Penomena Kepemimpina Pendidikan

Masalah kepemimpinan pendidikan saat ini menunjukan kompleksitas,baik dari segi komponen manajemen pendidikan, maupun lingkungan yang mempengaruhi keberlangungan suatu pendidikan. Bahkan disatu sisi harus memenuhi SKL, dilain fihak dihadapkan pada keterbatasan sumber daya. Apakah sumber daya manusia ataupun sumberdaya keuangan,sarana dan prasarana. Semua masalah yang muncul dalam dunia pendidikan terus berkembang seperti spiral dynamic. Tapi supaya tidak terjadi chaos dituntut kepemimpinan yang mempunyai basic life untuk memecahkan persoalan.Oleh karena itu keyakinan pengajaran dan pembelajaran. dipandang sebagai sains dan sebagai seni. Persoalan yang muncul bisa sepontan, bisa berulang-ulang, makanya diperlukan interaksi yang kreatif dan dinamis antar guru dan siswa.

 

Keyakinan menangani persoalana pendidikan didasari pengalaman kehidupan unik. Pemimpian pendidikan harus mengetahui bahwa persoalan pendidikan berbeda dari satu situasi ke situasi lain tumbuh dan berkembang sesuai dengan dinamika sosial. Keyakinan mengenai pengetahuan, bagaimana Pimpinan Pendidikan melaksanakan fungsi manajemen dan unsur manajemen dapat memandang pengetahuan secara keseluruhan tidak sepotong-sepotong atau  fakta yang terpisah. Keyakinan apa yang perlu diketahui, pemimpian pendidikan menginginkan SKL bisa tercapai. Sekalipun guru masing-masing berbeda  dan perserta didik sebagai individu yang berbeda-beda pula. Dalam meyakini apa yang harus diajarkan dan dilakukan seyogyanya mengkorelasikan atara aliran Rasionalisme yang berpendapat bahwa kebenaran tertinggi bersumber dari akal manusia, dengan aliran Empirisme yang berpendapat bahwa pengetahuan/kebenaran yang sempurna diperoleh dari indera manusia sesui dengan pengalamannya. Kemudian aliran Idealisme yang berpendapat bahwa realistas dasar berkaitan erat dengan ide/jiwa. Sedangkan aliran Materialisme berpendapat bahwa kebenaran ditentukan oleh benda,kemudian aliran Positivisme hanya percaya pada yang riil saja(fakta), tetapi aliran Fenomenologi menyatakan bahwa kebenaran merupakan hasil deskripsi intuitif manusia terhadap suatu objek Eksistensialisme membicarakan keberadaan segala sesuatu termasuk manusia,  Pragmatisme sebagi suatu sikap, metode memahami akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan dalam menetapkan nilai dan kebenaran

 

Dari beberapa aliran teori filsafat, ternyata yang paling relevan dengan pendidikan adalah

  1. Esensialisme ( idealisem, pisahkan teoritik dan praktek)
  2. Perenialisme ( harus dipelajari, matematik) konstan
  3. Pragmatisme ( Jonh de wey) yang benar harus diakui oleh lingkungan oleh masyarakat, kurikulum harus diakui, sekolah miniatur masyarakat.
  4. Rekonstruktime  makna punya cita-cita misalanya sekitar 7 tahun akan merubah kondisi masyarakat.

 

Filsafat Implikasi
Eksistensialisme

(Cara manusia berada di dunia) tokohnya Martin Bober

Konsep belajar adalah dialog, sedangkan kebenaran mutlak hanya satu. Memfokuskan pada pengalaman individu, kreatifitas, subjektivitas,konkrit,rasional,realitas.

Kepemimpinan berkaitan dengan beberapa elemen utama

(masnusia sebagai individu, manajemen diri, motivasi internal, penerimaan kelemahan, perubahan, kepercayaan diri) pemimpin memiliki pengalaman luas konprehensif dalam semua bentuk kehidupan, otoritas penuh, bertanggung jawab terhadap nasibnya.

Perenialisme

Wujud absolut, penomena pluralisme agama, pengalaman keagamaan. Tokohnya Frithjof Schoun (memandang adanya kesatuan transenden pada tiap agama dan tradisi otentik, mengedepankan aspek esoperis dan kemampuan mengeleminir sejumlah perbedaan

Pimpinan mengajarkan dasar spiritual dari segala hal untuk mengembalikan keadaan kacau balau ( persoalan nilai adalah persoalan spiritual) kebenaran mutlak hanyalah satu, makanya pemimpin yang demikain bersifat rendah hati, menguasai pengetahuan, memiliki prinsif, mengembangkan pikiran dan kecerdasan, mampu mengintergrasikan nafsu, kemauan dan fikiran ( jasmani, emosi dan intelektual secara seimbang)
Konstruktivisme

Pengatahuan diperoleh secara kognitif interaksi dengan individu, lingkungan, kontrak mental dan refleksi. Tokohnya Jean Fiaget ( sensori motori sejak lahir sampai 2 tahun meng ekplorasi lingkungan) anak punya keterbatasan kognitif dan keterampilan bahawa (umur 3-7 tahun pre operasions berfikir simbolik dalam konsep tual dan bahasa) sedangkan (8-12 tahun berfikir konkrit dan operasions, dan ego sentris) kemudian (12-15 dan seterusnya formal dan operasions memahami bahasa yang abstrak dan rasional)

Pemimpin memahami perubahan konsepsi ( pelajar bukan penerima pasif pengetahuan), terbuka ( membina perubahan ide siswa yang sudah ada) memahami spikologi perkembangan, Cerdas dan tanggap terhadap perubahan sosial ( Pelajar perlu asimilasi ide baru atau menyesuaikan ide yang sudah ada)
Moralisme

Menyoroti thema kebaikan, keadilan, kesenangan, politik, hingga kebahagiaan Tokohnya Jhon R. Moot

Pemimpian menyenangkan hati, ada kalanya marah untuyk komitmen, patience  sabar, tect and  diplomacy bijaksana, inspirasional power, executif ebility , Therafy of listening, The art of nletter writing

Bagaimana pendidikan nilai dikembangkan dalam dunia pendidikan serta berimplikasi terhadap kepemimpinan, marilah kita lihat dibawah ini:

Nilai Penjelasan Implikasi pada kepemimpinan
teologis, nilai ketuhaan, agama, iman , islam, ikhsan, dunia akhirat, baik-buruk Pimpinan melakukan kebijakannya mempertimbangkan akibat  yang muncul apakah besar manfaatnya atau banyak madaratnya
logika, nilai akal sehat, benar-salah, nalar, rasional, matematis, statistik, ilmiah,akademis Pimpinan dalam melakukan kebijakannya menggunakan pendekatan saintifik dan terstruktur secara sistimatis menurut nalarnya
etika, nilai aturan, sopan santun, moral, hukum, adat, istiadat, tatakrama Pimpinan melakukan tindakan berdasarkan pola perilaku organisasi yang disepakati menjadi budaya organisasi
estetika nilai keindahan, kecantikan, keserasikan, keteraturan, kenyamanan, berkeluarga, bermasyarakat Pimpinan melakukan tindakan dan kebijakannya berdasar seni memimpin, memperhatikan keutuhan tim yang sinergis dengan menciptakan kesejukan iklim organisasi
teleologika azas manfaat, kepraktisan keunggulan Pemimpin dalam lelakukan tindakan mendorong prestasi dan bermental juara serta mengembangkan kompetitifness
deontoligisme Diharuskan atau diwajibkan tindakan itu salah atau benar  ditentukan dari akibat yang terjadi pada tindakan Krputusan pimpinan memperhitungkan implikasi dari tindakan dan menitik beratkan pada keyakinan dasaranya (basic life)
         

 

 

Adakah relevansi antara nilai agama dengan sikap kepemimpinan seseorang?. Karena pendidikan itu ”nation charakter building” membangun karekter manusia, maka kepemimpinan pendidikan harus mengedepankan nilai-nilia teologis (ketuhanan), logika, matematis (akademik), estetika (moral), estetika (keindahan), teologika (keunggulan) serta deontologisme (ditentukan dari tindakan).

 

Memahami nilai-nilai terebut akan mampu mendorong pengembangan potensi siswa, karena sifat dan kareakter siswa tidak pernah akan ada yang sama, sehingga guru sebagai pemimpin di dalam kelas harus bijak dalam mendidik dan membimbing pengembangan pola perilaku ke arah Competitifness dengan keyakinan dasar menyeimbangkan antara manfaat dan madarat yang mungkin terjadi dari pendekatan saintifik yang kebenaran tidak mutlak ( tidak absolut). Tetapi ada standar-standar yang disepakati berdasar teori yang shohih.

 

Filsafat Dasar Filosofi Kepemimpinan Pendidikan secara garis besar meliputi Eksistensialisme memfokuskan pada pengalaman individu, kreativitas, subjektivitas, konkrit, rasional, realistas sehingga berimplikasi pada nilai kepemimpinan yang mampu memanaj diri dari pemimpin yang memiliki pengalaman luas, konprehensif dalam semua bentuk kehidupan dengan otoritas penuh dan bertanggung jawab.

 

Perenialisme memandang adanya kesatuan transenden pada tiap agama dan tradisi otentik, mengedepankan aspek esoperis dan kemampuan mengeleminir sejumlah perbedaan sehingga nilai yang berkembang dalam kepemimpinan pendidikan mengajarkan dasar spiritual dari segala hal untuk mengembalikan keadan kacau balau pada persoalan nilai persoalan spiritulan mengedepankan kebenaran mutlak hanya satu. Makanya pemimpin yang demikian bersifat rendah hari, menguasai pengetahuan, memiliki prinsif mengembangkan pikiran dan kecerdasan, mampu menintegrasikan nafsu, kemauan dan fikiran, jasmani, emosi dan intelektuasl secara seimbang.

 

Konstruktivisme secara kognitif menunjukan interaksi individu dengan lingkungan, sehingga refleksi mental melalu snsori motorik sejak lahir sampai 2 tahun anak masih mempunyai keterbatasn kognitif, kemudian berkembang pada usia 3 sampai 7 tahun berfikir simbolik dalam konsep bahasa, sedangkan pada usia 8 sampai 12 tahun mulai berfikir konkrit dan operasional dan ego sentris. Kemudian pada usia 12 sampai 15 tahun secara formal dan operasioanl memahmai bahasa abstrak dan rasional. Karena bahasa itu merupakan alat komunikasi. Maka menurut Sofyan Sauri dalam bukunya  Pendidikan berbahasa Santun (2006: hlm 87) memiliki nilai; 1)kebenaran, 2)kejujuran, 3)keadilan, 4)kebaikan, 5)lurus, 6)halus, 7)sopan, 8)pantas, 9)penghargaan, 10)khidmat, 11)optimisme, 12)indah 13) menyenangkan, 14) logis, 15)fasih, 16)terang, 17)tepat, 18)menyentuh hati, 19)selaras, 20) mengesankan, 21) tenang, 22) efektif, 23)lunak, 24) dermawan, 25)lemah lembut, dan 26)rendah hati.

 

Nilai universal dengan sikap kepemimpinan seperti halnya pengetahuan (cognizance) berimplikasi pada pengambilan keputusan secara tepat, baik dari segi esensi persoalan, waktu, situasi, subjek, objek mengarah pada Zero defect. Sedangkan comitment dan comfidence berimplikasi pada pemimpin yang bertindak tidak ada keraguan, bertindak melalui proses yang benar dan bertahap, tidak keluh kesah bahkan bersifat progresif mengarah pada apencapaian tujuan strategis yang kan dicapai organisai. Sedangkan compassion dan intergrity memperhitungkan setiap tindakan secara matang, dengan mengendalaikan resiko yang muncul dalam interaksi organisasi. Communication melalukan negoisasi untuk bekerja dalam sebuah tim dengan network pada pemangku kepentingan dan coustomer satisfiction.

 

Yang paling tepat tentang aliran filsafat pendidikan adalah konstruktivisme, karema mampu merekonstruksi pengalaman dan pengetahuan serta nilai yang diperoleh dalam proses pendidikan pada nilai-nilai baru yang sesuai dengan situasi dan kondisi.

 

Dengan membahas dasar filsafaf filosipi pendidikan, diharapkan mampu memberikan gambaran secara koprehensif tentang  nilai-nilai yang terkandung dalam proses pendidikan

Tentang alkautsarbandung

Sekolah Islam Alkautsar Bandung
Pos ini dipublikasikan di kepemimpinan, pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s