunyai kesempatan mengikuti pendidikan di sekolah negeri ataupun di Perguruan Tinggi Negeri. Jadi wajar kalau ada fenomena yang kaya makin-kaya dan yang miskin makin miskin. Yang kaya semakin berkualitas dan yang miskin semakin terpuruk. Kalau sudah terlalu banyak yang terpuruknya ya wajar bila imbasnya menjadi beban pemerintah. Kalau sudah menjadi beban pemerintah ya wajar bila banyak orang yang tidak terdidik. Kalau sudah tidak terdidik mungkin jadi pembidik dan dibidik oleh dunia global menjadi budak belian yang istilahnya dikemas dengan nama TKW atau TKL. Justru dari TKW dan TKL itu menghasilkan devisa sehingga mereka dijadikan Pahlawan Devisa. Ya wajar kalau pahlawan itu berkorban dan dikorbankan.

Bila semua rakyat miskin bersatu dan berteriak membidik Pemerintah. Maka akibatnya pemerintah tidak akan mempunyai kepercayaan untuk memperbaiki sector ekonomi ataupun sektor kesehatan. Kalau ekonomi sudah tidak berkemampuan dan kalau fisiknya sudah tidak sehat maka berfikirnya bukan dengan ilmu tapi pasti dengan emosi dan dengan otot. Bila semuanya sudah menggunakan emosi pasti jadi bangsa cengeng. Kalau semuanya sudah berfikir dengan otot pasti selamanya jadi kuli dan preman. Kalau sudah semunya jadi kuli dan preman pasti tidak bisa berinvestasi karena dianggap bukan pemilik dan bukan pemengang saham Negara. Jadi nilai ukur dari HDI/IPM dirusak sendiri.

Dengan demikian coba dirubah bahwa nilai ukur keberhasilan suatu bangsa dan suatu daerah itu jangan HDI/IPM tapi harus dinilai dari akhlaq. Pendidikan penting tapi tidak harus dipaksakan diperoleh di sekolah atau di Perguruan Tinggi. Kesehatan itu penting tapi jangan terlalu dipaksakan bahwa sehat itu hanya harus dilakukan oleh medis/para medis. Daya beli itu penting tapi jangan hanya diukur dari laju pertumbuhan ekonomi tapi harus dari sikap konaah” saeutik mahi, loba nyesa”. Berjuang itu penting tapi jangan hanya untuk mengejar jadi borjuis untuk memperoleh hedonism. Yang harus dirubah itu adalah sikap malas dan berleha-leha membuang waktu hanya untuk berdebat. Tapi tidak mau melangkahkan kaki pertama. Padahal tidak mungkin orang itu bisa keliling dunia bila melangkahkan kaki saja enggan. Tidak mungkin orang itu berilmu kalau belajar itu tidak mau. Belajar itu tidak harus selalu di pendidikan formal atau di Perguruan Tinggi. Tapi bisa pula dari lingkungan sekitar kita.

Kalau selamanya orang berfikir formalistik dengan hanya bermodalkan selembar kertas berupa izasah tanpa diikuti dengan keterampilan dan sikap mental untuk menunjukkan akhlaq baik. Jangan harap akan merasa sejahtera. Pasti dirinya hanya mempersoalkan alat, bukan meraih tujuan dan cita-cita. Alat itu hanya sebuah media. Jadi kalau LPE di kejar, tanpa setiap orang merasa sejahtera dengan kemampuan dirinya maka akan terjadi ekonomi penggelembungan. Uang bukan lagi dijadikan alat tukar malah akan dijadikan sebagai komoditi. Jika gelar itu hanya untuk gengsi formalistik tanpa diimbangi dengan ilmu yang harus selalu di update maka tidak akan memberi manfaat. Baik untuk dirinya maupun untuk orang di sekelilingnya.

Penulis mengajak pada diri sendiri dan kepada  para pembaca “ perolehlah ilmu dengan belajar tanpa batas waktu sambil mengimplementasikan akhlaqul karimah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sebagai anugrah dari Allah SWT. Serahkan harta kepada Allah melalui zakat, infaq shodaqoh ataupun wakaf secara ikhlas berdasarkan ilmu dan kemampuan yang telah dimiliki. Melangkahkan kaki menuangkan pemikiran dan mengeluarkan harta hanya dengan mencari ridho Allah SWT. Maka hanya Allah yang akan membalasnya”. Jika hanya mengharap balasan dari orang yang pernah dibantu maka sampai kapan pun tidak akan pernah datang pembalasan. Yakini bahwa apa yang kita tanam pasti  itu yang akan kita petik. Hindari menyalahkan orang lain dan menyalahkan diri sendiri. Karena semuanya telah diatur Allah SWT bahwa dunia ini untuk dinikmati dan dipertanggungjawabkan diakhirat kelak.

Tentang alkautsarbandung

Sekolah Islam Alkautsar Bandung
Pos ini dipublikasikan di pendidikan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s