Lejatnya Berkarya

Kalau kurikulum pendidikan tahun 1968 sering mengedepankan kurikulum prakarya pada setiap jenjang pendidikan. Ternyata telah membekas pada anak bangsa untuk mampu berkarya dan berkreasi sesuai dengan tingkat pendidikan dan usia anak. Sehingga tidak sulit mencari tenaga operator yang mampu menghasilkan sebuah produk. Bahkan alat permainan edukasi dibuat dan diciptakan oleh anak itu sendiri. Namun perkembangan dewasa ini prakarya sudah nyaris hilang. Sehingga ide baru untuk mengembangkan industri kreataif, baru pada tatanan konsumtif dan imajinatif. Dan anak berhayal serta berangan-angan memperoleh sesuatu alat pemuasnya secara instant.

 

Tidak terlalu salah bila di alam global anak dibawa kepada pemikiran abraksi, untuk melihat pandangan jauh ke depan yang dikenal dengan istilah Visi. Namun bila lahirnya sebuah visi itu tidak melalui tahapan yang sistimatis dan logis. Maka hanya akan jadi sebuah rangkaian kata-kata yang indah dan enak dibaca tapi sulit untuk dijangkau dalam sebuah ruang dan waktu yang tepat. Disinilah diperlukan implementasi tentang pendidikan keluarga dalam sebuah system yang terintegrasi. Dan pendidikan anak usia dini tidak disalah artikan menjadi sebuah proyek yang bisa menghasilkan uang dari proposal yang dibuat. Tetapi pendidikan anak usia dini adalah sebuah program yang harus dilaksanakan oleh setiap keluarga membimbing dan mendidik anak sejak dalam kandungan sampai persiapan masuk sekolah.

 

Bila pendidikan anak usia dini selalu diformalkan dalam sebuah ruang belajar seperti layaknya anak TK ataupun RA maka akan terjadi pengkarbitan perkembangan spikologi anak. Bahkan anak tidak akan berpola pada orang tua tapi akan berpola pada pembimpingnya yang mentransformasikan nilai-nilai formal. Karena anak dibawa bermain dengan menggunakan alat atau media yang telah distandarisasi maka kreasi anak menjadi terhambat. Apalagi bila anak sejak usia dini sudah dititipkan pada orang lain, maka nilai yang diadopsi oleh anak akan mengabaikan contoh dan keteladanan orang tuanya.

 

Karya apa yang mesti dilakukan orang tua supaya anak usia dini mampu berkarya  sesuai dengan alam pikirannya  pada periode keemasan antara 0 sampai 5 tahun?. Untuk masyarakat menengah ke atas mungkin tidak terlalu bermasalah disaat menemukan kejanggalan perkembangan anak usia dini. Mungkin saja mereka akan datang ke Dokter, ke Bidan atau ke Psikolog untuk berkonsultasi. Tapi bagi orang tua yang ekonomonya kurang beruntung harus kepada siapa berkonsultasi. Disinilah diperlukan karya nyata dari Kader, PKK dan PLKB memberikan konseling dan kunjungan rumah pada orang tua yang mempunyai anak balita dalam kontek Bina Keluarga Balita.

 

Bina Keluarga Balita sudah  lama digulirkan sejak BKKBN berdiri tahun 1970. Namun mungkin para pembaca bertanya-tanya mana sih yang paling menonjol dan mampu menjawab karya nyata BKB dalam mendukung kualitas pendidikan anak usia dini atau BKB mana yang sudah mempunyai karya nyata dalam meningkatkan angka partisipasi pendidikan anak usia dini. Siapa yang harus memulai mencari data itu apakan Kader, PKK, PLKB, Bidang KS, BPMPKB, Badan PP KB, Kanwil BKKBN?. Barapa kelompok BKB yang telah berubah menjadi TPA, telah berubah jadi TK, jadi RA atau jadi Play group.

 

Harus disadari bila tidak ada contoh yang paripurna tentang keberadaan BKB, maka orang tua akan kesulitan mencari pola yang cocok dalam memberikan pendidikan anak usia dini. Padahal sudah disadari bahwa anak balita yang tidak dibina secara baik akan mengalami gangguan perkembangan emosional, social, mental, intelektual dan moral. Maka program BKB diharapkan jadi alternative peningkatan peran orang tua dalam pembinaan tumbuh kembang anak usia dini dari sisi fisik, kecerdasan, emosional dan social supaya tumbuh kembangnya maju, mandiri dan berkualitas.

 

Kalau orang Islam merujuk uswah pada Rosulullah SAW, insya Allah akan mampu melahirkan generasi muda yang  perfikir, berkarya dan beramal secara paripurna. Karena di Rosulullah SAW itu uswatun hasanah. Lantas bagaimana mengoperasinalkan supaya di era global seperti ini para remaja bisa lihat contoh dalam berkarya. Disinilah perlu ada kemampuan mengelaborasi kata ”lihat contoh”, yaitu

 

Logika

 

Penulis terilhami oleh tulisan Pof. Dr. Achmad Sanusi tentang pendidikan alternatif (1998) pada halaman 401-415 dijelaskan bahwa ”terus belajar berpikir, mempelajari soal-soal berpikir, dan meningkatkan mutu berpikir. Tentunya tidak asal atau sekadar berpikir, melainkan harus belajar berpikir dan perpikir yang sah, benar, baik, bagus/indah dan bermanfaat….Pribadinya yang berpikir, latar belakang historisnya, sistem nilainya, kondisi fisik-mental-spiritualnya, dasar atau rujukan berpikir, dasar atau motivasi, fungsinya, arahnya, tujuannya, sasaran tujuannya, instrumen/alatnya, instrumen/alatnya, obyek (sasaran materi acaranya), ruang lingkupnya, perspektif waktunya, metodenya, pendekatannya, caranya, gayanya, sifat atau karakteristiknya, kandungan (bobot), kegiatannya, hasil (output)-nya dampaknya, dan dampak pengiringnya.”

 

Apabila anak balita dilatih untuk berpikir sesuai dengan perkembangan fisik dan jiwanya, akan memeberikan peluang bagi generasi mendatang mengungkapkan potensi dirinya secara sistimatis, logis serta mengenali indikator dan kriteria pengertian yang diagap tepat sesuai dengan alam pikirannya. Saat ini anak balita sudah diperkenalkan pada media elektonik sebagai alat KIE dalam sebuah game dalam pentuk play station, ataupun dalam vitur internet yang bisa dipilih sendiri. Sehingga abstraksi anak balita lebih cepat berkembang dibandingkan dengan kedewasaan emosional dan perkembangan jiwanya. Hal ini bisa berakibat pada perkembangan abstrasi yang cepat tapi tidak diimbangi dengan perkembangan kemampuan berkarya nyata yang penuh makna dan berkesan pada perkembangan beriktunya.

 

Lantas bagaimana supaya mampu berpikir bermakna untuk melatih karya nyata!

 

Disinilah setiap orang tua sang anak harus dilatih oleh kader dasa wisma dalam pertemuan nonformal dan informal bahkan kunjungan rumah yang intensif dalam mensosialisasikan program BKB, harus logis dan sistimatis. Karena bila BKB dilakukan secara sporadis. Dihawatiskan programnya bagus dan logis tapi tidak implementatif. Dikarenakan para kader tidak mampu membuat ragam alternatif BKB KIT sesuai dengan lingkungan dan situasi yang berkembang dalam suatu daerah. Atau juga salah menerapkan metoda pembelajaran.

 

Supaya hasil Bina Keluarga Balita logis, maka setiap kader sebagai tutor/fasilitator harus mampu menguasai teori andragogi dikarenakan setiap orang tua balita yang masuk dalam katagori Bina Keluarga Balita sudah mempunyai setumpuk pengalaman pribadinya masing-masing. Jadi kader itu logika berpikirnya harus menjadi fasilitator atau motivator agar setiap keluarga balita mampu membimbing anak balitanya dirumah. Sedangkan kader kedua yang berfungsi sebagai pengasuh anak balita yang ikut ibunya disaat ada kegiatan Bina Keluarga Balita harus mampu menjadi pembimbing yang sabar dan telaten. Untuk mengetahui kader yang mampu berpikir logis bisa dilakukan melalui,  ”Penelitian sebagai pencarian ilmiah ( scientific inquary)”(Nana Syaodih Sukmadinata, 2008: 1)

 

Harus diakui bahwa pengetahuan, pemahaman dan kemampuan atau kesempatan manusia itu sangat terbatas. Di sisi lain kemaunnya tidak terbatas, sehingga ada dorongan untuk mengetahui cara memuaskan kebutuhannya. Kadang-kadang di saat mencari solusi untuk memuaskan kebutuhannya tersandung oleh berbagai masalah yang rumit dan kompleks sehingga menjadi ancaman bagi keselamatan diri dan keluarganya. Apalagi dengan kemajuan tekonologi di alam global saat ini terus melaju dengan cepat dalam hitungan detik. Sehingga manusia tidak merasa puas terhadap hasil yang telah diperolehnya. Disiniliah orang tua dari anak balita harus menggunakan logika berpikirnya bahwa tantangan yang harus dihadapi untuk mendewasakan anaknya perlu bimbingan dan arahan dari para kader yang mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

 

Iman

 

Untuk mengelaborasi kata iman telah dijelaskan oleh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi dalam buku mutiar Hasdits (1979) halaman 3 ” iman ialah percaya pada Allah, dan Malaikat-Nya, Perjumpaan dengan Allah, Nabi utusan-Nya dan Percaya pada hari bangkit dari kubur”. Bagaiman Keluarga Balita agar mampu melatih alam pikiran anak balitanya Untuk mengembangkan. potensi peserta didik. Menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak mulia, Sehat, Berilmu, Cakap, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Bertanggung jawab. Tentunya harus ditanamkan rasa percaya diri.

 

Memahami kata iman berarti mampu melakukan sinkronisasi antara tekad, ucap lampah. Sehingga kalau dalam salah satu darma pramuka dikatakan ”suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan”. Merupakan satu kesatuan yang perlu ditanamkan pada anak balita. Sebab diakui ataupun tidak bahwa di usia itu dikatakan golden age. Karya seorang ibu sangat bermakna pada anak balita, dari mulai menyusui, memberi makan, membimbing belajar berbicara, memapah disaat mulai belajar jalan dan terus setiap tahapan tumbuh kembang anak dilakukan secara telaten ( baik yang berhubungan dengan gerakan halus ataupun gerakan kasar).

 

Hati

 

Nurani seorang ibu sangat halus terhadap anak balitanya, sehingga banyak cara yang dilakukan oleh perempuan karir memasukan anak balitanya kepada TPA, TK, RA untuk memupuk ketajaman hati sang anak. Tapi bagaimana dengan perempuan yang kurang mendapat nasib sebaik wanita karir. Jika dibandingkan dengan  perempuan karir dalam memupuk hati nurani sang anak. Apakah dibiarkan bebas seperti halnya pendapat Rausou anak dibebaskan atau dibimbing. Bila dibimbing sendiri bagaimana caranya?. Maka pemerintah untuk mengayomi masyarakat yang kurang beruntung diluncurkan program BKB.

 

Hati yang luluh menerima kebenaran dan kebaikan biasanya dilatih sejak dini oleh orang tuanya. Karena kehangatan komunikasi orang tua baik dalam gerak tubuh maupun bahasa verbal sangat bermakna bagi anak untuk mengembangkan konsep diri yang sehat. Hati tidak pernah berbohong dalam situasi apapun. Sehingga gerak tubuh yang halus dan kasar akan bermakna bila terpancar dari relung hati yang paling dalam. Itulah faktor instrinksik yang bisa mendorong motivasi ke arah perbaikan akhlaqul karimah.

 

Amal

 

Karya nayata yang logis didasarkan iman dan hati yang tulus akan membuahkan amal sholeh yang memberi manfaat bagi orang banyak. Sedangkan ilmu tanpa amal bagaikan pohon kayu tak berbuah. Untuk itu istilah prakarya kini diganti dengan KTK harus mampu mendorong anak mau berkarya dan berkiprah mengimplementasikan ilmu dan pengetahuan yang telah dimilikinya.

 

Jika diukur dari nilai kecerdasan mungkin anak sekarang lebih cepat dalam berpikir dan berimajinasi. Sebagai salah satu buktinya, sudah banyak anak bangsa yang mampu bersaing dalam arena olimpiade internasional dibidang science dan teknologi. Namun disaat ada tuntutan beramal bagi lingkungan dimana anak itu berada, kadang kadang terjadi hambatan. Disini muncul pertanyaan apakah kecerdasan dan keterampilannya tidak berbasis lingkungan anak itu dibesarkan atau alat KIE sudah terstandardisasi dari produk pabrikan hasil robot-robot elektronik.

 

Taqwa

 

Sebenarnya bila dicermati secara mendalam bahwa mendidik anak untuk berkarya nyata sejak balita merupakan wujud ketaqwaan pada Allah SWT. Karena salah satu ciri orang taqwa adanya rasa takut. Sedangkan di dalam surat annisa ayat 9 dinyatakan  ”Walyahshallladzina lau taroku min kholfihim dzurriyatan dhi’afa” Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka, anak-anak keturunan yang lemah)

 

Mendidik anak sejak dini berarti meningkatkan derajat ketaqwaan pada Allah SWT. Dan harus diyakini bahwa yang akan terbawa sampai hari pembalasan hanya ada tiga perkara, yaitu anak yang sholeh, amal zariah dan ilmu yang bermanfaat. Selain itu semuanya ditinggal di dunia. Bahkan mungkin saja yang namanya jabatan, kekayaan dan penghormatan sesaat itu hanya jadi fitnah belaka.

 

Kadang-kadang semua orang lupa bahwa kedudukan manusia di dunia ini sama. Dan yang membedakan hanyalah derajat ketaqwaannya. Tapi untuk mencapai derajat ketaqwaan yang diimplementasikan dalam bentuk karya nyata sudah menjadi barang langka. Kenapa?

 

Apakah karena ketidak konsistenan dalam mengambil rujukan pola tingkah laku atau karena memang tantangan globalisasi yang sudah tanpa batas ini. Sehingga mudah terpropokasi dan terpengaruh dengan informasi yang serba instan dan cepat tanpa diimbangi dengan kemampuan literasi dan mencari sumber rujukan yang pas dengan Uswatun hasanah.

 

Cara

 

Orang Islam mengenal suatu cara mengajak pada jalan kebaikan itu dengan hikmah, sehingga akan menjadi petunjuk. Bahkan orang Sunda mengenal perdamaian dengan mengedepankan saling menghormati ”ciri salembur cara sadesa”. Dan dalam  hukum positif dikenal dengan istilah lifeing low. Sehingga kebiasaan yang baik bisa dianggap jadi acuan. Lantas kita berpikir masih kah kita lihat contoh-contoh yang baik disebar luaskan oleh berbagai media. Atau hanya mendapatkan suguhan informasi negatif. Sehingga berdampak pada pola tingkah laku saling curiga dan saling mengintai bahkan saling menghujat yang berujung pada balas dendam.

 

Saat ini hampir punah cara-cara memotivasi untuk berkarya, yang ada adalah bagaimana cara menghukum orang dan mencari kesalahan orang. Bahkan hampir semua peraturan dari pusat sampai di daerah yang dikenal adalah mengatur, melarang dan mempidana. Apakah memang hanya cara itu yang mampu memperbaiki akhlak bangsa ini? Dengan unsur hukuman dengan harapan ada unsur jera. Atau malah melahirkan residivice. Yang menganggap kebal hukum. Padahal tidak akan pernah ada yang kebal hukum. Sebab masih ada pengadilan Allah SWT. Ingat pengadilan Allah tidak akan salah memeriksa dan tidak akan salah menghukum.

 

Oleh karena itu mari perbaiki cara untuk memotivasi bangsa ini supaya mau berkarya dan memberi manfaat antara sesamanya. Dengan pola amar ma’ruf nahi munkar.

 

Organisasi

 

Bila para pembaca orang Islam! pasti mengenal betul bahwa ”Al bhatilu binnidhom yaglibul hakku bila nidhom” kejahatan yang terorganisir dengan baik akan merusak kebaikan yang tidak diorganisasikan dengan baik. (seperti layaknya mafia). Dengan demikian organisasikan seluruh orang yang mau dan mampu berkarya dalam sebuah organisasi yang tepat.

 

Namun harus hati-hati saat ini telah bermunculan berbagai organisasi yang mengatasnamakan orang miskin dan seolah-olah membela orang miskin tapi gaya, cara dan organisasinya tidak nampak denyut nadi orang miskin dengan sikap kesabarannya. Tapi yang muncul adalah sikap arogansi.

 

Dalam situasi yang kompleks seperti sekarang ini sulit membedakan mana organisasi yang benar-benar membela orang miskin, mana organisasi yang mengekpoitasi orang miskin. Sehingga kepentingan orang miskin tidak terkebiri dan orang yang benar-benar tulus membela orang miskin dilindungi serta mendapat tempat di hati masyarakat. Jangan sampai organiasi yang benar-benar membela orang miskin malah tenggelam dan sirna ditelan ganasnya ombak kehidupan global ini.

 

Niat

 

Segala sesuatu tergantung pada niat ” innamal a’malu binniat” sehingga antara niat dan motivasi harus harus tulus semata-mata mencari ridho Allah SWT. Bahkan tindakan prefentif mencegah kejahatan adalah mempersempit ruang gerak antara niat dan kesempatan.

 

Tekonologi

 

Kemajuan teknologi tidak bisa dibendung membanjiri bumi pertiwi ini. Tapi sebagai bangsa yang bijak harus mampu memilah dan memilih mana tekonologi yang mendorong terhadap perbaikan akhlak dan mana teknologi yang merusak akhlak. Hasil kemajuan teknologi bila dimanfaatkan pada hal yang baik insya allah bermanfaat. Tapi bila hasil kemajuan teknologi itu disalahgunakan maka yang menanggung akibat bukan hanya pelaku tapi juga lingkungan sekitar.

 

Disiniliah karya teknologi harus benar-benar dimanfaatkan untuk memperingan tugas yang diemban oleh setiap individu untuk mampu bertahan hidup di era persaingan global ini.

 

Operasional

 

Setiap langkah kegiatan yang logis, didasari iman dengan hati yang tulus ikhlas akan diikuti oleh amal yang nyata menuju ketakwaan yang diridhoi Allah SWT dengan cara yang hikmah. Diorganisasikan secara baik, diiringi niat yang tulus yang ditunjang oleh teknologi canggih bisa dioperasionalkan dengan baik dan lancar.

 

Hukum

 

Setiap langkah dan kegiatan yang diemban bila mengacu pada tata aturan hukum agama dan hukum darigama (hukum positif) insya allah akan diselamatkan oleh Allah SWT. Walaupun ada ’mafia’ yang sengaja mengejar dan mencari-cari kelemahan dan kesalahan orang demi mendapatkan sejumlah rupiah. Tapi tetap Hukum Allah SWT akan  berlaku bagi orang-orang yang taqwa dan akan diberlakukan pula bagi orang yang dholim.

Tentang alkautsarbandung

Sekolah Islam Alkautsar Bandung
Pos ini dipublikasikan di motivasi, pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s