Hedonisme

Dunia fantasi menggiring manusia pada kesenangan dan kegembiraan. Hal itu positif bila diimbangi dengan keikhlasan, pleksibilitas dan kebersamaan. Namun bila hanya mengedepankan sifat hedonisme tanpa diimbangi dengan upaya dan usaha keras secara logis, sistimatis dan menyeluruh. Mungkin akan sesak nafas serasa leher tercekik. Karena diakui atupun tidak bahwa setiap kemampuan manusia itu terbatas dan setiap sumber daya itu sifatnya terbatas. Bahkan ada juga sumber daya itu yang tidak bisa diperbaharui.

 

Disinilah diperlukan pola pikir dan pola tindak yang disesuaikan dengan kemampuan yang mungkin dimiliki atau asset yang ada. Kenapa tidak! Karena tantangan dimasa depan itu akan lebih kompleks dan terjal dalam satu alunan gelombang yang dahsyat. Mungkin salah satu caranya harus mempelajari tentang teori “blue osean

 

Kesenangan merupakan kehendak insan manusia, namaun jangan sampai berlebihan, jangan merasa berkecukupan, jangan ingin terkenal, jangan sombong. Malahan kalau bersahaja itu mengumpulkan berbagai charisma. Menjadi pemimpin itu hanya sebagai alat untuk memperbanyak amal.  Dengan demikian jadi pemimpin itu jangan hanya ingin puas diri sendiri. Bahkan pemimpin itu berada pada posisi silang yang sangat memerlukan kehati-hatian. Bisa diibaratkan pada posisi antara neraka dan surga. Makanya jangan merasa paling hebat dan jangan mengklaim pekerjaan hasil sendiri. Ingatlah bahwa yang paling subjektif itu diri sendiri dan yang paling mendekati objektif adalah masyarakat.

 

Bahkan negara itu maju tergantung pada masyarakatnya. Sedangkan soko dari masyarakat adalah  keluarga. Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Nana Syaodih Sukmadinata (2008: 27) ” “Keluarga seringkali disebut sebagai lingkungan pertama, sebab dalam lingkungan inilah pertama-tama anak mendapatkan pendidikan, bimbingan, asuhan, pembiasaan, dan latihan. Keluarga bukan hanya menjadi tempat anak diasuh dan dibesarkan, tatapi juga tempat anak hidup dan dididik pertama kali. Apa yang diperolehnya dalam kehidupan keluarga, akan menjadi dasar dan dikembangkan pada kehidupan-kehidupan selanjutnya. Kelurga merupakan masyarakat kecil sebagai prototipe masyarakat luas. Semua aspek kehidupan masyarakat ada di dalam kehidupan keluarga. Seperti aspek ekonomi, social, politik, keamanan, kesehatan, agama, termasuk aspek pendidikan.” .

 

Salah satu kunci sukses memperoleh kesenangan diantaranya ” (1) harus mempunyai karakteristik pada prinsip kebenaran dan kejujuran (2) atasi sesuatu masalah sesuai dengan sumber penyebabnya, misalnya masalah kemiskinan berikan makan, minum, pakaian, perumahan. Karena masalah ekonomi tidak bisa diatasi dengan pengarahan. Setelah diatasi esensi nya! baru beri arahan. (3) tidak boleh berdusta kepada siapapun (4) tidak boleh melakukan dosa (5) jangan jauh pada Allah SWT.

 

Walaupun umat Islam paham betul bahwa kesenangan ini tidak diciptakan di dunia. Karena didunia ini untuk menanam kebaikan, insya Allah hasilnya dipetik kelak di akhirat. Namun bukan berarti di dunia ini tidak boleh bergembira, tidak boleh ceria. Tapi tidak boleh berlebihan, harus “khoero umur ao satuha” sedang-sedang saja! Bahkan yang harus dikedepankan adalah rasa syukur pada Allah SWT.

 

Harus diingat bahwa mempunyai karakteristik pada prinsip kebenaran dan kejujuran itu penting!. Tapi bukan berarti harus merasa benar sendiri, apalagi memperebutkan kebenaran duniawi. Yang terlebih penting adalah niat selalu benar dan berlindung kepada Allah SWT supaya jujur pada diri sendiri, dengan mengakui kekurangan dan kesalahan yang mungkin saja diperbuat diluar kekuasaan atau jangkauan kemampuan diri yang terbatas ini. Yakinilah bahwa hati ini akan selalu jujur dalam situasi apapun. Namun kadang kala panca indra jadi tidak jujur disaat ada kepentingan yang tarik menarik antara hati, emosi dan nafsu. Apalagi bila jasmani merasa terancam ada kecenderungan panca indra jadi berdusta.

 

Mengapa masalah harus diatasi dari sumbernya, sebab bila tidak pada sumbernya maka pemecahan masalahnya sintomatik dan hanya mejadi alat penawar sakit. Misalnya ada peribahasa sunda mengatakan “bener teh ku aya”. Berarti pernyataan itu menguatkan bahwa “kefakiran mendorong kekafiran”. Wal hasil untuk mengatasi semua masalah korupsi, kolusi dan nepotisme itu alat yang ampuh adalah memberikan kesejahteraan pada semua pihak, melalui penyediaan lapangan kerja. Kalau orang yang tamak pendekatannya bisa “hukum”, apakah hukum agama, hukum adat, hukum rimba, hukum masyarakat ataupun hukum positif. Bila orang miskin yang tidak bisa makan, tidak punya pakaian, tidak punya rumah menggunakan pendekatan hukum positif dengan dijatuhi pidana!. Bisa dibayangkan berapa tempat yang harus disediakan untuk menampung orang yang dipidana?, berapa biaya yang harus disediakan untuk memberi makannya?. Mari kaji bersama mana UU, PP, Perpu, Kepres, PerPres, Kepmen, Permen, Perda, Pergub, Kepgub, Perwal, Perbub, Kepbub, Kepwal yang tidak ada ketentuan pidananya. Pemikiran berikutnya sudah tepatkah semua penanganan masalah yang ada dihadapan kita!

 

Karena memperoleh kesenangan itu tidak boleh berdusta kepada siapapun, maka jawabannya hanya ada pada diri kita, sebab bila menjawab dengan lontaran kata-kata sudah pasti ada yang pro dan pasti ada yang kontra begitu pula bila menjawab belum.Akan muncul pertanyaan berikutnya apa saja yang dikerjakan selama ini? Pada kenyataannya susah juga melatih diri untuk tidak berdusta pada siapapun. Dan itulah pekerjaan yang paling berat adalah menghindar dari kebohongan. Mungkin tidak akan pernah ada istilah KKN bila semua  berupaya keras untuk tidak berbohong. Rasa-rasanya diri ini setiap saat berpotensi untuk berbuat dosa, apakah dosa kecil ataupun dosa besar, sedangkan untuk memperoleh kesenangan itu, tidak boleh melakukan dosa. Lantas terlintas dalam alam pikiran jadi harus bagaimana solusinya supaya tidak berbuat dosa. Tetunya obat yang paling mujarab adalah berlindung pada Allah SWT, karena yang membolak-balikan hati manusia adalah Allah SWT “ya muqolibal qulub sabit qolbi ‘ala dinik”.

 

Untaian kata dan kalimat untuk dekat dengan Allah SWT dan sedikitpun tidak jauh dengan Allah SWT, itu kayanya mudah! tapi dalam tatanan implementasinya terasa sangat banyak “AGHT”. Sehingga semakin yakin hanya Allah SWT yang mengatur semua kejadian dulu, kini dan yang akan datang, semuanya untuk pelajaran bagi kita.

 

 

Tentang alkautsarbandung

Sekolah Islam Alkautsar Bandung
Pos ini dipublikasikan di artikel, pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s