Mengapa Sulit Maju

Salah satu faham filsafat diantaranya adalah Idealisme, dan ini banyak diikuti oleh aliran konservatif. Mereka berpendirian untuk mempertahankan budaya lama. Bahkan meyakini bahwa sesuatu dalil-dalil lama merupakan hasil penelitian berabad-abad. Namun fenomena dewasa ini cenderung bergerak dengan cepat dan terus menerus tanpa henti. Sehingga diperlukan kemampuan melakukan formulasi, implementasi, evaluasi dan reposisi issu yang nampak didepan mata. Sudah tidak jamannya menganggap orang lain itu tabung kosong yang menunggu isi. Karena informasi berdatangan dengan cepat ke ruang kerja, ruang makan, ruang tamu dan tempat tidur dengan hanya menggunakan sebuah ponsel. Maka tidak bisa dielakkan lagi terjadinya perubahan yang supersonik.

 

Namun kenapa kualitas sumber daya manusia ini sulit untuk maju sesuai dengan mutu yang dipersyaratkan oleh kebutuhan global? Padahal sudah banyak orang-orang cerdik cendekia mampu berdebat mempertahankan ide dan gagasannya dihadapan publik yang ditayangkan berbagai media. Termasuk e-lifestyle sudah mampu mengakses berbagai program Tv Broadcast, Web surfing, News, Online game, Online stock trade, Move on demand, Remote office, Music jukebox, security and surveillance, Online banking and e-payment, Phone, video phone and teleconfrence, Online gamling, Online duting and adult, e-community, e-commerce, e-learning cukup menggerakan jari tangan. Semuanya sudah bisa didapat seketika.

 

Jadi kalau berbicara masalah efesiensi dan efektifitas jauh lebih gampang didapat, ketimbang mempunyai pemikiran maju untuk memperbaiki moral, etika, estetika dan akhlak. Bahkan situasi yang terjadi sangat kompleks dan sulit memenuhi ekspextasi masyarakat. Maka otak akan terus berdenyut mencari berbagai kecerdasan untuk menemukan model kepemimpinan yang dilandasi oleh faktor-faktor agama. Supaya mampu mempengaruhi sekolompok orang melalui pendekatan Trait, behavior and situational. Sehingga melahirkan manusia yang berprestasi, jujur, handal, percaya diri, kreatif, dan fleksibel. Semua pembaca pasti menyadari bahwa hidup dengan serba keterbatasan ini tidak akan lama. Namun bagaimana hidup di dunia yang tidak lama ini mampu bersikap situasional untuk telling, selling, participating, delegating, supaya bisa menengahi tidak terjadinya konflik yang dialihkan pada unjuk kerja, memupuk kesetiaan anggota, memberikan penghormatan, outoritas dan kemampuan mengorbankan diri untuk kepentingan bersama sebagaimana konsep kepemimpinan transpormasional.

 

Untuk bisa maju dengan cepat sesuai perkembangan zaman, maka antara gesel salf dengan gemein salf harus dijalankan berbarengan. Kalaulah tokoh mutu telah memeras otaknya untuk bisa out of the crisis  tahun 1982 diantarannya W. Edwars Deming, Joseph Juran dan Philip B Crosby mengemukakan beberapa penyakit yang bisa mematikan penyakit produk diantaranya: Kurang konstannya tujuan, Pola pikir jangka pendek, Evaluasi individu hanya meninjau kerja tahunan. Hanya peroleh prestasi bukan bangun harga diri dalam bekerja, Rotasi kerja yang terlalu tinggi, Manajemen menggunakan angka yang tampak, ukuran kesuksesan, kegembiraan dan kepuasan pelanggan diabaikan.

 

Untuk berfikir maju maka orang Islam harus mempelajari secara mendalam surat 96:1-5. Di sisi lain bisa juga menyimak teori Howard Gardner (1999 :41-43) kecakapan linguistic, logica/matematika, musical, Bodily-kinesthetic, Spasial visual, Interpersonal, Intrapersonal, dan naturlistik. Teori itu dikenal dengan sebutan multiple intelegences. Sadarilah bahwa untuk memperbaiki akhlak manusia bukan hanya dengan hukum. Tapi harus multi disiplin ilmu hakikat dan ma’rifat.

 

Untuk mencapai kemajuan yang gradual dan sesuai dengan dinamika zaman, tidaklah tepat bila memutasikan orang didasari oleh funisment. Kecuali pada zaman kerajaan maka hukuman paling tepat diterapkan supaya rakyat patuh. Tapi pada era reformasi dan demokrasi akan terjadi chaos bila hukum dijadikan satu-satunya alat ampuh untuk menyelesaikan persoalan. Karena semua orang mulai melek untuk berpendapat dan berargumentasi menilai sebuah kebijakan dan sebuah keputusan. Namun bukan berarti harus kembali pada hukum rimba. Tetapi yang lebih tepat bagaimana memperbaiki akhlak itu diperkuat faktor intrinsik dan motivasi seseorang untuk berbuat baik. Sebaik apapun hukum dibuat dan diperkuat, bila manusianya lapar dan dahaga maka bangkai pun akan dimakan dan racunpun akan diminumnya untuk mempertahankan hidup atau mengakhiri hidup.

 

Jadi kata kuncinya untuk kembali kepada ketertiban dan kedamaian adalah menciptakan manusia tidak lapar dan tidak dahaga serta membuat rambu-rambu supaya orang tidak serakah. Sebanyak apapun sumber daya alam yang dimiliki. Bila manusianya tidak merasa aman dan tidak ada kesalehan sosial maka akan terjadi homo homoni lopus. Janganlah jargon memberikan keadilan di gadang-gadang, sebab yang maha adil adalah Allah SWT. Kewajiban manusia itu amar ma’ruf nahi munkar dan fastabikul khoerot. Jadi mencegah kejahatan itu paling tepat dengan berlomba-lomba untuk berbuat baik. Bila semua orang dianggap jahat maka akan muncul saling bela diri. Ekses saling bela diri maka akan muncul saling korek kesalahan orang lain. Itulah perbuatan syeithon.

 

Jika rajin membuka-buka sejarah perkembangan peradaban manusia, ternyata manusia berjuang untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya disesuaikan dengan kondisi, situasi dan realitas yang ada. Jadi setinggi apapun visi yang akan dicapai tapi bisa terukkur dengan kemampuan yang dimiliki, seperti halnya zaman purba pemikirannya sederhana dan sempurna sehingga setiap individu harus mampu menghidupi dirinya dengan cara memakan buah-buahan, dedaunan, umbi-umbian. Kemudian setelah menemukan api mencoba untuk membakar makanan hasil buruan. Perkembangan berikutnya muncul pemikirna untuk membuat alat berburu dari batu diikat pada sepotong kayu.

 

Dekade berikutnya mulai menanam dan beternak untuk kesinambungan kehidupannya. Dan mulai saling tukar informasi tetang dareah perburuan, mulailah kehidupan sosial berkembang. Di sini mulai berkembang pemikiran yang rumit tapi masih  bersifat lengkap untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Lama kelamaan jadi semakin komplek setelah berkembang zaman industri, apalagi zaman infomasi, zaman kebijakan dan terus malaju seperti spiral dinamik. Pada saat ini tidak ada satu persoalan yang bisa diselesaikan sendiri. Semuanya saling kait mengkait dan semakin tidak jelas siapa yang paling bertanggung jawab mengatasi persoalan hidup dan kehidupan ini. Semua departemen tidak jelas batas tanggung jawabnya, semua negara tidak jelas batas kekuasaan dan tanggung jawabnya. Dan akhirnya saling mempengaruhi bahkan bisa saling memeras dalam episode post modern. Disinilah diperlukan sebuah nilai baru untuk menyejukan situasi yang sedang terjadi terhadap rintihan yang memilukan. Menagpa harus ada nilai baru?

 

Perlu diingat bahwa Rohmat Mulyana (2004 :78) menjelaskan ”nilai adalah rujukan keyakinan dalam menentukan pilihan. Rujukan itu dapat berupa norma, etika, peraturan undang-undang, adat kebiasaan, aturan agama, dan rujukan lainnya yang memiliki harga dan dirasakan berharga bagi seseorang” hal ini memperjelas bagi para pembaca bahwa untuk memecahkan persoalan yang kompleks tidak cukup hanya menggandalkan hukum tertulis. Sebab ” nilai itu bersifat abstrak, berada dibelakang fakta, melahirkan tindakan, melekat dalam moral seseorang, muncul sebagai ujung proses psiko-logis, dan berkembang ke arah yang lebih kompleks”.

 

Karena nilai itu relatif maka tidak bijak bila menilai kemajuan atau kemunduruan suatu bangsa diukur hanya dari kemajuan teknologi atau kecerdasan intelektual belaka. Jadi kemajuan teknologi ataupun kemajuan ekonomi belum tentu bernilai jika diukur dari kesejahteraan bhatin, apalagi moral, etika, estetika dan akhlak manusia tidak berbanding lurus dengan kemajuan materialistis.

 

Tidak etis apabila para ilmuwan ketika menemukan sebuah persoalan besar menyudutkan kelemahan dari salah satu disiplin ilmu, apalagi hanya apriori mengunggulkan disiplin ilmu yang disandangnya. Janganlah terkena peribahasa ”gajah dipelupuk mata tidak kelihatan, semut diseberang lautan nampak jelas”. Yang lebih arif bila semua mengakui nilai manfaat dar i sebuah disiplin ilmu sehingga hidup akan aman, dami, sejahtera dan bahagia. Ingat Rosulullah dalam menyebarkan sebuah ayat atau memberi contoh pada umatnya untuk mengamalkan sebuah ayat, pasti koheren, holistik dan menggunakan berbagai keilmuan. Sehingga Rosullullah SAW multi fungsi, ya! sebagai dermawan, bangsawan, ilmuwan, negarawan dengan memancarkan akhlak mulia sehingga menjadi uswatun hasanah.

 

Keteraturan, ketertiban, kedamaian, kesejahteran, kebahagiaan, tidak akan diperoleh tanpa diimbangi dengan konsistensi ikhtiar menggunakan akhlak mulia. Apalagi dengan cara memproteksi diri merasa yang paling benar. Yang paling bahaya adalah tidak mengakui kesalahan dan kelemahan diri sendiri karena takut diberi sangsi dengan hukuman yang berat didunia ini. Karena orang yang mengakui kesalahan belum tentu berkarakter jahat, boleh jadi pengakuan kesalahan sebuah wujud dari ketawadhuan. Biasanya orang sombong tidak akan pernah mengakui kesalahannya.

 

Kunci sukses untuk bisa maju menggapai keteraturan, ketertiban, kedaiaman, kesejahteran, kebahagiaan adalah qonaah dan berakhlak mulia. Apabila terus menerus merasa tidak puas dengan kemampuan yang ada, maka yang terjadi bukan kemajuan malah akan menemukan kemunduruan, yang diakibatkan dengan ketamakan, kerakusan dan ambisius ingin menjadi penguasa dunia. (Jangan lupa hidup didunia ini sebentaaar)!!!

Tentang alkautsarbandung

Sekolah Islam Alkautsar Bandung
Pos ini dipublikasikan di motovasi, pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s