Sumber Daya Manusia

Seperti yang di informasikan Bank Dunia bahwa perkembangan angka partisipasi kasar SD dari tahun 1970 sampai dengan tahun 2002 meningkat dari 80% ke 100% bahkan angka partisipasi murni SD berada pada posisi angka 93% sedangkan angka partisipasi murni sekolah menengah pertama dari 18% mencapai 80%, namun sampai saat ini dalam setiap pertemuan, seminar ataupun perkuliahan selalu mengkambinghitamkan “mutu pendidikan Indonesia rendah dan menghasilkan SDM dengan daya saing rendah dan berakibat pada GDP perkapita rendah” Lantas kita berfikir apa sebabnya anomali antara peningkatan APK/APM dengan kualitas pendidikan Indonesia itu selalu dipojokan rendah, apakah alat ukur yang salah, kepentingan yang salah, mothode yang salah, cara pandang yang salah, atau memang bangsa Indonesia senang dalam posisi rendah diri, tidak mau menghargai keberhasilan bangsanya yang begitu gigih merebut kemerdekaan dari sang penjajah yang bercokol di bumi pertiwi ini selama 350 tahun, atau semua orang merasa paling berjasa merebut kemerdekaan ini sehingga semua berebut menjadi penguasa. jadi kapan kita bangga terhadap bangsa sendiri! Bila para pembaca perhatikan pendapat Dr.Hari Suderadjat, M.Pd ternyata “ada dua kunci utama peningkatan pendidikan, yaitu: Pertama adalah kurikulum sebagai ujung tombak perencanaan pendidikan yang perlu pemantapan kearah pemberdayaan SDM yang kompetitif, kedua adalah profesionalisasi pendidikan dan tenaga kependidikan yang berintikan nilai agama. Dalam hal ini termasuk kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan yang seharusnya menjadi tumpuan keberhasilan manajemen pendidikan di sekolah”. Apabila kita semua selamanya selalu mengkiblat tolok ukur keberhasilan dan tolok ukur kualitas kepada negara barat yang selalu bersekutu!. Sampai kapanpun bila anggapannya seperti itu pasti posisi Indonesia akan selalu dibawah. Sebab bila Indonesia di percaya oleh dunia sebagai negara maju akan menjadi raksasa dan mengalahkan negara adikuasa. Sampai saat ini Negara adikuasi selalu mendikte dan selalu mengatur perkembangan bangsa lain. Mereka lakukan supaya Indonesia tidak menyamai kemajuan seperti yang mereka banggakan. Mereka mengesampingkan nilai-nilai spiritual yang terintergrasi dalam setiap pola hidup dan kehidupan dunia untuk menggapai kebahagian akhirat kelak akan terus dipinggirkan, karena ukuran mereka adalah duniawi. Bila nilai enterpreneurship diukur dari teori ekonomi sampai kapanpun mungkin Indonesia akan tetap dikatagorikan orang malas dan tidak berkreasi dalam berusaha, karena input yang diberikan tidak sama dengan yang diolah para milyuner barat, tapi bila dicermati secara seksama berapa pengorbanan bangsa ini untuk mencerdaskan bangsa melalui pemberian wakaf tanah, bangunan, pesantren untuk memajukan pola fikir dan pola kerja mandiri, dan anehnya tidak ada keseimbangan penyediaan anggaran untuk pendidikan plus agama dengan pendidikan yang murni mengembangkan sain dan teknologi, coba bandingkan nilai kemandirian pendidikan yang murni sain dan teknologi dengan pendidikan yang berbasis agama, benarkah lulusan sain dan teknologi memunculkan orang-orang enterpreneurship atau justru pendidikan yang bernilai agama yang melahirkan sifat kemandirian serta siap hidup dalam berbagai tantangan global ini. Adakah sebuah peneliatan mengukur berapa lulusan sain dan teknologi yang bisa hidup mandiri dan berapa lulusan ilmu terapan berbasis agama yang bisa hidup mandiri dan siap menghadapi goncangan krisis multi dimensional. mari kita renungkan berapa orang yang mampu mengolah air laut menjadi air tawar, berapa orang yang mampu mengolah minyak mentah menjadi premium,solar,minyak tanah atau aspal. berapa orang yang mampu mengolah sampah, berapa orang yang mampu memelihara ekosistem sumber daya hutan. benarkah semakin tinggi pendidikan semakin tinggi derajatnya yang berdampak pada kemampuan daya beli, atau justru semakin tinggi pendidikan semakin ketergantungan dan semakin tidak bisa hidup mandiri. Benarkah kualitas pendidikan yang diidam-idamkan bangsa Indonesia itu seperti yang dipolakan oleh negara barat, baik dalam ukuran Unesco, ADB atau kesepakatan dakar, sementara mereka sendiri yang mengingkari kesepakat dunia tentang HAM dan mereka justru yang kikir terhadap sumbangan pendidikan bagi negara miskin ataupun negara berkembang jadi ukuran competitiveness tentang kualitas pendidikan itu dibandingkan dengan siapa, apakah nilai sosialnya atau nilai glamornya, apakah nilai agamanya atau nilai penindasannya. Kadang-kadang kita salah membandingkan, misalnya membandingkan Jogyakarta yang banyak berdiri lembaga pendidikan dibandingkan dengan Nusa Tenggara Timur, atau Irian dibandingkan dengan Bandung, membandingkan negara bekas jajahan Belanda dengan negara bekas Persemakmuran Inggris, jadi aneh kan disatu sisi APK/APM meningkat tapi tidak semua anak bersekolah. Di satu sisi program beasiswa dan dana untuk menjamin anak bisa bersekolah di anggarkan dalam APBN dan APBD tapi angka drop out tidak bisa diatasi, coba bandingkan dana Pendidikan yang disediakan di Depdiknas dengan dana pendidikan yang disediakan di Depag. Apakah kebijakan itu yang menjadi penyebab Kualitas sekolah di Indonesia rendah dan cenderung memburuk? Rupanya kita itu paling senang membandingkan hasil ketimbang melihat berapa input yang diberikan, bagaimana proses yang dilakukan, masalah apa yang dihadapinya, lantas upaya apa yang tepat untuk menyelesaikan masalah itu. Jadi kita terbiasa menemukan masalah dan mencari masalah tapi tidak terbiasa menyelesaikan masalah. Apa Sebenarnya Ketimpangan Pendidikan? Bila kita membaca hasil kajian World Bank tentang “Peningkatan Kualitas Pendidikan” ternyata yang menjadi ketimpangan pendidikan adalah ; tidak semua anak bersekolah, anak dari kelompok miskin keluar lebih dini, kualitas sekolah di Indonesia lebih rendah dan cenderung memburuk dan yang diukurnya matematika dan fisika, Persiapan dan kehadirian tenaga pengajar masih kurang, pemeliharaan sekolah tidak dilakukan secara berkala. Lantas apa yang mesti dilakukan untuk mengejar standar kualitas pendidikan yang dilakukan di Thailand tentang wajar pendidikan 12 dan wajar pendidikan 15 tahun yang gratis. Diantaranya mengurangi ketimpangan sumber daya fiskal, pertukaran penggunaan informasi serta membangun kemampuan pengajaran. Setelah mengetahui ketimpangan dan cara mengurangi ketimpangan tersebut ternyata ada beberapa langkah yang mesti dilakukan, yaitu: 1. Investasi kapasitas yang berkaitan dengan pengalaman teknik dan manajerial standar kerja, caranya mendorong; mengumumkan anggaran daerah lebih awal, DAK pendidikan, baik untuk memperbesar kapasitas pembangunan ataupun kemampuan manajemen pendidikan, termasuk mengurangi ketimpangan dana pendidikan. 2. Manajemen Berbasis Sekolah, dengan memfokuskan pada tenaga pengajar yang lebih baik, mendisain implementasi hibah untuk menutupi biaya operasional dan pemeliharaan sesuai SPM berdasarkan proposal, difikah lain hibah itu harus pro orang miskin, bahkan mengelola uang sekolah secara cermat supaya tidak membebani orang miskin, dengan demikian hibah dana sekolah diharapkan mampu menjadi alat pengurang terhadap pengeluaran pribadi orang miskin. 3. Membangun dan menjamin kualitas pengawasan nasional dengan menyediakan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan. 4. Meningkatkan kualitas jenjang karir, sehingga penggunaan dana harus lebih tepat untuk meningkatkan pembiayaan peralatan penting, penyediaan buku, pengembangan profesi guru. Disinilah diperlukan beberapa stategi, diantaranya (1) perkenalkan sistem akreditasi yang transparan seperti halnya pelatihan untuk dua tahun kedepan dan proses akreditasi untuk empat tahun kedepan (2) tempatkan dan promosikan guru berdasarkan kualitas (3) pengembangan jenjang karir bagi guru dan kepala sekolah. 5. Restrukturisasi Peran Departemen Pendidikan nasional, yaitu tugas kementrian meliputi pembuatan kebijakan, mengatur standar pendidikan, mengukur performa pemberdayaan unit pendidikan, merangsang inovasi memperluas ekperimen menyeimbangkan antara daerah kaya dan daerah miskin. Jadi Sebenarnya apa Kualitas Hasil Pendidikan itu? Bila hasil pendidikan itu diartikan lulusan, maka setiap alumnus yang kompeten diharapkan mampu memproses setiap informasi yang diterima selama belajar berdasarkan intelectual, skill, keterampilan berfikir, memprediksi, menyimpulkan. Sehingga menguasai dan memiliki konsep-konsep keilmuan, dengan pola fikir yang implementatif dalam memecahkan masalah hidup dan kehidupan Rumusan tersebut mungkin terlalu ideal dan irasional bila hanya diterapakan pada salah satu jenjang pendidikan, karena setiap jenjang pendidikan berbeda standar tujuannya, berbeda standar isinya berbeda prosesnya dan berbeda standar evaluasinya, bahkan lama pendidikan yang ditempuh setiap siswa akan mempengaruhi pula kualitas pendidikan seseorang. Hal ini pun bila ilmu yang diperolehnya bisa diamalkan dalam kehidupannya dengan ahlak mulia, maka orang itu dapat dikatakan kompeten dan itu sebagai cerminan dari kualitas hasil pendidikan. Untuk memperoleh kualitas hasil pendidikan sudah barang tentu diperlukan sekolah yang bermutu. Menurut Dr. Hari Suderadjat, M.Pd bahwa kriteria Sekolah Bermutu itu diantaranya (1) kurikulumnya berorientasi pada kecakapan hidup dan berahlak mulia (2) Pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional, kompeten dan memiliki kepemimpinan spiritual (3) Sarana yang memadai, yang memberikan suasana lingkungan yang Islami (4) Dana yang memadai digunakan dengan amanah (5) Manajemen yang profesional dengan kepemimpinan pendidikan yang dapat dijadikan tumpuan keberhasilan manajemen (6) Budaya mutu, continuous improvement. Untuk melihat lebih jauh tentang kualitas pendidikan, penulis mencoba membaca buku tentang “Education For All The Quality Imperative” dari Unesco tahun 2005, dinyatakan bahwa Tantangan pendidikan untuk semua tidak dapat dicapai tanpa meningkatkan kualitas, bahkan pada beberapa negara di belahan dunia ada satu perbedaan mencolok antara angka lulusan murid di berbagai sekolah. Diantara mereka sedikitnya menguasai keahlian kognitif. sedangkan yang lainnya ada beberapa kebijakan yang diarahkan pada penjaringan yang mendorong ke arah kesempatan belajar usia pendidikan mencapai 100%. Sedangkan Gambaran Berkualitas itu ada dua ciri karakteristik yang prinsip. pertama identifikasi pembelajaran teori pembangunan sebagai objek utama dari seluruh sistem pendidikan harus ada kesesuaian antara keberhasilan dengan indikator mereka yang bermutu, kedua menekankan peran pendidikan pada peningkatan nilai, sikap dan tanggung jawab warga negara dalam memelihara kreatifitas, serta mengendalikan emosi. Dengan demikian manfaat pendidikan berkualitas memberikan kontribusi seumur hidup terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan membantu individu memberikan informasi pilihan penting dalam meningkatkan kesejahteraan mereka. Untuk mencapai kualitas hasil pendidikan harus belajar lebih baik melalui proses belajar mengajar antara guru dengan murid saling berinteraksi, makanya kebijakan belajar lebih baik harus memfokuskan pada: 1. Melatih guru dengan standar kompetensi merupakan investasi dalam pemantapan pengajaran dan pengakuan jabatan yang mampu meningkatkan kehidupan layak. 2. Mempelajari waktu, dalam hal ini waktu harus diperhatikan, walaupun pengaturan waktu itu rimit bila dihubungkan dengan penuntasan pembelajaran dengan benchmark dari 850 ke 1000 jam pertahun bagi setiap murid, namun bila diperhatikan ternyata sejumlah kelas menggunakan waktunya untuk matematika, ilmu pengetahuan alam dan bahasa. 3. Melek hutuf sebagai subjek inti dalam menyelesaikan pembelajaran pendidikan dasar berkualitas terutama untuk pelajar dari latar belakang murid kurang beruntung. 4. Ilmu mendidik, biasanya banyak pengajar memakai metode corak melayani anak-anak secara kaku karena menitik beratkan pada hapalan tanpa belajar berfikir, sehingga menempatkan murid pada suatu peran pasif yang seharusnya dikombinasikan. 5. Bahasa merupakan pilihan penting dipakai di sekolah, karena intstuksi awal dari bahasa, pelajar meningkatkan hasil belajar berkomunikasi dengan bahasa yang dipahami dan dimengerti. 6. Bahan Pelajaran harus betul-betul disesuaikan, apa yang dapat dilakukan guru dari teks buku pelajaran. 7. Fasilitas, untuk mencapai pendidikan dasar universal diperlukan pembangunan kelas, penyediaan air bersih, penunjang kesehatan dan fasilitas penunjang lainnya. 8. Kepemimpinan guru mempunyai pengaruh kuat pada mutu sekolah, makanya ketersediaan sumber daya ini harus cukup tersedia untuk setiap sekolah. Lebih jauh dijelaskan di dalam laporan unesco bahwa kualitas pendidikan memberikan dampak pada tujuan pembangunan, pada pendapatan individu, pada kemajuan ekonomi, pada kemampuan kognitive, pada perubahan perilaku, pada penilaian internasional, Daya Saing Pendidikan Setelah memahami tentang kualitas hasil pendidikan, dicoba mengelaborasi tentang daya saing pendidikan yang kemudian mencoba memberikan pendapat tentang pendidikan model bagaimana yang bisa pempunyai daya saing, siapa yang menjadi pesaing pendidikan Indonesia. Penulis mencoba menyimak tentang daya saing Indonesia untuk The Global Competitiveness Index (GCI) dan Indonesia competitiveness community(ICC) mengatakan dikalangan Negara-negara ASEAN bahwa Singapura menduduki peringkat tertinggi, Malayasia ke 7 Thailan ke 21 Indonesia ke 28, Vietnam ke 68 sedangkan Filipina ke 71. Oleh karena itu diperlukan upaya peningkatan daya saing secara berkesinambungan melalui pembangunan kompetensi SDM yang mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, melalui program sertifikasi kompetensi, dengan catatan standar kompetensi kerja nasional indonesia, lembaga pendidikan dan pelatihan profesi serta sistem kelembagaan sertifikasi berada pada posisi independen dan terpercaya menjamin mutu. Dan harus cermat apakah daya saing negara sama dengan daya saing perusahaan? Opini yang disampaikan Mudradjat Kuncoro mengatakan bahwa loporan Internasional Institute for Management Development (IMD) daya saing Indonesia semakin merosot dari tahun ke tahun dan berada pada papan bawah, begitu pula yang dikemukakan Diana Andriyani P tentang potret hasil pendidikan Indonesia 2007 bahwa daya saing kualitas SDM Indonesia berada pada posisi 107 dari 177 negara yang diteliti. Namun Syawal Gultom dalam tulisannya Analis Pendidikan ,Daya saing dan strategi bersaing sehat bagi perguruan tinggi mengatakan ”sungguh tidak fair sebenarnya untuk memberi judgerment terhadap perguruan tinggi Indonesia. Diperlukan kehati-hatian untuk menginterpretasikan data-data empirik berupa rangking perguruan tinggi yang dipublikasikan beberapa lembaga Internasional” Bahkan fenomena yang patut diapresiasi saat ini dengan keterbatasan dukungan ekonomi politik dan sistem pembinaan, masih banyak perguruan tinggi Indonesia yang mampu memenuhi kriteria World Class University, yaitu 476 prodi perguruan tinggi di Indonesia telah masuk peringkat 500 dunia. Jumlah PT yang memiliki Quality Assurance Unit terus meningkat (PTN 82, PTS 453 dari 2770 PT) Sebenarnya semangat untuk mengejar kualitas itu sangat tinggi, namun perlu diingat bahwa histories dijajah selama 350 tahun bukan sesuatu yang mudah untuk pemulihannya, baik dari ekonomi, politik, budaya dan akhlak sangat mempengaruhi Indonesia untuk bangkit, Lantas beberapa pemikiran dalam peningkatan mutu dan daya saing perguruan tinggi yang dikemukakan oleh Satryo Soemantri Brodjonegoro , diperlukan penataan system pendidikan yang (1)otonom (2)akuntabilitas (3)evaluasi diri serta (4) peningkatan kualitas yang berkelanjutan Supaya pendidikan punya daya saing Perlu dilakukan penataan system pendidikan dengan paradigma baru, perlu penataan diri yang terintegrasi, terus menerus mengupayakan peningkatan, relevansi pendidikan, perlu menyusun renstra dan renop untuk memacu target yang sesuai indicator kinerja yang dinyatakan dalam kuantitas dan kulitas serta relevansi lulusan, prinsip link&match supaya dapat diimplementasikan, pemerintah konsisten melakukan investasi dibidang pendidikan, peningkatan kualitas staf pengajar, sarana dan prasarana, meningkatkan keterlibatan seluruh civitas akademika melalui penataan organisasi, program, penggunaan dana yang efektif/efesien, saling tukar menukar pengalaman untuk mencapai criteria Badan Akreditasi Nasional dalam peningkatan kemampuan pembelajaran untuk menghasilkan peningkatan kompetensi lulusan. Proses Pembelajaran yang Membangun Enterprenership Kreatif dan inovatif menurut Dr.Hari Suderadjat, M.Pd merupakan inti dari sikap kewiraswastaan, sikap ini dapat menambah tingkat keberhasilan pribadi maupun lembaga. Itu semua merupakan hasil dari pembelajaran yang mengintegrasikan kognitif, afektif dan psikomotorik dengan kata lain adalah integrasi antara iman, ilmu dan amal atau pendidikan kecakapan hidup. Seorang enterprener mampu mengubah peluang menjadi program yang implementatif, walaupun ada resiko tapi siap mengubah masalah menjadi peluang. Kecakapan memecahkan masalah, percaya diri, motivasi, komunikasi merupakan bagian dari nilai , sikap dan fungsi kepemimpinan dan berkembang sebagai suatu kecakapan hidup. Mengapa proses pembelajaran entrepreneurship itu penting,karena kemajuan ekonomi Indonesia dimasa mendatang sangat membutuhkan penambahan jumlah entrepreneur, bahkan berbagai riset dan studi telah membuktikan bahwa pertumbuhan jumlah wiraswastawan memiliki kaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi. Sehingga wajar bila Universitas Ciputra memberikan pembelajaran dan pelatihan kepada setiap mahasiswanya tentang kewirausahaan, dan mengutamakan praktek lapangan, kemudian menyusun dan menguji coba sebuah pembelajaran entreprenership yang dapat dilaksanakan dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah umum pada sekolah-sekolah di lingkungan grup Ciputra, selanjutnya mempersiapakan dan mengkaji pendirian Ciputra Institute Entrepreneurship bagi dunia pendidikan. Untuk menjadi entrepreneur yang ditulis pada http://yukbisnis.com ternyata yang utama adalah ide dan inovasi, uang akan menyusul, kalau punya ide brillian, uang akan datang, bahkan membangun Jaya Group selama 45 tahun bermula dari tanpa uang. Dengan MetropolitanGroup, selama 35 tahun juga awalnya tanpa uang. Dengan ciputra group, sudah berjalan 25 tahun semua tanpa uang. Supaya para pembaca termotivasi untuk menjadi entrepreneurship mari kita simak tulisan Abdul Talib Rachman menjelaskan ada 16 kecenderungan utama yang akan membentuk dunia di masa depan di dalam buku “the Learning Revolusion: To Change The Way The World Learns” by Gordon Druden dan Dr Jeannette Vos” (1)Zaman komunikasi instant (2) Dunia tanpa batas-batas ekonomi (3) Empat lompatan menuju ekonomi dunia tunggal (4) Perdagangan dan pembelajaran melalui internet (5)Masyarakat layanan baru (6)Penyatuan yang besar dengan yang kecil (7)Era baru kesenangan (8) perubahan bentuk kerja (9)Perempuan sebagai pemimpin (10)Penemuan terbaru tentang otak yang mengagumkan (11)Nasionlaisme budaya (12)Kelas bawah semakin besar (13) Semakin besarnya jumlah manula (14) Ledakan praktik mandiri (15)Perusahaan kooperatif (16)Kemenangan individu. Dikatakan oleh Dr Hari Suderadjat, M.Pd dalam bukunya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah di halaman 129 bahwa “Kemampuan direktur sekolah dalam memotivasi staf dan guru memegang peran penting dalam mencapaia tujuan sekolah. Motivasi staf dan guru merupakan kekuatan yang mendorong efektifitas dan efesiensi pencapaian tujuan” guru juga merupakan manajer kelas, dimana kreativitas dan kepemimpinan guru di kelas merupakan salah satu unsure yang mampu meningkatkan keberhasilan pembelajaran siswa. Direktur sekolah yang interapreneur memiliki kreativitas untuk membangkitkan ide dan pendekatan baru. Bila para pembaca rajin mengamati perkembangan sekolah-sekolah unggulan yang tumbuh dan berkembang di Indenesia dewasa ini , insya Allah akan tumbuh motivasi untuk mengembangkan mutu pendidikan, namun bila selamanya kita melihat perbandingan mutu pendidikan Indonesia dari hasil riset beberapa negara dan organisasi dunia, mungkin akan muncul sikap pesimis dan rendah diri, padahal meningkatkan mutu pendidikan tidah hanya cukup dengan membandingkan atau meniru, yang lebih arif dan bijaksana adalah tumbuhnya semangat baru untuk bangkit seperti yang disuarakan oleh MDG,s ”Stand Up an Take Action” Campaign. Mengapa kita semua harus menumbuhkan kreatifitas dan inovasi dalam meningkatkan mutu pendidikan,karena pendidikan itu merupakan masalah bangsa, jika lulusan tak bermutu, maka selain waktu dan biaya yang terbuang juga SDM tidak akan mampu bersaing sehingga dalam jangka panjang bangsa ini akan menjadi bangsa yang terpuruk karena bodoh dan miskin bahkan mungkin saja fihak kolonial akan kembali berbondong-bondong menjajah seperti yang pernah dialami selama 350 tahun. Jadi kalaulah bangas ini baru merdeka 63 tahun jangan terburu-buru mencaci maki kegagalan bangsa sendiri, tapi harus bersama-sama bangkit mencari solusi dan saling mengakui upaya-upaya konkrit yang telah dilakukan bangsa ini. Walaupun di sana sini masih terdapat beberapa kekuarang dan ketidak sempurnaan jika diukur dari standar nasional ataupun standar internasional, tidak sepantasnya bila kita saling caci maki dan melecehkan hasil karya bangsa sendiri, karena sebaik apapun pemikiran kita atau karya kita sudah dipastikan masih banyak kekurangan, sebab dunia ini terus tumbuh berkembang sesuai dengan dinamikanya seperti dalam spiral dinamik dalam vMemes. Disinilah diperlukan adanya kepedulian yang tinggi terhadap quality control dan quality assurance. Bahkan Mendiknas dalam pernyataannya yang dilansir berbagai media TV yang maknanya bahwa ”kualitas sampai dunia kiamatpun tidak akan selesai”

Tentang alkautsarbandung

Sekolah Islam Alkautsar Bandung
Pos ini dipublikasikan di artikel, pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s