Gentra Hijau Embrio

Seperti perjuangan leluhur Al-Kautsar yang mencintai kegiatan pertanian, merupakan perangsang munculnya ide dan gagasan berdirinya sebuah lembaga pendidikan formal. Oleh karena itu tidak berlebihan bila aktivis al-kautsar menggagas suatu perkumpulan Gentra Hijau yang mempunyai makna Generasi Tani Rimba Alam Hijau. Berarti  membiasakan kepada anak sejak dini mencintai profesi agro sebagai salah satu alternatif mata pencaharian kelak dikemudian hari, karena kebutuhan akan pangan harus ditata ulang jangan sampai di era global, masyarakat agraris terus menerus inpor berbagai kebutuhan pokok. Kita mengetahui persis bahwa kebutuhan pokok itu tidak bisa ditunda-tunda, terlebih-lebih pertumbuhan penduduk baik dari vertilitas maupun morbilitas terus berkembang yang berakibat pada pertambahan penduduk.

 

Pertambahan penduduk harus diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan pokok, diantaranya produk industri agro. Disinilah siswa memerlukan belajar pembiasaan mencintai tanaman, mencintai bercocok tanan, mencintai kegiatan peternakan, mencintai kegiatan perikanan serta berkreasi mengembangkan agri bisnis yang memberikan peluang usaha dikemudian hari. Bila tidak dilakukan pengenalan sejak dini mungkin akan sulit mencari orang yang mau dan mampu bercocok tanam didaerah yang subur ini.

 

Selain mencintai kegiatan pertanian, para siswa harus mampu menaklukan rimba yang didalamnya banyak penomena menantang, apakah dari lahan yang berbukit, binatang buas ataupun tanaman langka yang tumbuh subur dipegunungan. Orang rimba biasanya mampu surpivel dalam mempertahankan hidup dan kehidupan yang penuh tantangan, hambartan, gangguan ataupun ancaman. Namun harus merasa terpanggil untuk mempertahankan ekosistem secara utuh di alam yang semakin rusak ini.

 

Mencintai Alam berarti kita mampu membaca penomena yang sedang terjadi dalam pemanasan global, sehingga diperlukan sikap proaktif untuk melestarikan lingkungan, baik dalam gerakan reboisasi hutan yang gundul, memelihara sumber air bersih maupun air untuk pertanian.

 

Diharapkan dengan kemampuan bertani,memelihara ekosisten flora dan fauna yang ada disekelilingnya akan nampak daerah itu hijau menyejukan seperti layaknya daerah agraris yang tumbuh subur berbagai renik-renik di dalamnya dan memberi manfaat bagi alam semesta.

 

Kegiatan yang dilakukan dalam organisasi Gentra Hijau untuk melatih kemandirian, makanya dilakukan pelatihan cara menanam palawija berupa cabe kriting, jualan pupuk, beternak ayam petelur, menelusuri sungai dan gunung serta melakukan penanaman pohon perindang ditanah gundul.

 

Anggota Gentra Hijau adalah mereka yang sanggup hidup konaah, sangguh hidup bekerja keras tapi juga harus cermat disaat menemui kesulitan di hutan rimba, harus cerdas untuk menyelamatkan diri dikala terjadi bencana tapi juga harus ikhlas bila upaya maksimal tidak seimbang dengan hasil yang  diperoleh atau kenyataan yang ada. Dalam rekrutmen anggota baru, dilakukan secara sukarela tanpa ada paksaan, tapi  bila sudah masuk jadi anggota harus sanggup bekerja keras.

 

Dengan keuletan dan kesungguhan untuk mengayomi anggota Gentra Hijau oleh Dudi Akhmadi, SP., mampu melahirkan generasi yang kreatif dan mandiri sesuain dengan kemampuan dan kebutuhannya, bahkan anggota gentra hijau pernah dibawa mendaki ke berbagai gunung seperti halnya gunung tangkuban perahu, manglayang, gunung arca, gunung gede, gunung pangrango.

 

Ketangguhan dan kemandirian anggota gentra hijau memberikan kontribusi konkrit terhadap perkembangan al-kautsar, karena penomena yang ditemui didalam kegiatan al-kautsar itu sangat kompleks dari mulai keterbatasan dana,sarana,personal serta tantangan dari faktor ekternal yang selalu mencari kelemahan dan kekurangan SMP PLUS AL-KAUTSAR, dengan lontaran apa sih plusnya SMP AL-KAUTSAR, hal ini dilontarkan ketika siswa bermain-main bola dan bolanya masuk kepagar tetangga.

 

Tidak hanya sampai disitu tantangan yang dihadapi al-kautsar, bahkan pernah dikirim surat disaat  ada pengembang Geoasri membongkar solokan, dan solokan itu tidak diselesaikan didepan SMP PLUS AL-KAUTSAR sehingga airnya merambah kejalan serta kotoran buang air besar sangat bertumpuk menjijikan dituduhkan kepada siswa al-kautsar, sampai-sampai makna surat itu mengandung arti al-kautsar tidak diperkenankan buang air di WC Mesjid Nurul Jannah. Dari kondisi isi surat itu ditelusuri oleh Kepala Sekolah dan Guru, siapa sebenarnya yang membuang air besar di WC Mesjid Nurul Jannah, ternyata Sdr.Sensen Cucu pemberi Wakaf Mesjid Nurul Jannah yang juga tinggalnya didekat mesjid, tapi saat itu pulang sekolah dirumahnya ada kendala, maka diluar jam sekolah dan batik sekolahnya belum diganti pakaian bermain melakukan buang air besar di WC Mesjid Nurul Jannah.

 

Persangkaan yag dituduhkan kepada al-kautsar terlalu tendensius karena yang buang air besar ternya salah seorang pemilik WC Mesjid Nurul Jannah yang kebetulan sekolah di SMP PLUS AL-KAUTSAR, tinggalnya dilingkungan  Mesjid Nurul Jannah, ya wajar kalau diluar jam sekolah ataupun disaat jam sekolah, sesekali buang air kecil atau buang air besar di WC Mesjid Nurul Jannah, karena merasa sebagai pemilik dari mesjid nurul jannah.

 

Dikarenakan SMP PLUS AL-KAUTSAR telah membentuk Gentra Hijau untuk menangkal berbagai tantangan,hambatan,ancaman dan gangguan, sehingga cacian, ejekan, hinaan ataupun penggembosan terhadap perkembangan al-kautsar oleh orang-orang tertentu dihadapi dengan penuh semangat dan santai, bahkan dianggap sebagai pupuk, karena pupuk organik yang dipergunakan untuk memberikan nutrisi pada tanaman cabe kriting itu menjijikan tapi bisa menyuburkan.

 

Para aktivis al-kautsar dilatih untuk siap menerima kritik,saran pendapat ataupun upaya penggembosan dari orang lain sebagai ramuan yang mampu mengungkit semangat juang seperti halnya disaat mendaki gunung. Pendiri Yayasan Al-Kautsar selalu membayangkan bagaimana perjuangan Nabi Besar Muhammad SAW berda’wah dilingkungan masyarakat jahiliah, tapi dengan  alqur’an, bisa menjadi masyarakat yang ruhama. Sekarang bayangkan oleh para pembaca bagaimana merubah pola pikir Panggilingan sebagai salah satu Desa IDT menjadi masyarakat yang maju seperti piagam madinah.

 

Pendiri Yayasan Al-Kautsar merasa yakin bahwa disuatu saat apabila Panggilingan Desa Sindanglaya sudah maju dan mampu memberi manfaat bagi perkembangan daerah sekitarnya akan bermunculan orang mengaku sebagai pahlawan kesiangan, tapi itu tidak masalah karena pendiri yayasan al-kautsar mempunyai semboyan ”Bila kita ingin maju dan memajukan orang lain jangan pernah berfikir siapa yang punya nama”, biar sejarah mencatat bahwa Change of mindset bukan datang tiba-tiba tapi melalui proses panjang.

 

Biarkan orang  berteriak mencaci maki keberadaan al-kautsar tapi pendiri yayasan tidak pernah akan bergeming dan mundur selangkahpun dalam menyuarakan kebenaran dan kebaikan ditengah-tengah kefasikan, kemunafikan dan kedholiman demi memerangi kebodohan dan kemiskinan sebagai musuh utama umat Islam.

 

Pendiri Yayasan Al-Kautsar sudah terbiasa dilatih oleh Almarhum K.A.Endang Sutina Iskandar dan Almarhum Siti Rohati supaya bisa hidup ditengah-tengah kesulitan seperti yang dialaminya sejak kecil, sejak anak-anak, ketika remaja,dewasa bahkan setelah bekerjapun tidak pernah luput dari cobaan,cacian,fitnah serta kerumitan yang muncul karena ulah orang lain. Namun pendiri yayasan tetap menanamkan motivasi kepada anggota Gentra Hijau supaya masuk dalam katagori ”Khoerunnas a’nfauhum lin nas”

 

Bercita-cita menjadi orang yang mampu memberi manfaat kepada orang lain tidak semudah yang diucapkan dan tidak semudah yang diteorikan, karena kenyatan hidup itu sangat rumit dan sangat pribadi, tidak semuanya bisa dipecahkan oleh teori tapi harus aplikatif dan implementatip seperti halnya bagaimana masuk rimba disaat hujan akan beda dengan masuk rimba disaat gelap atau ketika masuk rimba disaat banyak binatang buas dan berbeda pula masuk rimba disaat dingin dengan disaat panas.

 

Lahirnya organisasi Gentra Hijau mampu mengilhami pendiri yayasan al-kautsar agar bisa hidup dalam berbagai situasi dan kondisi, harus siap orang minta bantuan kepada kita,bukan kita minta bantuan pada orang lain. Orang disekeliling kita kebanyakannya bisa berpersepsi baik terhadap kita  bila kepentingannya terakomodir. Tatkala kepentingannya tidak terpenuhi yang tadinya memuji kita bisa berbalik mencaci maki kita, bahkan bisa terjadi menjebloskannya kejeruji tahanan melalui fitnah yang disebarkannya.

 

Penilaian manusia sangatlah subjektif dan sangat dipengaruhi  oleh kepentingannya, kecuali orang yang mencari keridhoan Allah SWT akan siap menjalani resiko atas perbuatannya.  Penomena didunia ini orang akan selalu melempar tanggung jawab kepada orang lain dan mencari kambing hitam bila terjadi sesuatu, jarang yang mencari solusi. Kebanyakannya sudah terpropokatori oleh setan yang mempunyai semboyan ”ana khoeru minhu” Tapi hidup dalam Gentra hijau harus dialami bukan berteori semata.

Tentang alkautsarbandung

Sekolah Islam Alkautsar Bandung
Pos ini dipublikasikan di motivasi, pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s